HIKAYAT BULAN SYAWAL

Foto Ilustrasi: faisalchoir.blogspot.co.id
Setiap lebaran tiba, kisah ini selalu menebalkan rasa rindu. Sesuatu yang terenggut tanpa pernah kami duga. Sebuah kehilangan memang selalu serupa hembus angin yang tak pernah mampu diajak sejenak, meski hanya untuk selarik kepenatan yang memerlukan waktu buat mengendurkan lelah. Mungkin hikayat seperti ini, juga pernah terjadi pada siapa saja.

Oleh: Adi Arwan Alimin 
Ketua FLP Sulbar

Bagiku selorong cerita awal syawal ini ibarat kolase di dinding rumah. Tak pernah jauh, amat dekat, namun tak dapat diajak bercerita. Kehilangan ayah mungkin seperti bahtera tanpa nahkoda, yang bisa mengancam sebuah pelayaran sementara dermaga masih di balik amuk gelombang. Ini telah belasan tahun sesungguhnya, tetapi akan selalu menjadi catatan yang kelak dapat dieja anak-anak kami.

Kematian seperti bentuk yang tak akan pernah diketahui. Kehidupan manusia betapa pendeknya, seperti seorang musafir yang sementara rehat lalu tertidur di bawah pohon, bila bayangan tempat rindang itu telah melewati masanya, pergilah setiap kelana. Ajal tak pernah dapat diundur barang sedikit pun, tidak pula mampu mendahulukannya. Ia bisa datang tiada permisi, tanpa basa-basi. 

*** 

“Bapak?” panggil Mama yang telah menemani ayah sekian tahun. 
  
Tapi tak ada sahutan yang berbalas dari ruang tamu. Subuh itu masih menggigil, meski dari jauh tersisa sengau takbiran melewati speaker toa tua. Bunyi radio tape milik masjid terasa parau  . Gemanya selalu memenuhi langit, dan berkejaran dengan kokok ayam kepagian. Jamaah telah pulang ke rumah masing-masing, termasuk ayah. 

“Pak…” 

Mama mengulang panggilannya yang tak biasa. Dari dapur ia tahu bahwa pintu depan telah dibuka seseorang, dan ia yakin ayahlah yang membukanya. Namun Mama tak mendengar ucapan salam yang kerap menembus ruang paling belakang rumah ulin ayah. Ini sebenarnya tak lazim. 

Sepi kembali terbangun. Tiga ruang besar di rumah ini seperti ruas yang saling bertumpu satu sama lain. Tak ada dinding berbalut semen atau batu-bata tersusun, antar ruang dibatasi papan kayu yang ditata horizon, atau vertikal. Warnanya agak gelap umumnya kayu besi Kalimantan. Di dinding hanya ada beberapa bingkai foto. O ya, ayah kami sangat menyukai topi laken khas cowboy.
   
“Brakkk…” sebuah bunyi dentum cukup keras terdengar dari ruang tamu. 

“Paaa…” perempuan itu seketika bergegas melewati gorden lusuh yang membatasi dapur, ruang tengah dan ruang tamu. Ia ternganga begitu melihat sesosok tubuh telah terbaring di sisi kursi kayu ulin yang selama ini menjadi tempat ayah melakukan ritual membaca, berdiskusi atau menerima tetamu. Songkok hitamnya, dan sebuah kitab tergeletak di lantai. 
Lelaki berjanggut lebat itu dilihatnya tersengal sambil menekan dada kirinya. Masih ada sungging senyumnya yang gagah. Walau wajahnya tak mampu menyembunyikan sesuatu yang amat sakit. Sorot matanya yang tajam menukik amat letih.   

“Kenapaki Daeng…” 

Nada cemas segera memenuhi rumah yang berdiri di atas tepian sungai Saliki, Muara Badak. Bumi seolah berputar. Subuh itu pun bagai horor yang sangat mencekam perempuan setengah abad itu. Ia dibekap kebingungan dalam pusaran amat mencemaskan. 
Ia segera memanggil-manggil seisi rumah. Kepanikan pun tumpah, rasa tak percaya pada pemandangan subuh itu mengalir dalam wajah yang pias. Lantai papan gaduh, seolah mengiring arus deras sungai yang sejangkauan dari teras yang juga berfungsi sebagai tambatan kapal-kapal motor. 

“Maafkan saya nDi, anak-anakta…” 

Hanya kalimat itu yang terdengar dingin menyeru. Nafasnya memberat, pori-pori tubuhnya dibanjiri peluh. Saat-saat akhir itu makin dekat. 

Mama membimbing Ayah untuk mengucapkan talqin, kalimat tauhid pembuka pintu surga itu didekatkan lebih dalam ke gendang telinga lelaki yang baru saja melewati usia setengah abad. Masih ada senyum yang tersungging, tetapi ayah kian lemah saja.     

“Lailahaillalah…” 

Ayah berkomat-kamit sambil diiringi tangisan seisi rumah. Kalimat tiada tara ini menepikan segala apa yang tengah dihadapinya, sakratul maut. Wajahnya mengembangkan kebahagiaan, meski sudut matanya menyisakan bilur yang menghangat. 
Masjid di ujung desa masih mengalunkan takbiran dari kaset yang lelah, saat lelaki berambut ikal legam itu mengatupkan bibirnya. Matanya perlahan-lahan mengikuti sesuatu yang bergerak ke ubun-ubunnya. Hilang. Aroma kematian memenuhi udara pagi yang masih dingin.

“Bicaraki Daeng…, awwe aja musalaika kasi…”

Perempuan bangsawan itu seperti kehilangan belulangnya, begitu meyakini lelaki yang telah mengajaknya merantau ke Borneo telah meninggalkanya. Ia memeluknya sekali lagi di bawah tatapan wajah yang ikut menabur kepedihan. Menguncang tubuhnya.  
Tangis mulai mengganti suasana itu. Ketika pagi mulai menyingsing hutan belukar Kutai. Lelaki ini benar-benar pergi baqda subuh. Sementara perempuan dari tanah Bugis itu terus menangis di sisi suaminya. Awal pagi itu pecah, kabar kepulangan ini langsung tersebar hingga Muara Badak, Samarinda, juga Balikpapan. Pun ke Mandar. Pagi menghitam itu menabur gundah hingga kesiur angin di sisi anak Mahakam tak seperti biasanya. Sungai ini tempat ayah sering menjaring ikan tawar, ia tak pernah takut pada aligator yang kerap hilir-mudik.         

*** 

Telepon pagi-pagi itu membuat gagap. Tetangga depan rumah tempat menerima panggilan itu ikut berdiri, seolah hendak mengawasi isi pembicaraan kami. Deringnya sejak pagi buta terus terdengar, tetapi pemilik suara di seberang tak ingin menitipkan apa yang mesti dikabarkan pagi itu. Ini sungguh memuaikan rasa yang seolah sedang mengikuti bandul. 

“Ya, saya… dengan siapa?”

“Bapak dek…” telepon pagi-pagi dari Balikpapan itu membuatku bergetar. Tuan rumah pemilik telepon itu seakan telah memahami setiap air muka yang menerima arus komunikasi semacam ini. Ia melihat sembab di wajahku. 

Ngilu rasanya mendapat informasi yang sepotong, tapi telah dimengerti sebagai luka. Telepon ini datang di hari kedua Idul Fitri. Yang membuatku amat sedih, sebab pada medio Ramadhan yang baru berselang itu Akulah yang mengantarkan ayah pulang ke Balikpapan. Menemaninya sepanjang jalan dalam setiap senda gurau, atau menyimak ragam petuahnya sebagai figur paling ideal di mata kami. 

Aku hanya sanggup memastikan sebagian tanda yang semestinya dapat terbaca, tapi itu baru meruap di hari-hari selanjutnya. Bagiku kematian tetap saja rahasia. Sebab kepergiannya bukan karena ayah cukup lama dibekap sakit. Ini tentang ajal, beberapa pekan terakhir ia merasa jauh lebih sehat. Bahkan pergi sendiri ke Samarinda. 

Awal Syawal selalu menghamparkan kegembiraan, dan keriangan membuncah sekaligus merentangkan ingatan panjang. Tentang Ayah, Lelaki terbaik yang pernah ada dalam kehidupan kami. Kini ia telah lama pulang. (*)

Post a Comment

emo-but-icon

FOKUS METRO SULBAR

BERITA Populer Minggu Ini

item
close
Banner iklan disini