IBU

foto: ekantipur.com
Alkisah, di perkampungan terpencil jauh dari hiruk perkotaan, hiduplah seorang ibu bersama seorang anak laki-lakinya dalam derita dan kesengsaraan. Mereka berdua tinggal di rumah kecil, berlantaikan tanah dengan sebagian atap yang sudah bocor serta dinding yang juga sudah mulai lapuk.

Penulis: 
Ahmad Mandara

Aminah adalah Ibu yang sangat mencintai dan menyayangi anaknya, walau ia kadang dibentak dan hatinya tersakiti, tapi ibunya selalu percaya bahwa sebenarnya dia anak yang patuh, baik dan cerdas. Tak ada lagi yang ibunya hiraukan di dunia ini kalau bukan Herrdan, anak tunggal semata wayangnya yang masih berumur 11 tahun. Dialah satu-satunya harta yang paling berharga yang di titipkan tuhan padanya. Sebab, ayahnya telah meninggal saat ia masih duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar dulu. Dan itu terpaksa membuatnya harus putus sekolah untuk kemudian membantu ibunya mencari nafkah.

Di kampungnya, anak seusia Herrdan enggan berteman dengannya, sebab ia miskin dan di anggap kotor serta menjijikkan. Sehingga dia sering dikucilkan dan diledekin teman-teman sebayanya. Dan oleh karena itu, hampir tiap hari ia bergulat tak menerima penghinaan itu dan pada akhirnya harus menyendiri di rumah.

Hari demi hari berlalu, Herrdan semakin depresi dan stres sendiri seakan kaki dan tangannya terpasung oleh belenggu-belenggu besi, tidak ada teman lagi. Keluar untuk bermain, sama halnya siap mendengar pengolok-olokan dan penghinaan teman-teman mereka, dan sudah pasti siap bergulat lagi.

Di bawah tekanan jiwa itu, dia jadi sering marah tak terkontrol, berontak dan mengutuk hidup; kadang menyalahkan ibunya bahkan sampai komplain kepada tuhan, tidak menerima kenyataan hidup ini. Ibunya cuma bisa prihatin dan berdo'a agar anaknya di beri ketabahan dan kekuatan.

Pernah di suatu malam yang gerimis, Herrdan kembali berang dengan emosi yang meletup, bak dentuman guntur malam itu, ibunya datang merangkul untuk menenangkan tapi tangan ibunya disentak seraya berjalan ke luar rumah; di luar, ia menengadahkan wajahnya ke langit hujan dan berteriak,

"Tuhaaaan.. Mengapa ada kemiskinan, jika akhirnya dunia menganggapnya kotor!! Mengapa dunia masih terselenggara, jika empati kehidupan telah mati rasa!!!" Suaranya bergelegar di angkasa mengguncangkan penghuni langit. "Mengapa.. mengapa.. ibu?!!" tangisan nestapa Herrdan dalam pelukan ibunya yang datang menghampiri dengan air mata pula.

Setiap hari, herrdan hanya berdiam diri di rumah, tak tahu harus berbuat apa dan entah sampai kapan. Sementara ibunya bekerja mencari sesuap nasi berkeliling di kampung-kampung dan di tempat orang-orang ramai menjajakan kacang rebusnya dengan gerobak peninggalan suaminya. Ia menjadi janda separuh baya yang harus tegar mencari penghidupan untuk dirinya dan anak tercintanya. Pendapatannya tak menentu bahkan kadang biasanya hanya ada satu, dua orang saja yang beli dalam perharinya.

Pada suatu ketika, Herrdan jatuh sakit, badannya semakin hari semakin panas. Dengan diam-diam ibunya memecahkan uang tabungan hasil jualan kacang rebusnya selama ini. Untuk biaya berobat anaknya ke rumah sakit. Sudah dua hari Herrdan terbaring sakit, selama dua hari itu pula ibunya tidak mencari nafkah. Uang tabungan juga sudah mulai menipis dikarenakan biaya berobat dan kebutuhan makan setiap hari.

Saat malam mulai menggulung gelapnya, disambut suara ayam jantan berkokok, Herrdan mengigau, "Ibu, aku ingin pergi! aku ingin pergi, aku ingin pergi!" Ibunya mendegar gumam anakanya yang tak jauh disampingnya, sementara ibunya masih dalam sujud terakhir disaat shalat shubuh. Ibunya mendadak gugup dan sangat cemas sambil meneteskan air mata bercucuran diwajah teduhnya!

Selesai shalat ibunya berdo'a,  dalam rintihan tangis terisak-isak, memilukan hati, "Ya Allah ya tuhanku, penguasa langit dan bumi; engkaulah tempat aku memohon dan berlindung. Deritaku akan suramnya kehidupanku, janganlah engkau libatkan anakku; berilah ia nikmat kesehatan. Dan anugerahilah kami ketabahan hidup yang kuat, sehingga engkau takkan menemui kami sebagai orang-orang yang berputus asa dari rahmatmu. Sesungguhnya engkaulah yang maha kasih lagi maha mendengar. Amiin ya Allah."

Usai berdo'a, dan masih mengenakan mukena, ia menuju anaknya dan kemudian membaringkannya di pangkuannya. Dirasakan panasnya sudah menurun dan keadaannya mulai membaik.

Herrdan terbangun sambil batuk-batuk kecil, ia berucap dengan suara parau kepada ibunya, "Iii..bu, aaa..ku lapar!" Mendengar itu, ibunya segera mengambilkan nasi dingin di dapur (Nasi ibunya yang tidak dimakan semalam, sengaja di simpan untuk dijadikan sarapan besok pagi) lalu disuapinya tanpa lauk dan sayur. Herrdan sangat menikmatinya dalam rasa kelaparan, sementara mata ibunya berkaca-kaca menjadikan air matanya jatuh menetes tak terelakkan. "Kenapa ibu menangis? tanya Herrdan, "Ibu, sudah makan, belum?" Ibunya diam tak menjawab, hanya merangkul dan memeluknya erat-erat dalam tangis yang menyayat-nyayat hati.

Pagi datang membawa sinarnya, menerangi langkah para penyambung hidup. Berjalanlah Ibu Herrdan menuju pasar untuk membeli kacang tanah dengan sisa uang tabungannya yang hanya cukup untuk 2 kilo kacang dan 1 liter beras dan selebihnya beli ikan asin kering. Tugas ini biasanya dilakukan oleh Herrdan, tapi berhubung ia masih agak lemah terpaksa ibunya sendiri yang melakukannya dan merebus sendiri kacang itu dirumah, menggunakan tungkuan batu dari kayu terbakar.

Waktu sudah menunjukkan jam 10 pagi. Saatnya ia harus berangkat menjajakan kacang rebusnya. Dan biasanya akan pulang setelah maghrib. Tapi rejekinya hari ini tak di sangka-sangka, kacangnya ludes tak tersisa, membuatnya tidak perlu pulang maghrib. Dia sangat bahagia, ia mendorong gerobaknya pulang dengan senyum riang. Tapi setibanya di rumah (kira-kira pukul 15:30), dilihatnya Herrdan tak ada di kamar. Gurat wajah ceria seketika itu, berubah jadi kecemasan dan kepanikan yang menjadi-jadi. Tanpa sempat berehat, ia langsung beranjak mencari si buah hatinya. Semua tempat di perkampungan itu telah dijelajahi dan semua orang telah ditanyai, kemana si buah hatinya pergi. Namun pencariannya sia-sia, tak ada jawaban; tak ada orang yang tahu kemana dan dimana anaknya berada.

Hari berganti hari dan terus berlalu, Herrdan tidak juga pulang-pulang, ibunya sendiri dirundung nestapa. Ia tidak henti-hentinya mencari anaknya dan masih selalu berharap menunggu anaknya pulang. Hari-hari dilaluinya dengan kegamangan hati dan selalu terbayang wajah anak tercintanya, menyebabkannya tak bisa makan dan akhirnya ia gila. Setiap anak yang seumuran Herrdan disangkanya adalah anaknya dan tuturnya tidak terdengar selain, "anakku, kamu dimana? anakku, kamu dimana? anakku, kamu dimana?" Hanya itu-itu terus, tidak ada yang lain.

Berita akan kegilaan ibu Herrdan tersebar di seluruh kampung itu dan semua penduduk kampung yang tahu cerita hidupnya tersentuh dan meneteskan air mata.

Begitulah, Herrdan telah pergi dan tak tahu kemana. Dan ternyata igau yang dulu didengar ibunya kala itu adalah ke tak sanggupan jiwanya menerima kenyataan, kelamnya hidup dan kejamnya dunia padanya. Keadaan itulah yang menyiksa jiwanya kemudian meresap ke alam bawah sadarnya, membuatnya mengigau saat ia sakit.

Sungguh sampai hati, Herrdan meninggalkan ibunya sendirian dalam kesengsaraan hidup! Anak tak tahu belas kasihan, seorang ibu yang rela tidak makan demi anaknya, tapi telah meninggalkannya.

Sebenarnya, ketika itu, Herrdan keluar hendak membeli korek kayu; karena sebelumnya di rumah ia lapar dan ingin makan, tapi ikan belum tergoreng dan korek kayu juga tidak ada. Sebab itulah, ia keluar untuk membeli korek. Setelah di jalan, ia dilihat oleh tiga anak nakal di kampung itu, terus ia diledekin; dihina dan di perolok-olok. Herrdan yang tak bisa tinggal diam dengan semua itu, ia pun mengayunkan tangannya dengan tonjokan keras ke arah wajah anak kampung itu yang berpapasan dengannya. Namun apa daya Herrdan dikeroyok dan membuat mukanya memar dan berdarah.

Dalam keadaan tergeletak kesakitan, Herrdan ditinggalkan. Selagi belum jauh, Herrdan masih sempat bangun dan memungut batu lalu dilemparnya, salah satu diantaranya tepat mengenai pundaknya. Herrdan pun lari dan sudah pasti dikejar oleh mereka. Herrdan kelelahan, ia melihat di depannya ada mobil truk terparkir, di atasnya banyak tumpukan barang, ia pun naik lalu bersembunyi di antara tumpukan barang itu sampai ia ketiduran.

Begitu mobil berangkat, ia belum juga bangun. Dan betapa terkejutnya dia di saat tersadar, di sekelilingnya menjulang gedung-gedung tinggi dan hamparan bangunan-bangunan megah dan mewah. Tapi tak lama itu, ia dilihat oleh salah satu buruh bongkar muat mobil itu lalu ditegurnya; disangkanya pencuri, Herrdan melompat lalu lari. Ternyata mobil itu, telah membawanya sangat jauh ke kota besar. Begitulah Herrdan pergi meninggalkan ibunya.

Di kota itu, sudah 1 bulan lebih ia menderita dan setiap hari kelaparan mencari makan di warung-warung kecil di pinggiran kota dengan jasanya mencuci piring, mangkuk dan gelas-gelas kotor bekas pengunjung. Herrdan, sangat kesusahan makan untuk setiap hari, biasanya sekali! sebab, hanya sedikit saja pemilik warung yang bisa menerimanya, kebanyakan mereka mengusir karena dianggap mengaggu. Begitu juga saat Herrdan mencari tempat berteduh dan istirahat di malam hari, ia di usir sana-sini dan akhirnya menemukan tempat di sudut kota yang sepi dan aman.

Di sanalah ia berdiam diri, seakan menunggu mati, sosok ibunya teringat selalu, tapi juga rasanya berkata kuat tidak mau pulang lagi dan ingin menjadi amnesia saja tentang suramnya hidupnya di kampung. Tak ada yang bisa dia perbuat, hari-harinya cuma meringkuk termenung di sudut kota itu. Pikirannya melayang masih saja tentang kampung halamannya dan mengkhawtirkan bagaimana keadaan ibunya sekarang.

Di suatu hari, ia tak sengaja melihat di depannya sebuah tas di jalan lalu cepat diamankannya. Tas itu beirisi uang jutaan rupiah, handphone, berkas perusahaan dan surat-surat penting lainnya. Tidak berselang lama, hape itu berdering, Herrdan bingung bagaimana caranya menjawab panggilan itu. Tak berpikir lama, ia pun menggencet asal-asalan, namun tak berhasil, sementara hape itu tak henti-hentinya berdering. Tapi pada akhirnya juga, terdengarlah suara halo bernada perempuan dari hape itu. Herrdan menyahut dan memberitahukan di mana posisinya sekarang dan ibu itu akan segera menemuinya. Herrdan dapat merasakan, suara ibu itu terdengar sangat panik mengkhawatirkan berkas-berkas perusahaannya.

Herrdan menunggu hampir setengah jam lamanya, baru kemudian ibu itu datang didampingi dua orang polisi. Ibu itu tak menduga kalau tasnya berada ditangan seorang anak kecil. Ia mulai memeriksa isi tasnya, dilihatnya masih sama sedia kala. Ibu itu sangat bersyukur, dikiranya tasnya tidak akan kembali lagi ke tangannya. Kemudian kedua polisi tadi yang mengawal ibu, pergi untuk menjalankan kewajiban tugas lainnya. Lalu tinggallah berdua ibu itu dengan Herrdan dan saling bercakap-cakap.

Ibu itu adalah seorang direktur di perusahaan ternama di kota ini, Ibu Maria namanya. Ibu Maria sangat bersyukur dan berterimakasih sekaligus terharu empati mendengar tutur anak kecil si Herrdan akan kesengsaraan dan kesendiriannya di kota ini, dan mengingat kebaikan sekaligus kejujurannya, Herrdan pun dibawa ikut dengannya dan di biarkan tinggal bersamanya. Kehidupan Herrdan, saat itu juga berubah jadi kenikmatan dan kesenangan. Dengan perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, ia bisa melupakan segalanya tentang masa lalunya. Ibu Maria, sama halnya dengan suaminya, Pak Johanes, juga ikut senang dengan kehadiran anak laki-laki dirumahnya, lalu mereka sepakat mengangkatnya sebagai anak, dan di sekolahkan di SD Kristen terbaik di kota itu.

Kehidupan Herrdan menjadi cerah, ia tidak pernah lagi kelaparan dan menjadi kristen yang taat beribadah, ia benar-benar telah menjadi amnesia tentang nasibnya yang dulu. Kampung halamannya tidak diingat lagi dan yang paling merobek-robek hati dia telah melupakan ibunya yang menjadi gila karena kehilangan dia. Kini, orangtuanya hanyalah Ibu Maria dan Pak Johanes, dan kedua saudara perempuannya yang sedang kuliah di luar negeri.

16 tahun kemudian, Herrdan menjadi pemuda ganteng, sukses dan mandiri serta menjadi lulusan sarjana yang brilian di kota itu. Dan kini ia menjabat sebagai direktur utama di perusahaan terbesar dan memiliki saham dimana-mana. Jarang ia berada di kantor, kesehariannya padat dengan aktivitas meeting di hotel-hotel megah bergensi.

Di usia yang sudah dewasa itu, Herrdan, menjalin cinta yang rumit dengan gadis berjilbab, cantik dan bermata jeli, namanya Arrahma, teman kuliahnya dulu. Kekasihnya itu, dirahasiakannya sampai saat ini, ia tidak ingin Ibu Maria mengetahuinya. Sebab, Ibu Maria ingin menjodohkannya dengan kemanakannya yang juga tidak kalah cantiknya dengan kekasih Herrdan. Ia adalah dosen yang mengajar di Universitas Kristen di luar kota. Herrdan baru sekali bertemu, saat ia masih semester enam dulu, diwaktu itu, ia datang menghadiri pemakaman almarhum Bapak Johanes.

Kisah cinta Herrdan dengan Rahma dengan sedemikian rumitnya, ia juga tidak direstui oleh ayahnya, karena alasan tak seagama. Ayahnya adalah seorang ustads yang konservatif. Tapi Herrdan dan kekasihnya, masih tetap saja menjalani hubungannya itu; sejak semester awal kuliah sampai sekarang. Mencintai dan dicintai; kasih dan mengasihi, agama bukanlah penghalang yang berarti baginya. Mereka berdua sering janjian ketemuan di luar secara diam-diam, ayah Rahma tidak mengetahui, demikian pula dengan Ibu Maria. Herrdan telah berjanji akan menikahinya di waktu yang dekat ini. Itulah janji Herrdan kepadanya dan Rahma sangat bahagia mendengar itu.

Namun ada yang aneh di akhir-akhir ini, dirasakan oleh Herrdan, sesudah berucap janji menikah kepada Rahma. Di setiap tidur, ia jadi keseringan bermimpi melihat kekasihnya mengenakan baju pengantin bersama seorang nenek yang berbeda-beda setiap malamnya. Dan juga malam tadi, seperti mimpi-mimpi itu lagi, nenek yang belum terlalu tua berpakaian lusuh sedang duduk berpapasan dengan Rahma. Nenek itu terdiam tanpa kata cuma bisa meneteskan air mata, Rahma mengusapnya dengan tangan lembutnya lalu memeluknya. Herrdan sangat tersentuh, mimpinya itu menguggah rasa harunya dan menjadikan konsentrasinya terganggu di kala meeting. Karena terbawa pikiran terus, Herdaan menanyakan mimpinya itu kepada kekasihnya, namun ia juga tidak tahu siapa nenek itu. Memang sempat terlintas di kepala Herrdan tentang ibunya di kampung, tapi pikiran itu berusaha dilawan dan dilupakannya.

Pagi ini, Herrdan dengan ibunya Maria sarapan bersama, sebagaimana biasanya pembantu dirumahnya selalu menghidangkan sarapan tiap pagi, sebelum berangkat ke kantor. Sementara kedua saudara perempuannya tidak berada dirumah. Vania, dua hari yang lalu telah berangkat kembali ke luar negeri, sedangkan Lidya telah menikah dan tinggal bersama suaminya di luar kota.

Usai sarapan, Herrdan selalu pamitan terlebih dahulu kepada Ibu Maria baru kemudian berangkat ke kantor. Tapi wajah Herrdan pagi ini tidak terlihat cerah seakan ada yang mengganggu dipikirannya. Melihat itu, Ibu Maria bertanya, dan Herrdan hanya menjawab dengan beralasan tentang padatnya aktivitas kantor akhir-akhir ini sambil melangkahkan kakinya menuju pintu. Sementara di luar, Pak Ilham, sopir pribadinya dari tadi menunggunya. Herrdan sekarang sengaja mengambil sopir pribadi untuk mengantar dan menjemputnya, ia khawatir terjadi sesuatu padanya, sebab mimpi itu setiap saat terbayang dimatanya.

Di perjalanan terjadi macet di depannya, dengan terpaksa Pak Ilham berbelok arah dan mengambil jalan lain ke sudut-sudut kota. Jalan itu merupakan tempat tinggal Herrdan dulu.

Sepanjang perjalanan, Herrdan jadi teringat dan terbayang masa-masa kelamnya, saat pertama kali ia datang di kota ini. Tempat dimana ia dulu kedinginan dan kelaparan. Bayangan masa lalunya itu, semakin ia rasakan dan sampai meneteskan air mata. Dan Tidak hanya itu, amnesia yang dulu tentang ibunya di kampung, kini benar-benar teringat kembali, membuat air matanya jatuh semakin tak terbendung dan sambil mengutuk dirinya sendiri sebagai anak durhaka.

Bagaimana keadaan ibu Herrdan sekarang? Apakah beliau sudah sembuh dari gilanya ataukah justru kini ia telah tiada (meninggal)? Itulah saat ini yang ada di kepala Herrdan. Ia sangat memikirkan ibunya dan sangat ingin memeluknya. Pak Ilham, sopir pribadi Herrdan yang saat ini bersamanya, tak tahu, tentang apa Herrdan menangis. Melihat itu, Pak Ilham bingung, tapi juga tidak bertanya. Ia hanya bisa diam dan terus mengemudi. Tiba-tiba di depannya, ada seorang ibu separuh baya bersama seorang anaknya dengan bergandengan tangan hendak menyeberang jalan dan itu hampir saja Pak Ilham menabraknya. Tapi masih beruntung Pak Ilham lebih dulu melihatnya, dengan secepat mungkin setir mobil di belokkan dan direm.

Atas kejadian itu, Pak Ilham dan Herrdan turun dari mobil hendak menolong anak itu, karena terjatuh. Tapi apa yang terjadi, pandangan Herrdan melihat anak itu, yang dilihat adalah bayangan dirinya dan ibu anak itu, dilihatnya adalah ibunya sendiri. Air matanya semakin deras mengalir dan sambil berkata, "Ibu, ampuni aku oh ibu!," lalu semakin histeris, berteriak memanggil ibunya, "ibuuu.. dimana ibuku?, ampunilah aku ibu, Ibuuuu!!!!"

Tanpa berpikir lagi, dengan segera Herrdan kembali keatas mobil dan diikuti oleh pak Ilham, tapi kali ini, Herrdan sendiri yang mengemudi. Mereka berdua tidak menuju ke lokasi meeting, tapi justru berbalik arah menuju kampung halaman Herrdan.

Sesampainya di sana, tepat dihalaman rumahnya dulu, ia tak lagi melihat rumahnya, justru kini berganti bangunan pabrik gabah yang luas serta pemukiman warga yang menjadi padat disekitarnya.

Mereka berdua turun dari mobil dan kemudian Herrdan bertanya kepada salah satu buruh pabrik di situ, Herrdan menanyakan tentang ibunya yang dahulu, yang sebelumnya pernah bertempat tinggal di sini, sebelum pabrik gabah itu dibangun. Namun buruh tersebut, tidak tahu apa-apa karena dia juga adalah pendatang yang mencari penghidupan di kampung orang.

Tapi tidak lama kemudian datanglah buruh pabrik yang lain -seorang buruh sekampung Herrdan dulu tapi mereka tidak saling mengenal- lalu dia memberikan penjelasan kepada Herrdan. Ia mengatakan, "Dahulu sebelum pabrik ini dibangun, memang pernah tinggal di lokasi ini seorang ibu dan anaknya sekitar 16 tahun silam. Dan ibu itu telah menjadi gila karena kehilangan anaknya yang sangat disayanginya. Dan kami tidak tahu lagi bagaimana nasib ibu itu sekarang, terlebih lagi anaknya." Mendengar itu, Herrdan meneteskan air mata dan pergi meninggalkan tempat itu tanpa pamit. Setelah pergi, barulah buruh itu menyadari bahwa pemuda yang tadi adalah Herrdan.

Pak Ilham, sekarang tahu tentang kisah hidup Herrdan. Mereka berdua menelusuri kampung itu mencari ibunya dan bertanya ke semua orang, namun mereka tidak menemukan ibunya dan juga informasi tentang ibunya tidak ada yang mengetahui. Apakah ibunya telah meninggal? Pertanyaan itu menghantui pikiran Herrdan.

Setelah lelah menjelajahi kampung kelahirannya, dalam mencari ibunya dan informasi tentang ibunya sekarang, tapi tidak ada jawaban; semua sia-sia tak ada orang yang mengetahui. Dan akhirnya, Herrdan berputus asa dan menghentikan pencariannya. Herrdan sangat menyesali perbuatannya dan terus mengutuk dirinya yang tega meninggalkan ibunya dahulu, dan kemudian beranjak pergi meninggalkan kampung itu, kembali menuju kota yang telah membesarkannya dan sekaligus kota kesuksesannya.

Sesampainya di kota, ia sengaja melewati jalur tempat ia dahulu terdampar tak berdaya di sudut kota itu. Herrdan menghentikan mobilnya dan turun bersama pak Ilham untuk mengenang kembali kisah suramnya, tempat dimana ia kelaparan sekaligus adalah tempat pada waktu itu dimana Herrdan kecil sangat merindukan ibunya.

Melihat Herrdan melamun meratap sedih, pak Ilham membiarkannya sendiri dan meninggalkannya sejenak untuk membeli air mineral pada pedagang kaki lima yang tidak terlalu jauh darinya.

Setibanya di depan gardu penjual air mineral tersebut, pak Ilham mendengar suara di samping gardu yang terus berucap, "anakku, kamu dimana?, anakku, kamu dimana?, anakku, kamu dimana?" Pak Ilham pun langsung menengok ke samping gardu itu dan dilihatnya seorang nenek tua berpakaian lusuh compang-camping duduk sendiri dengan tatapan hampa.

Pak Ilham menanyai pedagang tersebut tentang nenek tua di samping gardunya. Ia berkata, "Nenek tua dan gila itu sudah tiga hari disini, dan aku tidak tahu dari mana asalnya, sebab, setiap kali ia berucap hanyalah tentang anaknya." Mendengar itu, pak Ilham segera menemui Herrdan dan membawanya kesana.

Sungguh, Herrdan tak menyangka dan seakan tak mampu berdiri di atas kakinya, seluruh tubuhnya seperti tak bertulang, ternyata nenek tua itu adalah ibunya. Herrdan memeluknya erat-erat dengan air mata yang menetes deras lalu bersujud di kaki ibunya, memohon maaf dan ampunan. Tapi ibunya hanya diam dengan tatapan kosong lurus ke depan. Pak Ilham pun ikut terharu sedih melihat mereka berdua, membuat matanya berkaca-kaca lalu ikut meneteskan air mata.

Herrdan masih terus memeluk ibunya dan berusaha menyadarkan dan meyakinkannya bahwa dirinya adalah anaknya, si Herrdan.

Walhasil, tatapan kosong ibunya selama ini meneteskan air mata, tapi beliau masih terdiam tanpa kata. Hanya berselang beberapa menit, barulah ibunya berucap sementara air matanya masih terus saja menetes. "Apakah benar kamu, Herrdan, anakku?" tanya ibunya, Herrdan tak menjawab pertanyaan ibunya itu, ia hanya bisa menangis dan hanya bisa memohon ampun. "Mengapa kamu meninggalkan ibu, nak?, Apa salah ibu?, Apakah ibu tidak memeliharamu?, Tidak tahukah kamu, kalau ibumu ini lebih menyayangi dirimu dari pada diri ibu sendiri? Lihatlah diriku, nak, semua orang telah menganggapku gila karena cuma selalu menyebut namamu dalam pencarianku", tanya ibunya bertalu-talu. "Ibu tidak pernah berhenti mendo'akanmu, nak, dan ibu sangat merindukanmu! Peluklah ibu, nak!"

"Ampuni aku ibu.. ibu ampuni aku.. mohon ampuni dosa-dosaku ibu," Air mata tangisan Herrdan mengalir dalam pelukan ibunya memohon maaf dan ampunan.

***
Didedikasikan kepada ibu-ibu penghuni surga terkhusus untuk kedua orangtua saya sendiri yang telah memelihara dan membesarkanku, "Ibu ampunilah dosa-dosa kami." SELAMAT HARI IBU!! (*)

Related

> 4258832349520896101

Post a Comment

emo-but-icon

Populer

item