JEJAK LUKA

Foto Ilustrasi: chobirdokan.com
“Kapan Kakak ke rumah untuk memperjelas hubungan ini?” Sebuah tanya terdengar jelas meski bersaing dengan suara air terjun yang berjarak hanya beberapa meter dari bebatuan tempat  kami duduk berhadap-hadapan. 

“Aku tak akan pernah datang menemui orangtuamu dengan tangan kosong, Aku ingin memperjelas ikatan  rasa di antara kita tatkala pekerjaan atas dasar gelar kesarjanaanku sudah ada. Apatah lagi kita tak serumpun.Tentu tak etis. Tapi, Aku hanya ingin bertanya, mampukah engkau menungguku satu tahun dari hari ini?”

“Kalau belum dapat kerja?” Tanya Tika singkat.

“Aku akan tetap datang di batas waktu yang kutentukan.” Aku  tak mau kalah dengan pertanyaannya. Tika hanya mampu menunduk sambil merebahkan kepalanya di bahuku. Beberapa tetes air mata tembus dan menyentuh kulitku.


Oleh: Wahyudi Hamarong, S.Pd
Guru SMAN 1 Pamboang, Kab. Majene

Aku pelan mendekap tubuh perempuan itu sambil mengelus rambutnya yang tergerai sebahu. Hembusan angin pegunungan yang sepoi dan siulan burung-burung yang beterbangan di angkasa menambah suasana semakin  romantis. 

“Aku akan mengikatkan janji kita di tempat ini juga, di atas bebatuan yang besar itu. Dia akan menjadi saksi. Aku yakin batu itu akan tetap di situ dan tak mungkin bergeser lagi oleh hempasan air terjun ini, bahkan oleh banjir bandang sekalipun. Tika memandang sebuah batu besar yang kutunjukkan sambil kembali memandang lekat wajahku. Dia ingin memastikan kebenaran kata-kataku.

“Bolehkan aku mengecup keningmu sebelum kita pergi meninggalkan tempat ini? Ini pertemuan terakhir kita setelah satu tahun. Saya akan ke Bontang untuk melamar kerja sebagai guru di perusahaan minyak.” Dia hanya menunduk tak berani manatapku.

“Tapi, aku akan mengantarmu sampai kakak tak kelihatan lagi di bola mataku, boleh kan?” Tika setengah merajuk dan semakin mengeratkan pelukannya. Aku hanya mengangguk kecil mendengar permintaannya sambil sesekali mengelus rambutnya yang hitam.
Awal pertemuan dengannya di atas bus Litha & Co yang membawa mahasiswa UNM ber KKN di Enrekang. Sebuah kabupaten yang terkenal dengan gunung-gunung yang menjulang dan hawa dingin yang menusuk memaksa semua rombongan memasukkan jaket tebal dalam daftar bawaan. Aku sendiri bersisian dengan Tika tanpa mengenal satu sama lain. Rasa kantuk dan capek sepertinya menjadi aral untuk saling mengenal. Aku melirik benda melingkar di pergelanganku ketika ketua rombongan mengumumkan kalau bus sudah sampai di tempat tujuan. Pukul 20.00. Masing-masing rombongan mengemasi bawaan dan menurunkannnya dari bus. Semua barang-barangku sudah kuturunkan. Tapi ada sesuatu yang membuat aku naik kembali. Dompetku, benda itu tertinggal di atas mobil, lepas dari kantong belakang celana jeansku. Benda itu  kutemukan tapi mahkluk di sampingku masih sibuk menarik kopor di bawah jok. Tampak kopornya hanya bergerak sedikit.

“Maaf, nanti aku yang keluarkan. Bergeser saja sedikit.” Kataku agak kaku. Dia memandangku sejenak seolah ragu, tapi pada akhirnya dia menurut saja.

“Masih ada yang lain?” Tanyaku memastikan.

“Tidak ada mi, makasih ya!” Gadis itu tersenyum kecil. Di bawah lampu  temaram, Aku melihat senyum simpul untukku. Jujur senyum itu mampu menggetarkan jantungku.

Ketua rombongan mengumumkan nama desa, kordes, dan anggota setiap kelompok mahasiswa di setiap desa. Aku segera berkumpul mengikuti petunjuk pengumuman yang dibacakan. Kelompok kami sebelas orang, tiga lelaki dan delapan perempuan. Dalam kegelapan, sebuah mobil Kijang membawa kami ke Desa Kabere. Sebuah desa yang kebetulan berada di jalan poros Enrekang-Makassar. Sopir sudah menghentikan mobilnya tepat di depan rumah kepala desa. Kepala desa beserta keluarga keluar menjemput dan menyalami kami satu-satu.

Baru Aku tahu kalau gadis itu satu kelompok denganku ketika kami masing-masing memperkenalkan diri kepada kepala desa. Mata kami sempat bersitatap sekian detik dan selanjutnya bacaan hati yang bicara tentang apa yang terlitas di pikiran masing-masing. Mata perempuan ini begitu teduh, sedamai senja yang mengarak perlahan dengan hembusan semilir angin pegunungan. Ah, kenapa aku jadi tidak focus. Tapi entahlah, aku berfikir dia juga demikian. Sebab dia menunduk setelah kami bersitatap. Tapi ada teman-teman lain yang memakna tatapan kami.

Hari-hari begitu menyibukkan di lokasi. Observasi lapangan, rapat program dengan aparat desa dan tokoh masyarakat. Kami hanya sebelas orang, tiga laki-laki dan delapan mahasiswa perempuan. Tak satu pun sejurusan. Mengajar di sekolah, majelis taklim, perbaikan jalan, pemasangan identitas jalan dan seabrek lomba seni dan olahraga. Setelahnya menyusun laporan hasil kegiatan. Mahasiswa perempuan tinggal di rumah kepala desa sementara kami menempati rumah kosong yang ditinggal pemiliknya merantau ke Papua. Di sini kami biasa berdiskusi tentang program kerja, pembagian tugas, dan strategi komunikasi ke masyarakat yang lebih banyak menggunakan bahasa daerah. 

Senja yang temaram di kaki bukit ketika kami masih asyik berdiskusi tentang kegiatan satu minggu ke depan. Tika selalu hadir mengikuti rapat dan selalu duduk tak jauh dari tempatku. Membuat mataku agak bebas melongo ke dalam bola matanya yang bulat dengan alis yang menggaris lengkung alami  tanpa polesan. Dia tak banyak mengajukan pendapat, saran bahkan tak pernah mendebat pendapat rekan-rekan yang lain. Dia mengikut saja. Rapat pun usai dan teman-teman perempuan sudah beranjak ke rumah kepala desa.

“Boleh tinggal sebentar? Kita satu tugas untuk survey anak yang putus sekolah besok.” Dia hanya mengangguk sambil tersenyum kecil melihat gayaku  yang begitu kaku. Aku deg-degan. Suaraku yang keluar sepertinya bukan fon yang  biasanya.

Dia pamit. Ekor mataku menguntit tubuhnya dalam balutan  jas almamater plus jeans ketat menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya yang semampai.

“Aduh, kakiku terkilir. Aku tak bisa berdiri, Yud!”

“Boleh saya pegang ya!” Tanpa menunggu persetujuannya aku mengeluarkan sepatunya dan pelan menggerakkan kakinya yang kaku. Ada erangan tertahan di antara air mata dan peluh yang menetes. Aku keluarkan segenap pengetahuanku dari pengalaman bermain sepakbola ketika ada rekan setim cedera dulu. 

“Sudahlah, insha Allah ini akan membaik. Kita pulang saja, lagi pula data yang kita cari tinggal sedikit. Nanti aku yang lanjutkan.”

“Tapi, aku belum bisa jalan.” kata Tika sambil meringis.

Aku jadi bingung. Ini jalan setapak yang tidak ramai dilalui orang. Rumah-rumah penduduk letaknya agak berjauhan. Aku agak lama tak bereaksi sementara senja sebentar lagi menjelang disertai kegelapan.

“Bantu saja aku berdiri sambil jalan sampai ada kendaraan yang lewat!” Sela Tika sambil meringis.

Aku memapahnya pelan, merentangkan lengannya di bahuku sambil berjalan. Kami berjalan bersisian dan mengatur irama langkah agar seimbang.

“Maaf, Yud merepotkanmu.” 

“Gak, apa-apa. Malah aku khawatir tentangmu dan jangan sampai kita kemalaman.

Entahlah, kata khawatir kupungut dari mana untuk perempuan di depanku ini. Semuanya mengalir begitu saja. Ada rasa yang meletup-letup setiap saat memandang wajahnya yang oval dengan kulit wajah seperti  gadis iklan Vaselin Oil dengan sapuan bedak tipis yang tak kentara. 

Hari-hari selanjutnya kebersamaan itu kerap  hadir. Di sela program yang berjalan, di antara rutinitas yang mesti rampung, kami selalu ada waktu untuk diskusi. Mulai dari topiK-topik hangat, sampai pada diskusi-diskusi kecil tentang pribadi masing-masing. Aku mulai membuka ruang tentang kehidupan keluargaku yang sederhana sampai pada hal-hal yang berhubungan dengan  teman-teman perempuan di masa lalu. Begitu juga Tika, mulai terbuka dengan cerita yang sama, termasuk beberapa lelaki yang sempat menjalin hubungan dengannya. Tapi, satu-demi satu telah pergi dengan alasan pembenaran masing-masing.  

Kalau sudah begini rekan-rekan yang lain mulai memisah. Mereka agaknya maklum kalau dua hati sedang mempertemukan noktah kesepahaman tak tertulis. Selebihnya beranggapan kalau  KKN hanyalah  hubungan tiga bulan dan sesudahnya berakhir pada titik dan berujung nihil.

Rinai hujan sore itu mengiringi  langkah kami menyusur jalan setapak menuju posko. Aku melepas jas almamaterku dan menawarkan ke Tika yang hanya memakai kaos oblong berlengan panjang. Mendung yang semakin pekat dan titik air hujan mulai terasa menampar memaksa kami berhenti dan mencari rumah yang lebih dekat. Tapi kami  tak menemukan rumah warga karena letaknya masih sekitar satu kilometer. Kami  hanya berteduh pada  sebuah gubuk terbuka  yang di belakangnya hamparan sawah yang mulai bernas dan letaknya di pinggir jalan tempat lalu lalang kendaraan. Beberapa petani yang pulang menyapa kami  sambil berlalu.

Kami duduk bersisian. Beberapa tetes hujan masih tembus juga di sela atap rumbia yang bolong dan jatuh di wajah Tika. Dia melihatku sejenak dan  bergeser sedikit, jadinya lebih rapat ke sampingku. Dia memandangi air hujan yang jatuh di bibir atap sambil sesekali memandang jauh pada awan yang menghitam di balik puncak gunung. Aku sendiri duduk kaku tak bergerak sedikitpun. Di samping takut fitnah, aku juga lebih sibuk menata perasaanku yang tidak karuan. Berhari-hari aku menunggu momen ini, waktu untuk menyampaikan kepada Tika. Akhirnya dengan susah payah kalimat itu berhasil kurangkai di depan Tika. Aku menunggu kalimat respon darinya.  Dia hanya mengangguk,tersenyum dan menunduk. Sebuah respon tubuh yang bagiku lebih polos daripada untai kata tanpa ekspresi. Akhirnya kami jadi sepasang kekasih. 

Tubuhku terguncang ombak di atas kapal Pelni yang membawaku menuju Kalimantan. Seperti janji Tika, dia mengantarku sampai di pelabuhan. Sebuah lambaian tangan dan air mata bening mengiringi pertemuan terakhir malam itu. Buih di bawah buritan kapal membentuk alur putih panjang berkelok-kelok  seperti alur cerita kehidupan kami yang belum pasti akan berakhir di dermaga kehidupan seperti apa kelak.

Tak mudah mencari kerja di negeri orang meski dengan gelar sarjana sekalipun. Aku bersaing dengan ribuan pendaftar hanya untuk mengisi beberapa lowongan yang sangat terbatas. Alhamdulillah, Satu nama dalam pengumuman tercetak namaku. Kini membuncah harapan pada perjalanan masa depan yang akan kurangkai bersamanya seusai pertemuan di bawah luncuran air terjun Lembanna Malino.

Akhirnya aku pulang menjejak kaki di Kota Daeng tempat aku menyatukan asa setahun yang lalu. Ku susur jalan demi jalan sekedar merangkai sketsa masa lalu dalam kebersamaan. Tepat hari ini Aku akan bertemu di kamar kost  tempat Tika dulu tinggal. Lalu akan menuju ke Lembanna meneguhkan janji yang terikrar di atas bebatuan di bawah guyuran air terjun. Aku sudah membayangkannya, malah seolah nyata.  

Menunggu adalah penantian yang membosankan tapi keyakinan yang pasti tentang pertemuan mengalahkan segalanya. Aku menunggunya di sini. Dibalik pintu berdinding tripleks. Masih ada nama Tika  tertulis sekedar menegaskan kalau itu bekas kamarnya. Jarum jam yang tertempel di ruang tamu semakin bergerak. Aku sudah duduk lebih dari sejam. Tanda-tanda kehadirannya semakin bias. Dari balik ruang tengah seorang perempuan tua menemuiku dan sudah hapal wajahku karena menjadi tamu langganan di rumahnya, terutama malam minggu.

“Tika minggu lalu datang, dia titip ini untuk kita.” Selembar amplop pindah ke tanganku. Terasa ada irama jantung tak seperti biasanya. Aku pelan membukanya.
************
Buat Yudi

Sebelumnya saya mohon maaf atas ketidakhadiranku sesuai dengan janji kita setahun silam. Aku tak lupa tentang itu, tapi aku juga tak tega bertemu denganmu tepat hari pertemuan yang jatuh  hari ini. Tentu beribu tanya muncul atas segalanya.

Yud…

Maafkanlah aku……Meskipun kita saling terbuka tentang masa lalu, tapi ada satu sosok yang tak bisa benar-benar lenyap dalam lekuk kehidupanku. Dia selalu hadir bersama helaan nafasku meskipun dia sempat abai dan kamu menjadi sosok yang  sempat menggantikannya di masa lalu.

Yud…

Maafkanlah aku, kalau aku mencintaimu di masa lalu karena kemiripan wajah dan sifat yang nyaris sama dengamu. Aku mencintaimu karena menemukan dirinya dalam wujud dirimu. Persis!  Dan dia datang kembali di saat bayang-bayangmu semakin memudar di pendar jarak dan waktu.

Yud…

Ketika surat ini sudah sampai di tanganmu maka seminggu kemudian kami sudah di altar pelaminan. Maafkan aku……
Sidrap,  4 April  2002
Tika  Agustiawati
************

Jantungku seperti enggan berdenyut mengalirkan darah. Aku seperti tak mampu menyangga tubuhku sendiri. Tulang-tulangku  terasa remuk dan lepas dari engsel yang selama ini menjadi pengaitnya. Kalimat demi kalimat yang tergores seperti goresan sembilu yang menyayat-nyayat dan menguliti sekujur tubuhku. Lalu ke mana lenyapnya kasih sayang, janji, dan kesetiaan yang terajut dalam balutan asa bahkan cerita tentang mahligai setahun silam?
Pamboang,  20 Juni 2016

Post a Comment

emo-but-icon

FOKUS METRO SULBAR

BERITA Populer Minggu Ini

item
close
Banner iklan disini