Harapan Jumaati Jadi Atlet Sepak Takraw Kini Pupus Ditengah Jalan

Jumaati

Mamuju, FMS - Perjalanan panjang Jumaati (18) siswi yang kini duduk di bangku kelas III SMA Neg 2 Mamuju, juga sebagai atlet sepak takraw sempat menyabet 1 buah medali emas dari Tim Putri Mamuju pada Turnamen Pekan Olahraga Provinsi Sepak Takraw di Majene pada Desember 2018 lalu, kini harus memilih berhenti melakoni olahraga ini.

Keinginan besar putri kelahiran Mollo Desa Pati'di ini berdiri diatas sebuah podium untuk mengharumkan nama Kabupaten Mamuju Provinsi Sulawesi Barat harus berhenti lantaran kekecewaan atas kurangnya perhatian dari pemerintah.

Ati sapaan akrab pesepak takraw ini, sekilas menceritakan semangatnya untuk fokus berlatih meski dengan segala keterbatasan fasilitas.

Atlet Sepak Takraw Tim Putri Mamuju.

Dirinya menuturkan, bahwa pada awalnya saya begitu semangat untuk mengikuti latihan di Stadion Manakarra dan hampir setiap hari. Terkadang pelatih tidak datang tapi kami tetap berupaya untuk selalu fokus dalam latihan.

Kerja kerasnya cukup membuahkan hasil, saat dia dan sejumlah rekannya dari 4 nomor perwakilan Kabupaten Mamuju diantaranya, Tim, Regu, Doble Event dan Kuadran mengikuti Pekan Olahraga Provinsi Sepak Takraw di Majene pada Desember 2018 lalu.

Jumaati masuk dalam tim Putri Mamuju sempat  menyabet 1 medali emas dan dinomor lain yakni Doble Event meraih 1 perunggu,kuadran 1emas dan regu 1 emas. Hingga para atlite ini sumbangkan 3 emas dan 1 perunggu cukup menjadi pelecut bagi mereka semakin giat memantapkan persiapannya dalam rangka menghadapi turnamen selanjutnya.

Atlet Sepak Takraw Tim Putri Mamuju Bersama Pelatih.

"Pada awalnya kami ditarget untuk bisa menyumbang 2 medali emas, dan kami justru memberikan lebih. Sayangnya upaya perhatian pemerintah atas perjuangan ini hampir tidak ada,seolah pupus harapan, saya memilih untuk berhenti jadi atlite takraw," begitu Ati menuturkan.

Bukan hanya itu, pelatih sempat membangun komunikasi dengan pemerintah Kabupaten pasca turnamen itu, namun kami diberi uang pembinaan hanya Rp.1000.000 khusus di Tim Putri, itupun ada potongan untuk honor pelatih.

"Kami kasihan melihat dia bekerja tanpa honor," terangnya.

Dari hal ini, Ati memilih untuk berhenti jadi atlet sepak takraw karena menurutnya perhatian pemerintah tidak ada.

Saat mengikuti pertandingan.

"Jadi atlet sepak takraw di Mamuju itu tidak ada perhatian dari pemerintah, padahal saya juga punya keinginan besar untuk mengharumkan nama daerah kita ini," ujarnya kepada laman redaksi ini.

Semua hal itu harus mendapat dukungan penuh oleh semua pihak, mulai dari pelatih, pengurus, hingga pemerintah.Namun pasca menelan kekecewaan Ati memilih gantung sepatu .

Tiga jam lamanya berbincang dengan atlet sepak takraw ini di sebuah kedai kopi tepatnya jalan cikditiro Mamuju, sesekali terlihat diraut wajahnya senyum sumringa meski harus menelan kekecewaan karena harapannya kini putus ditengah jalan.

(Adi)

BERITA LAINNYA

MAMUJU 4800681316643157004

Komentar Anda

emo-but-icon

VIRAL MINGGU INI

item