Kisah Hanisa Pelatih Ramlah yang Berhasil Torehkan Prestasi

Mamuju, FMS-  Ajang SEA Games 2019 menjadi momen luar biasa bagi Ramlah Baharuddin (21), atlet dayung Indonesia asal Desa Bambu, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat.

Bergabung dalam tim dayung Indonesia, Ramlah berhasil menyabet dua medali emas dan dua medali perak. Dia juga menyumbangkan medali perak untuk Indonesia di cabang olahraga dayung naga putri nomor 200 meter yang beranggotakan 12 orang di ajang Asian Games 2018 lalu.

Namun, keberhasilan Ramlah sebagai atlet dayung Indonesia, tak terlepas ada sosok pelatih, yang membimbingnya selama tiga tahun, di Mamuju. Provinsi Sulbar. Dialah
Hanisa (43),

Hanisa saat ditemui di kediamannya di Lingkungan Simboro pantai, Kelurahan Simboro, Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulbar, Sabtu (13/12).

Hanisa mengisahkan awalnya ia melatih Ramlah, saat masih duduk di bangku kelas dua SMP tahun 2013. Saat itu Ramlah mengikuti Pusat Pendidikan Latihan Pelajar
(PPLP), Kejurnas tingkat Provinsi se Indonesia yang dilaksanakan di Makassar. Sulawesi Selatan , Ramlah berhasil keluar sebagai juara II dan mendapatkan perak. Tak sampai disitu, kata Hanisa selanjutnya mengikuti seleksi Pelatnas pada olahraga dayung hingga sekarang.

Ia mengaku dari 10 tim, yang seangkatan  dengan Ramlah, hanya Ramlah lah yang terlihat memiliki bakat, kemampuan  dan memiliki kedisiplinan yang tinggi, bila dibandingkan kesembilan rekannya.

" Memang dia (Ramlah) disiplin, datang lebih awal tanpa disuruh, langsung mengganti pakaian dan mengambil peralatan dayung langsung turun kelaut," kenangnya.Jumat (13/12).

Hanisa tak sendiri, ia bersama  syamsul melatih, sedangakn Herman sebagai kepala pelatih, ketiganya merupakan mantan atlet dayung Sulawesi Selatan, yang saat itu Sulbar masih dalam wilayah Sulawesi Selatan.

Soal prestasi Hanisa, jangan diragukan, pada tahun 1995 dua kali berturut-turut  mengharumkan bangsa Indonesia pada kejuaraan Asean Dragon Boat (perahu naga) khusus putri, jarak tempuh 500- 1.000 meter di Hongkong. Meraih medali emas dan perunggu. Sedangkan tahun 1995 dan 1996 juga dua kali berturut-turut meraih medali perak pada kejuaraan terbuka di Singapura, pada perlombaan Dragon Boat jarak tempu 500- 1000 meter. beregu putri.

Hanisa mengisahkan awalnya ia berkarir di atlet Dayung. Pada saat itu dipanggil mewakili Disperindak Mamuju pada
acara Hari Ulang Tahun ( HUT) Disperindak, lomba antar instansi, kejuaran lomba dayung. Dan pada saat itu Hanisa keluar sebagai juara I. Kemudian tahun 1993 mengikuti kejuaraan Pekan Olahraga Daerah ( Porda) yang laksanakan di Majene, keluar lagi sebagai juara I.

Selanjutnya, Hanisa diundang untuk mengikuti Kejuaraan Nasional ( Kejurnas) tahun 1994 yang dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan dan masuk final , walau hanya  juara 5, pada saat itu mewakili Sulawesi Selatan.

" Dari situ saya kemudian di panggil di Pelatnas di Jakarta tahun 1995," kenang Hanisa.

Ia mengaku menggeluti olahraga dayung sejak masih anak-anak, seusia anak sekolah dasar, ia tiap hari bermain perahu, yang memang tempat tinggalnya berada di pesisir pantai lingkungan Simboro Pantai, Kelurahan Simboro, Kabupaten Mamuju saat ini.

Selain medali emas dan perak sejumlah siagam penghargaan didapatkan, diantara piagam Persatuan Olahraga Dayung Seluruh Indonesia ( PODSI), sehingga mengantarkan dia lulus menjadi PNS.

" Zaman kami tidak ada yang diberikan pemerintah walaupun kita berprestasi, andaikan saya tidak jadi pegawai tidak ada. Beda sekarang pemerintah betul-betul memperhatikan para atlet," terangnya.

Lanjut Hanisa sudah dua tahun ini tak lagi menjadi pelatih atlet dayung di Mamuju, Provinsi Sulbar. Karena terkendala pendidikan yang hanya lulusan SMA.

"Saya sudah tidak melati lagi, saat seleksi pelatih kemarin ada dari Makassar namanya Yance yang lolos menggantikan saya karena dia serjana olahraga," ungkap Hanisa PNS yang bekerja di Dispora Provinsi Sulbar.

Yance merupakan mantan atlet dayung tapi tidak memiliki prestasinya di tingkat nasional, belum lagi , dia mantan atlet daying perahu roing yang saling membelakangi saat me
[13/12 14.08] Awal Mamuju: "Sedangkan yang sekarang dilatihkan kepada atlet di Sulbar itu perahu Kaya (dua mata) dan Kano ( satu mata) yang jongkok saat mendayung, jadi tidak nyambung ," ujarnya.

Lanjut Hanisa sudah dua tahun terakhir ini, atlet dayung Provinsi Sulbar tak lagi terdengar mendapat juara tiap ada perlombaan dayung yang diikutinya.

Meski tak lagi melatih, namun ia berharap pemerintah Provinsi Sulbar memperhatikan olahraga dayung dan para atlet.

"Termaksut juga pasilitas sarana olahraga dayung," harapnya.

Nurhaeda, mantan atlet dayung asal Mamuju yang perna juara I pada ajang lomba Pekan Olahraga Daerah (Porda) yang di laksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan tahun 2001 silam.

Saat mengikuti pelatihan pelatih di Polman,  yang dihadiri langsung oleh Budiman PB PODSI pusat.

" Pak Budiman sendiri mengatakan kalau atlet dari perahu Roing tidak bisa melatih atlet perahu Kano atau Kaya kalau sebaliknya atlet dari Kano dan Kaya bisa melati ke Roing," ujarnya menirukan bahasa Budiman saat seminar pelatihan pelatih seluruh cabang olahraga di Polman belum lama ini.(Awal).

Related

MAMUJU 8607445580181112472

Post a Comment

emo-but-icon

FOKUS METRO SULBAR

BERITA Populer Minggu Ini

item