Kadinkes Nurwan Katta Mengaku Heran, Gizi Buruk Tertinggi di Majene

Kadinkes Majene Nurwan Katta (kanan). (Foto: dok Arnol/ Media Ekspres)
MAJENE, FOKUSMETROSULBAR.COM-- Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN) / Bappenas mencatat Kabupaten Majene memiliki prevalensi Penderita Gizi Buruk + Berat Badan (BB/U) terbanyak di Sulawesi Barat tahun 2016.

Data tersebut bersumber dari Pemantauan Status Gizi (PSG) Kementerian Kesehatan yang dilaksanakan di 514 kabupaten / kota dan terdiri dari 34 Provinsi.

Berdasarkan rilis yang dihimpun fokusmetrosulbar.com melalui website Kemkes.go.id, dalam merumuskan status gizi, gambaran prevalensi diperoleh dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Dan hasil yang berhasil dipotret adalah prevalensi gizi kurang/kekurangan gizi (underweight) pada anak usia di bawah lima tahun (Balita) serta prevalensi pendek dan sangat pendek (stunting) pada anak usia di bawah dua tahun (Baduta).

Data Prevalensi Gizi Buruk + BB/U Sulbar 2016, Majene berada pada angka tertinggi yakni 33,6 persen, disusul Mamuju 32,6 persen, Mamuju Tengah 24,6 persen, Polewali Mandar 22,7 persen, Mamuju Utara 20,8 persen dan Mamasa 11 persen.

Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Majene Nurwan Katta mengungkapkan, bahwa dirinya baru mengetahui hal demikian. Namun menurutnya, data yang dihimpun Bappenas berbeda dengan data yang dihimpun pihaknya di lapangan.

"Kami heran karena tahun ini kami bahkan belum pernah mendapatkan masalah tentang gizi buruk terbaru. Sementara saat pelaporan ke provinsi sebelumnya, Majene memiliki kasus gizi buruk cukup sedikit dibanding kabupaten lain di Sulbar yang memiliki penduduk lebih banyak," ujar Nurwan Katta, di sela pelaksanaan lomba olahraga tahunan Dinkes Majene di GOR Majene, Senin (6/11).

Dia mengatakan, pihaknya terus mengakurasi dan memperbarui data penderita gizi buruk di wilayahnya. Ia meyakini bahwa jika data yang digunakan berdasarkan data yang dirangkum pihaknya, hasilnya akan berbeda.

"Itu adalah survei tahun 2016 Pemantau Status Gizi yang mungkin data dari posyandu dan memiliki metode tertentu. Dan penilaiannya bukan hanya pada gizi buruk saja tapi ada indikator lain yang digunakan. Karena kami juga punya data rill terbaru dari masing-masing Puskesmas," sebutnya.

Ia khawatir, jika data yang dipakai dari Posyandu tanpa pemeriksaan kesehatan lanjutan akan menghasilkan data yang cukup banyak karena tanpa pengecualian.

"Sekarang kan banyak kasus terjadi di Majene diduga gizi buruk padahal penyakit turunan seperti jantung. Dan itu yang paling banyak terdata oleh kami sebelumnya," katanya.

Ia menuturkan, sejauh ini pihaknya tengah berupaya maksimal dalam menekan terjadinya gizi buruk. Seperti mengintervensi ibu hamil untuk memberikan asupan terbaik bagi bayinya. Bahkan hingga 1000 hari pertama kehidupan.

"Karena kalau masih dalam kandungan sudah sehat, lahirnya tentu akan sehat. Dan itu ada standar tersendiri," ungkapnya. (tfk/har)

BERITA LAINNYA

MAJENE 1032703804366629800

Komentar Anda

emo-but-icon

VIRAL MINGGU INI

item