Kepingan Hati Seorang Tua Renta Untuk Anaknya yang Lumpuh Permanen

Polewali Mandar, fokusmetrosulbar.com - Usia senja umumnya dijalani beribadah  dengan tenang. Namun, nasib manusia memang ditakdirkan berbeda-beda. Seperti itulah yang dirasakan Kid'dong, janda berusia (80) tahun yang dengan tabah merawat anaknya Raodah (50), di tempat reot yang disebutnya rumah.

Raodah merupakan anak sulung Kiddong dari tiga bersaudara yang telah terbaring lemah sejak 20 tahun silam, lantaran menderita penyakit lumpuh.

Ibu dan anak ini tinggal di gubuk yang terbuat dari kayu. Dengan beratap daun nipa berukuran sekira 3x5 meter. Desa Salarri, Kecamatan Limboro, Polewali Mandar, Sulawesi Barat disitulah tempat mereka mengaruhi hidup, dari hari ke hari, waktu ke waktu.

Digubuknya itu, Kiddong dengan sabar merawat Raodah, sambil jualan. Hidup seadanya dengan hanya mengandalkan jualan rokok, sabun dan sampo, modalnya tak lebih dari Rp. 200 ribu. Inilah sebuah potret kehidupan yang jauh dari kata layak, lantaran kondisi mereka berdua yang serba kekurangan.

Meski waktu niscaya akan merenggut sebagian besar kekuatan wanita tua ini, namun dari niat dan langkah kaki yang giat, dia masih mampu melakukan segala sesuatu seorang diri. Mulai dari memasak, memikul air hingga mencuci pakaian. Semua masih sanggup ia lakukan.

Kehidupan Kiddong memang kian berat sepeninggal almarhum suaminya Kaman, puluhan tahun lalu. Ketika itu dirinya tengah mengandung anak ketiganya. Dalam keadaan mengandung, ia menjanda bersama kedua anaknya Raodah dan Jalal. Selang beberapa bulan kemudian, anak ketiga Kiddong pun lahir ke dunia. Namun hanya satu tahun umur bayi laki-laki yang diberi nama Rahman itu, juga kembali menghadap Sang Khalik. Keadaan demikian sungguh membuatnya terpukul, semangat hidupnya nyaris hilang dan tak memiliki tujuan apapun.

Dikisahkan Kiddong, pada masa-masa itu dia terus dirundung pilu, merenungi akan nasib. Namun seketika ia tersadar bahwa ia harus tetap tegar. Dia masih punya tanggung jawab terhadap kedua anaknya Raoda dan Jalal yang mulai beranjak remaja kala itu.

Hari demi hari pun dilaluinya bersama keluarga kecilnya hingga keduanya dewasa. Namun sekali lagi, seakan musibah tak ada habisnya. Raodah yang ketika itu telah bisa bekerja membantu perekonomiannya, pun menderita kelumpuhan.

Di gubuk inilah Kiddong sabar merawat anaknya, Raodah
Kepada jurnalis fokusmetrosulbar.com, Sabtu (4/2), Kiddong menceritakan berbagai upaya dilakukannya demi kesembuhan Raodah yang baru menderita penyakit. Dia sepenuhnya menyadari bahwa keterbasan membuatnya hanya bisa mengandalkan berobat ke dukun. Dengan demikian, usahanya untuk mengembalikan kesehatan anaknya terasa mustahil terwujud hingga saat ini.

Kini, mereka berdua hanya bisa pasrah menerima kenyataan dengan menyerahkan segala sesuatunya pada Sang Maha Kuasa.

"Totoq,u tomi iyau kapang, naq,u (mungkin ini sudah takdir saya, nak)," ucapnnya disertai senyum, meski terlihat mata wanita tua itu mulai basah dan berkaca-kaca.

Sementara anak keduanya, Jalal, kini sudah berkeluarga dan memiliki tanggung jawab sendiri. Terkadang ia memberi bantuan ibu dan kakaknya berupa makanan dan sedikit uang. Tapi patut diketahui, kehidupan jalal juga tak jauh berbeda dengan ibu dan kakaknya.

Rumah yang semestinya menjadi tempat berteduh dan beristirahat, semakin hari bertambah lapuk. Atap yang sudah tua dan berlubang. Tak ada biaya untuk memperbaikinya.

"Seperti inilah hidup kami, nak. Kalau hujan kami harus pindah dekat pintu, biar tidak terlalu basah," ucapnya.

Salah seorang tetangganya Rusman, mengaku pernah mengusulkan ke pihak desa untuk diberi bantuan bedah rumah, sekira lima tahun lalu. Namun rupanya bagai angin berlalu, hingga kini bantuan itu tak kunjung datang.

"Pernah diusul tapi waktu itu bantuan masih ditentukan dari pusat langsung," ujar pria yang juga mantan anggota BPD Desa Salarri ini.

Setiap hari dapat makan nasi dengan ikan asin dan sayur sudah sangat luarbiasa bagi mereka berdua, Raodah dan anaknya. Maka setiap ada pembagian beras miskin (raskin), wanita yang usianya hampir satu abad ini tak segan mengantri. Harga lebih murah meski kualitasnya kadang buruk, itu bukan masalah baginya.

Sekarang ini, di sisa usianya yang kian renta, dia hanya berharap ada dermawan yang bisa memberikan sedikit bantuan modal untuknya berdagang. Melihat kondisinya yang sudah tak mampu lagi bekerja keras.

Baginya, hidup merawat anaknya merupakan berkah dari Tuhan yang patut disyukuri. Nyawa setiap manusia adalah harga yang tak ternilai. (tfk/har)

BERITA LAINNYA

POLMAN 1896581520316493120

Komentar Anda

emo-but-icon

VIRAL MINGGU INI

item