Begini Kisah Korban Penganiayaan oleh Oknum Polisi di Sulawesi Barat

Ilustrasi

AR (15) warga Tadui, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, harus mendapatkan perawatan intensif di RS Bhayangkara Hoegeng Imam Santoso Polda Sulbar, jalan Arteri, Mamuju, sedangkan AY (15), menjalani perawatan di RSUD Mamuju.

AR dan AY, diduga dianiaya oleh seorang oknum anggota Brimob Polda Sulbar pada Minggu malam, (17/2/2019).

Menurut keterangan AR, dirinya dianiaya oleh seorang oknum anggota Brimob. "Awalnya saya salah masuk dan masuk didekat lorongnya Brimob. Kemudian na kejarkah, na dapatkah baru na dipukul ka perutku dan didorong ka sampai jatuh ka di tanah," beber AR.

Tak hanya itu saja, kata AR, setelah dipukuli, kemudiam ia dibawa ke asrama Brimob, kemudian dirinya dan AY disuruh membersihkan got dan menyapu halaman asrama Brimob.

AR, korban penganiayaan menjalani perawatan di RS Bhayangkara

"Habis na pukul kah, dibawa ka ke asrama Brimob baru na suruh ka bersihkan got sm halaman," kata AR.

"Satu malamkah disana, baru saya disuruh isap rokok. Saya bilang, saya tidak merokok," sambungnya.

Dia bercerita, dirinya mengalami penganiayaan hingga rahangnya sakit, keluar darah dari hidung serta susah jalan, sedangkan AY mengalami tulang bekakang nyeri, pipi dan betis merah bekas sapu.

"Sakit rahangku dipukul, baru keluar darah dari hidungku, susah kah juga jalan," ungkap Arif.

Arif mengatakan, dirinya akan tetap melanjutkan kasus ini sesuai hukum yang berlaku.

"Saya akan tetap lanjutkan, nda maukah damai," tutupnya.

Sementara itu, dalam keterangannya, Kasat Brimob Polda Sulbar, Kombes Pol Muhammad Anis Prasetyo, mengatakan, saat kejadian, anggota keluar dari asrama dan terhalang jalannya hingga hampir menabrak anak itu.

"Anak itu saat mengendarai kendaraannya mengambil jalur sebelah kanan tepat di jalan Arteri dan pas bersamaan anggota mau keluar hingga hampir terjadi tabrakan," kata Anis, saat konferensi pers di Aula Dit Lantas Polda Sulbar, jalan Ahmad Kirang, Mamuju, Sulbar. Senin (18/2/2019).

Dari kejadian itu, anggota kemudian menegur, namun anak itu lari hingga dikejar dan disaat itu, kendaraan yang digunakan anak itu, lampu kendaraannya tidak menyala, tanpa kaca spion dan menggunakan knalpot racing.

Anis menegaskan, selaku komandan dari Brimob, dirinya tidak akan membela ataupun melindungi anggotanya bila memang betul bersalah.

"Kita tetap akan proses bila terbukti bersalah," pungkas Anis.

Sebelumnya juga, pada Sabtu (16/2/2019), pukul 24.00 Wita, telah terjadi penganiayaan terhadap warga di Kelurahan Rimuku samping hotel Indah.

Sejumlah oknum polisi Polda Sulbar yang tengah melakukan patroli di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, diduga melakukan penganiayaan terhadap dua remaja yakni, Nawir (19), warga Sese, Simbuang, Kecamatan Simboro, Kabupaten Mamuju dan Rian (16), warga Kelurahan Rimuku.

Menurut keterangan korban Nawir yang tengah di rawat di RS Regional, kejadian tersebut berawal saat ia dan dan temannya usai bermalam minggu di Anjungan Pantai Manakarra, saat berjalan hendak pulang untuk mengambil motornya, sejumlah oknum polisi berseragam yang sedang melakukan patroli meneriakinya dengan kata-kata yang tidak pantas diucapkan.

"Saya diteriaki kata-kata yang tidak pantas. Saya tidak tahu masalahnya apa karena tiba-tiba sejumlah oknum Polisi berteriak ke saya dan temanku disaat saya akan mengambil motorku yang terparkir didepan Anjungan," ujarnya. Minggu (17/2/2019).

Nawir, korban penganiayaan dalam perawatan di RS Regional

Nawir menambahkan, tak sampai disitu, dirinya bersama temannya kemudian dipukul, ditendang dan dikeroyok bahkan ditempeleng (tampar).

"Saat diatas kendaraan, kami diapit oleh oknum polisi itu. Sebagian oknum polisi itu menggunakan motor merk kawasaki ninja dan pas di Jalan Badau Kelurahan Rimuku, depan hotel Pantai Indah, samping kantor Res Narkoba Polres Mamuju, saya dan temanku kembali dianiaya," sebutnya.

Untungnya, kata Nawir, dirinya bersama temannya sempat ditolong oleh oknum Polisi dari rekan mereka yang mengeroyoknya dan meminta agar pemukukan itu dihentikan.

"Saya ditendang di dada, kepalaku dipukul pakai helm, badanku dipukul pakai bambu oleh sejumlah oknum polisi itu dan untungnya, ada satu oknum polisi teman mereka melarang teman-temannya melanjutkan pemukulan itu. Saya dipeluk. Andaikan saya tidak ditolong pada saat itu, mungkin nyawa saya sudah tidak ada," beber nawir.

"Kemudian ada salah satu oknum polisi itu berbicara, dia bilang, salah memangko, kenapa lari," tambah Nawir.

Selanjutnta, kata Nawir, dirinya bersama temannya dibawa ke Polres Metro Mamuju untuk diinterogasi dan selanjutnya dibawa ke rumah temannya di Kelurahan Rimuku.

Dari kejadian itu, Nawir mengalami sakit dibagian dada, luka memar dibeberapa bagian tubuhnya dan sementara di rawat di RS Regional sedangkan temannya mengalami luka yang tidak cukup parah.

"Saya minta keadilan dan segera diproses hukum oknum-oknum anggota  polisi tersebut," tandasnya.

HMI Cabang Manakarra Turun Aksi

Puluhan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manakarra, menggelar aksi unjuk rasa di simpang empat jalan Ahmad Kirang Mamuju, Selasa (19/02/2019).

Dalam aksi tersebut, mereka mengecam atas tindakan represif yang diduga dilakukan oleh oknum aparat kepolisian kepada ketua Umum HMI Cabang Manakarra beberapa waktu serta penganiayan yang dialami warga oleh oknum Kepolisian.

Aksi HMI Cabang Manakarra

Koordinator lapangan Lukman mengatakan, tugas kepolisian adalah semestinya dapat memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat serta menegakkan hukum.Namun miris fakta dilapangan berkata lain.

"Baru - baru ini setelah kejadian penganiayaan pada sejumlah Mahasiswa di Balikpapan, hal serupa kembali terjadi di Kabupaten Mamuju, Ketua HMI Cabang Manakarra juga mengalami tindakan represif," tegas Lukman.

Menurutnya, tak hanya Mahasiswa, beberapa warga sipil pun kemudian ikut menjadi korban kekerasan oknum aparat kepolisian.

"Bukan hanya Mahasiswa, tetapi baru - baru ini ada beberapa orang warga Mamuju mengalami penganiayaan yang diduga dilakukan oleh oknum aparat kepolisian, sehingga ini tentu menjadi preseden buruk atas institusi kepolisian," tambah Lukman.

Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Manakarra mendesak Kapolda Sulbar untuk menindak tegas atas oknum aparat kepolisian yang melakukan tindakan represif  kepada Mahasiswa dan warga sipil.

Selain itu mendesak Kapolda agar melakukan mutasi terhadap oknum polisi yang melakukan pemukulan terhadap warga sipil di Mamuju, mengecam Kapolda Sulbar memberikan pendidikan secara khusus kepada anggotanya agar tidak melakukan tindakan kekerasan dan tindakan yang tidak beretika yang dapat mencederai institusi kepolisian.

Mendesak Kapolda Sulbar untuk memberhentikan pimpinan SABARA Polda Sulbar dari jabatannya, sebab dinilai tidak mampu memberikan pendidikan kepada anggotanya untuk mengedepankan upaya preventif saat melakukan pengamanan.

Oknum Polisi Pelaku Penganiayaan Ditahan

Kapolda Sulbar Brigjen Pol. Drs. Baharuddin Djafar M.Si, saat menemui massa aksi HMI Cabang Manakarra mengatakan, terkait persoalan ada oknum anggota yang melakukan kekerasan, itu sementara dalam proses.

"Untuk menjawab apa yang sudah kita laksanakan, tadi malam saya sudah melakukan penahanan kepada semua anggota yang terlibat termasuk yang menindak mahasiswa dan anggota Brimob yang lakukan pemukulan pada anak kecil," jelas Baharuddin Djafar didepan massa aksi. Selasa (19/2/2019).

Kapolda Sulbar, Brigjen Pol Baharuddin Djafar menemui massa aksi

Selain itu, tindak lanjutnya adalah, anggota yang terlibat akan diproses secara kode etik dan sesuai harapan adik - adik untuk segera mengambil tindakan.

"Saya akan sesegera mungkin untuk saya tanda tangani surat pemindahannya untuk tidak bertugas disini," tutup Baharuddin Djafar.

(Ayhi)

BERITA LAINNYA

MAMUJU 1207412551784806753

Komentar Anda

emo-but-icon

VIRAL MINGGU INI

item