Mengikat Janji, Menjaga Bumi: Peran Calon Pengantin dalam Pelestarian Lingkungan

Studi Simulasi Wujudkan Indonesia FOLU Net Sink 2030

OPINI
Oleh:
Trisno Apri Nugroho
(Ketua Yayasan Mandar Peduli Lingkungan)

Saya bersyukur bisa bertemu dan berdiskusi dengan Ketua Jaringan Petani Pendidik Pertanian Alami (JAPPPA) Sulawesi Barat, Bapak Awaluddin. Selaku praktisi, kami mengundang beliau untuk turut serta pada kegiatan aksi bersih lingkungan dalam rangka mewujudkan Indonesia FOLU Net Sink 2030 yakni mencapai tingkat emisi karbon sektor kehutanan dan lahan yang seimbang atau lebih rendah dari penyerapan karbonnya pada tahun 2030.

Diskusi kami selain membahas pengelolaan sampah menjadi pupuk serta energi terbarukan. Kami juga fokus terhadap langkah strategis terhadap penyerapan emisi karbon. Sehingga target Indonesia pada tahun 2030 bisa terwujud. Saya lihat betul, jam menunjukkan pukul 00.20, disaat itulah ide menanam pohon muncul. Tapi, bukan sekedar menanam pohon yang dilakukan dengan berbagai seremoni. Tetapi, lebih kepada mengejewantahkan konsep ekoteologi Kementerian Agama Republik Indonesia.


Pak Awaluddin melihat nilai kesakralan terhadap calon pengantin yang akan melangsungkan akad nikah. Beliau menyatakan, pernikahan yang didahului oleh bimbingan perkawinan yang di dalamnya membahas seputar membangun hubungan rumah tangga yang baik. Menurutnya, konsep ekoteologi mesti dimasukkan dalam bimbingan perkawinan. Mengikat janji tidak harus berhenti pada hubungan antar manusia, tetapi juga dapat diperluas menjadi komitmen menjaga bumi sebagai tempat berpijak bersama.


Di tengah meningkatnya isu kerusakan lingkungan, setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian alam. Calon pengantin sebagai pasangan yang akan memulai kehidupan baru dapat menjadi agen perubahan dengan memulai kebiasaan ramah lingkungan sejak awal. Langkah kecil yang dilakukan bersama akan memberikan dampak besar jika dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.


Salah satu bentuk nyata yang dapat dilakukan adalah menjadikan penanaman pohon sebagai bagian dari rangkaian pernikahan. Kegiatan ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga memiliki manfaat jangka panjang bagi lingkungan. Pohon yang ditanam dapat menjadi saksi perjalanan rumah tangga sekaligus memberikan kontribusi nyata dalam menjaga keseimbangan ekosistem.


Sebagai catatan ialah berita yang dikabarkan oleh tribunnews.com, bahwa sebanyak 3.341 pasangan menikah selama kurun waktu tahun 2025 (https://sulbar.tribunnews.com/polman/73826/3341-pasangan-menikah-di-polman-selama-2025-empat-wna-nikahi-gadis-lokal). Data tersebut jika dikonversi menjadi dua pohon, maka ada 6.682 pohon yang tertanam oleh calon pengantin. Seperti diketahui, penyerapan karbon (CO2) oleh pohon rata-rata 22 kg, maka 6.682 pohon jika tertanam akan melakukan penyerapan CO2 sebanyak 147.004 kg dalam setahun.


Peran calon pengantin juga dapat diperluas dengan melibatkan keluarga dan tamu undangan dalam aksi pelestarian lingkungan. Misalnya dengan memberikan bibit tanaman sebagai suvenir pernikahan atau mengajak tamu untuk ikut serta dalam kegiatan penanaman pohon. Dengan demikian, pesan menjaga lingkungan dapat tersebar lebih luas dan memberikan dampak yang lebih signifikan.


Lebih dari sekadar seremoni, komitmen menjaga lingkungan dapat dilanjutkan dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari. Mulai dari memilah sampah, menghemat penggunaan air dan listrik, hingga mendukung produk-produk ramah lingkungan. Kebiasaan ini jika dilakukan bersama akan memperkuat nilai tanggung jawab dan kepedulian dalam keluarga.


Kesadaran lingkungan yang dibangun sejak awal pernikahan juga akan memberikan contoh positif bagi generasi berikutnya. Anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang peduli lingkungan cenderung memiliki kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya menjaga alam. Dengan demikian, peran calon pengantin tidak hanya berdampak pada masa kini, tetapi juga masa depan.


Pada akhirnya, mengikat janji pernikahan dapat menjadi momentum untuk memperluas makna cinta, tidak hanya kepada pasangan, tetapi juga kepada bumi. Dengan menjadikan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari perjalanan rumah tangga, calon pengantin telah berkontribusi dalam menciptakan masa depan yang lebih baik. Sebab, cinta sejati bukan hanya tentang kebersamaan, tetapi juga tentang menjaga kehidupan yang lebih luas. (*)

Related

POLMAN 4420414483573233651

Post a Comment

emo-but-icon

FOKUS METRO SULBAR

BERITA Populer Minggu Ini

item