Merajut Asa di Atas Gunung, Poret Pendidikan Ulumanda


Majene, fokusmetrosulbar.com- Pendidikan adalah hak segala bangsa. Demikian kutipan sepenggal kalimat dalam pembukaan UUD 1945, yang kemudian menjadi cita-cita bangsa Indonesia. Sayangnya, hingga saat ini harapan mewujudkan pendidikan untuk semua anak negeri tampaknya belum menuai hasil maksimal.

Seperti yang terjadi di dusun Taukong kecamatan Ulumanda, pendidikan yang baik, belumlah dirasakan cukup oleh masyarakat. Namun beruntunglah, kesadaran akan pendidikan mulai lahir dari segelintir orang. Ibarat pribahasa, tiada rotan akar pun jadi, demikian pilihan yang diambil sejumlah warga untuk membangun masa depan pendidikan di daerah ini.

Adalah Juhaeni dan kawan-kawan, pria kelahiran dusun Taukong yang tampak menyadari betul akan pentingnya pendidikan untuk semua. Maka dengan berbekal semangat, Juhaeni Cs sukses mendirikan sebuah sekolah swasta di kampung halamannya. Sekolah itu tengah berdiri, meski dengan seadanya, hasil swadaya mereka.

Dibangun tahun 2015 lalu, inilah potret bangunan Madrasah Aliyah DDI Taukong. Awalnya sekolah tersebut dirintis oleh beberapa tokoh masyarakat, diantaranya Usman T (alm), Abdul Rahman B, Haruna Rahman, Sirajuddin dan sejumlah tokoh masyarakat lainnya. Kini sekolah berbasis islam tersebut menampung puluhan siswa.



Ketika wartawan media ini mengunjungi sekolah ini, tampak sejumlah siswa sedang belajar. Antusias siswa terbilang luar biasa, tak peduli kondisi gedung sekolah yang jauh dari layak. Walau berdiding papan kayu dan berlantai tanah, tak membuat semangat siswa-siswi MA DDI Taukong surut. Mereka tekun belajar walau dari buku dan alat pembelajar yang tak cukup. Jangan ditanya soal panas, sudah pasti dirasakan mereka di kalah terik menyengat bumi.

Suparman, salah seorang guru sukarela yang sempat diwawancai fokusmetrosulbar.com, Kamis (2/2) mengatakan, saat ini MA DDI Taukong tengah menampung 60 orang siswa. Mereka adalah anak-anak pedalaman Ulumanda yang tak punya kesempatan merantau menuntut ilmu di luar kampung.

"Iya, semua siswanya dari Ulumanda, ada dari Paku, Kolehalang dan Taukong," terang Suparman.

Selain Suparman, saat ini MA DDI Taukong memiliki 10 guru, semuanya sukarela dan honorer. Sambil mengajar di Madrasah Aliyah, mereka juga jadi guru di MTs yang masih satu Yayasan dengan Madrasah Aliyah DDI Taukong.

Ketika ditanya soal kendala pelaksanaan program belajar mengajar, Suparman tampak mengunci di satu soal, fasilitas. Hal sama dikeluhkan Juhaeni, Kepala MA DDI Taukong ini berharap pihak terkait turut memberikan perhatian akan kemajuan sekolahnya.

"Kami tentu berharap, agar pemerintah khususnya Kementerian Agama berikan perhatian. Khususnya soal gedung sekolah yang belum layak ini," kata Juhaeni.

"Kalau bisa dibangunkan gedunglah," harap Juha.

Kendati bernaung di gedung darurat yang tak layak untuk belajar, namun siswa-siswi mereka tampak tak mempersoalkan berlebihan. Seperti Sugino, siswa MA DDI Taukong tersebut tampak percaya diri di sekolahnya.

"Tidak apa-apa, asal belajar," kata Sugino ketika ditanya soal kondisi sekolahnya. Bahwa semangat belajar tetaplah terpatri dalam diri puluhan anak-anak Ulumanda ini. Mereka menggenggap satu semangat, bahwa belajar tidak selalu di tempat yang megah nan lengkap fasilitas.

Mungkin sebagian orang, sekolah MA DDI Taukong ini bukanlah apa-apa, tapi bagi masyarakat yang kurang mampu menyekolahkan anak ke luar daerah, kehadiran sekolah yang bernaung di bawah payung DDI ini sangatlah membantu. (har)

Komentar Anda

emo-but-icon

item