LOGISTIK DARAH: NUSANTARA ORIGINAL

Ilustrasi.
Gema Dari Dunia Bawah
(Alamat Terakhir Para Pengkhianat)

Cerpen
Oleh: A-06

Ma’at bekerja sebagai kurir paket di sebuah perusahaan ekspedisi nasional.

Setiap hari ia mengendarai motornya dari satu alamat ke alamat lain. Rumah, ruko, kantor, bangunan yang bahkan tidak pernah ia pikirkan isinya.

Bagi Ma’at, pekerjaan itu tidak pernah rumit.
Ambil paket. Antar ke tujuan. Selesai.
Tidak lebih dari itu.

Siang itu panas seperti biasa.

Macet seperti biasa.

Orang-orang juga terlihat seperti biasa, sibuk, marah, terburu-buru, pengendara tolol, tapi tetap melanjutkan hidup tanpa banyak pertanyaan.

Sampai malam datang.

Dan seperti biasa juga, Ma’at berhenti di sudut jalan terminal.

Mesinnya dimatikan.

Dunia langsung terasa lebih pelan.

Asap rokoknya naik pelan ke udara.

Ma’at tidak langsung bergerak.

Ia duduk diam di atas motor, seperti sedang menunggu sesuatu yang tidak pernah ia undang, tapi selalu datang di waktu yang sama.

Di kepalanya, ada hal-hal yang tidak bisa berhenti muncul.

Tentang proyek-proyek yang selesai di atas kertas, tapi tidak pernah terasa di lapangan.
Tentang jalan yang baru diperbaiki, tapi retaknya sudah muncul lagi.

Tentang nama-nama besar yang sering muncul di berita, bicara soal rakyat, tapi jarang benar-benar terlihat di tempat rakyat itu tinggal.

Tentang dapur-dapur dan bangunan merah putih yang seolah tiba-tiba muncul layaknya 'dungeon' di anime. 

Ma’at tidak marah setiap waktu.

Tapi ada hari-hari tertentu... 
semua itu terasa terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Seperti ada sesuatu yang sengaja dibiarkan berjalan, meskipun semua orang tahu hasilnya tidak benar.

Ia menghela napas pelan.

Ia tidak ingin pulang dulu. Tapi juga tidak mau tinggal.

Dan di saat itu, sesuatu yang tidak pernah ia jelaskan ke siapa pun mulai terasa muncul lagi.

Bukan mimpi.

Bukan khayalan.

Tapi seperti dunia lain yang selalu menunggu di belakang kesunyian.

****
Nusantara Original

Di sana, tidak ada penjara. Tidak ada ruang tunggu bagi keadilan. Tidak ada waktu yang bisa dibeli.

Yang ada hanyalah satu prinsip:
Segala yang merusak, harus dikembalikan. Sampai tuntas.

Di hamparan tanah tandus, para pengkhianat bekerja tanpa suara. Palu menghantam batu. Nafas berat. Tulang yang mulai retak.

Suara logam bertemu batu terdengar berulang, ritmis, seperti sesuatu yang lebih tua dari sekadar hukuman, seperti ritual yang sudah ada sebelum manusia mengenal kata belas kasihan.

Salah satu dari mereka berhenti sejenak, menatap tangannya yang pecah-pecah.
“Aku dulu tanda tangan proyek ini… tanpa pernah turun ke sini,” gumamnya pelan.

Ia menatap lebih lama. 

Di sela-sela luka yang menganga, ia tidak lagi melihat darah.

Ia melihat angka.

​Jutaan digit yang dulu ia anggap tak berwujud, kini menjelma jadi belatung hitam yang menggerogoti sarafnya. Setiap hantaman palu bukan lagi menghancurkan batu, tapi sedang menagih nyawa yang dulu ia uangkan.

Di sampingnya, seorang lain menjawab tanpa menoleh, “Sekarang kita bangun dengan tangan sendiri. Adil.”

Tidak ada teriakan. Tidak ada pengawasan kasar.
Karena mereka tahu, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa bersembunyi.

Kebenaran di dunia ini tidak dicari.

Ia muncul.
Langsung dari dalam diri.
Tanpa bisa ditolak. 
Tanpa bisa dimanipulasi.
Dan dari situlah hukum jatuh.

“Kerja adalah pengembalian,” suara itu hadir tanpa sumber.
Bukan perintah.

Ketetapan.

Suara itu tidak keras, tidak juga lembut. Tapi setelah terdengar, tidak ada yang bisa mengabaikannya, seolah ia tidak masuk melalui telinga, melainkan langsung tertanam di kesadaran.

Setiap keringat adalah cicilan.
Setiap rasa sakit adalah penyeimbang.

Seorang narapidana berbisik lirih, hampir seperti doa, “Berapa lama… sampai lunas?”

Tidak ada jawaban.

Angin yang lewat pun tidak membawa apa-apa, seolah pertanyaan itu tidak pernah diucapkan.
Karena ia sendiri tahu, pertanyaan itu tidak lagi relevan.

Sampai suatu titik… tubuh berhenti menjadi alat.

*
Di sisi kompleks itu berdiri sebuah bangunan putih. Bersih. Sunyi. Tidak ada jeritan. Tidak ada drama.

Putihnya bukan menenangkan. Justru terlalu bersih, seolah semua jejak dosa telah dihapus paksa.

Hanya satu fungsi:

Mengakhiri apa yang tidak lagi bisa diperbaiki.

Seorang pria tua dibawa masuk. Tangannya gemetar. Bukan karena takut, tapi karena tubuhnya sudah selesai. Ia pernah mengambil dari rakyat. Banyak. Dan kini, ia tidak lagi mampu mengembalikan apa pun.

Ia menatap tangannya sendiri, tangan yang dulu menandatangani keputusan.

Untuk sesaat, ia seperti melihat wajah-wajah yang tidak pernah ia temui. Wajah-wajah yang dulu hanya berupa angka.

**
Di Nusantara Original, keadilan tidak pernah 'dibuat'. Ia hanya diantar ke tempat yang seharusnya.

Dan di setiap pengantaran yang tidak boleh meleset itu, selalu ada satu titik pusat yang memastikan tidak ada paket yang salah alamat.

Mereka menyebutnya: Kurir Utama.

Ia adalah 'pengantar terakhir' dari setiap bentuk kesalahan.
**

Di depan sebuah gerbang bangunan putih, Ma'at melihat Sang Kurir Utama sedang berdiri menatap seorang terpidana tua. 

Di sana, seorang Penasihat, sosok yang mewakili logika dunia lama, mendekat dengan raut ragu.

"Apakah ini harus berakhir begini?" tanya si Penasihat, suaranya gemetar. "Bagaimana jika sistem ini salah diagnosis? Bagaimana jika dia hanya korban dari data yang keliru? Membunuh tanpa jalan balik adalah risiko yang terlalu besar untuk sebuah kemanusiaan."

Sang Kurir Utama menoleh pelan. Matanya setenang telaga, tapi tajam seperti mata elang.

"Kemanusiaan siapa yang sedang kau bicarakan?" tanya Kurir Utama dingin. 

"Kemanusiaan satu orang pengkhianat yang sudah kenyang memakan hak jutaan orang? Ataukah kemanusiaan jutaan orang yang mati perlahan dalam kemiskinan karena dana mereka dicuri?"

"Tapi prosedur..." si Penasihat mencoba memotong.

"Prosedur di duniamu hanyalah labirin untuk membiarkan tikus-tikus besar lolos," balas Kurir Utama. "Di sini, keadilan tidak butuh prosedur yang berbelit. Ia hanya butuh Ketetapan. Kamu takut pada 'kesalahan sistem', tapi kamu diam melihat 'kesalahan realita' yang membunuh rakyat setiap hari. Di Nusantara Original, lebih baik sistem mengambil satu nyawa yang sudah tak berguna bagi sesama, daripada membiarkan satu parasit menghancurkan seluruh inang."

Si Penasihat terdiam. "Itu otoritarianisme yang efisien."

"Bukan," jawab Kurir Utama sambil melangkah masuk. 

"Ini adalah Operasi Besar. Kita tidak menyebut dokter kejam saat dia membedah kanker. Kita menyebutnya penyelamat. Sekarang, biarkan keseimbangan bekerja."

Tidak ada yang menjawab.

Bahkan udara terasa berhenti sejenak, seolah dunia lama kehilangan bahasa untuk menanggapi dunia yang tidak lagi membutuhkan pembelaan.

*

Pria tua itu menatap mereka berdua sejenak.
Lalu ia melangkah masuk.

Tanpa dipaksa.

Saat melewati pintu, ia berbisik pelan,
“Jadi… ini akhirnya?”

Petugas di sampingnya menjawab singkat, tenang, “Ini penyelesaian.”

Di dalam ruangan itu, tidak ada hakim.
Tidak ada doa panjang.
Tidak ada negosiasi.
Hanya satu meja.
Satu alat.
Satu keputusan yang sudah final sejak niat buruknya tercatat.

Petugas medis berdiri tenang.
Bukan algojo.

Pelaksana keseimbangan.

Jarum diangkat.
Tidak tergesa. 
Tidak ragu.
Ruangan itu begitu sunyi sampai suara napas terakhir bisa terdengar seperti sesuatu yang seharusnya tidak pernah ada.

Pria itu menatap lurus ke depan. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, tidak ada yang bisa ia sembunyikan. Bahkan, dari dirinya sendiri.

Ia tahu.
Semua tahu.
Ini bukan hukuman. Ini akhir dari utang yang tak lagi bisa dibayar.

Dengan suara yang hampir tak terdengar, ia berkata, “Aku mengerti.”

Jarum menembus kulit. Cairan itu mengalir masuk, tenang, pasti, tanpa emosi.
Beberapa detik.
Detik yang terasa lebih panjang dari seluruh hidupnya.
Nafas terhenti.
Tubuh diam.
Selesai.

Petugas medis menurunkan alatnya perlahan.
“Pengembalian selesai.”

Tidak ada tepuk tangan.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada yang perlu diingat.
Karena di Nusantara Original,
keadilan tidak butuh penonton.

*

Di pusat semua ini, Sang Kurir Utama tidak duduk di singgasana. Ia berdiri di dalam hukum itu sendiri.

Seorang ajudan pernah bertanya, suaranya tertahan, “Bagaimana jika… suatu hari Tuan salah?”

Sang Kurir Utama menatap lurus ke depan.
“Pertanyaan itu tidak berlaku di sini.”

Jika satu niat kotor muncul, bahkan sebesar debu, proses yang sama menunggunya.
Tanpa pengecualian.
Dan ia tidak melawan.

"Di sini, keadilan tidak butuh banyak langkah. Hanya ketetapan," tegas Sang Kurir Utama.

Karena di negeri itu, yang memerintah bukan manusia, melainkan kebenaran yang tidak bisa ditawar.

*

Tidak ada suara dari luar yang menggugat.
Bukan karena dunia tidak melihat.
Bukan karena mereka tidak tahu.
Tapi karena tidak ada yang bisa mereka sangkal.

Dalam sebuah forum internasional, seorang perwakilan asing mencoba berbicara, “Ini melanggar prinsip kemanusiaan—”
Kalimatnya terhenti. Bukan karena dipotong.
Tapi karena ia sendiri tidak bisa melanjutkan.

Seolah kata-kata yang ia bawa tidak lagi memiliki arti di hadapan sesuatu yang tidak bisa dibohongi.

Beberapa negara pernah mencoba bersuara, membawa istilah lama tentang “hak” dan “kemanusiaan”.

Mereka berhenti bukan setelah dibantah.
Tapi setelah menyadari satu hal:
tidak ada celah untuk menyerang sistem yang tidak bisa berbohong.

Dan bagi mereka yang tetap memaksa memahami Nusantara Original dengan logika lama… 
jawaban itu datang tanpa debat.
Cepat.
Tepat.
Mengakhiri sebelum sempat menjadi ancaman.

Sejak itu, dunia memilih diam.
Bukan karena tunduk.
Tapi karena akhirnya mengerti:
ada tatanan yang tidak bisa diganggu tanpa menghancurkan diri sendiri.

__________________

Suara knalpot memecah segalanya. 

Ma'at tersentak. Dunia kembali berisik. Layar ponselnya menampilkan koruptor yang tersenyum saat mendapat potongan hukuman karena "berkelakuan baik".

Ia mendengus pelan, “Berkelakuan baik… setelah mencuri nyawa orang.”

Ia meludah ke aspal. 

“Di sini… bahkan rasa bersalah pun bisa disewa,” gumamnya.

Ma'at terdiam sejenak.

“Kalau itu benar… berarti dunia ini selama ini salah,” bisiknya pelan.

Ia menyalakan mesin. Dan saat roda mulai berputar, satu bayangan tetap tinggal di kepalanya:
Bukan terik matahari.
Bukan kerja paksa.
Tapi ruangan putih itu.
Sunyi. Bersih. Pasti.
Tempat di mana pengkhianatan benar-benar berakhir tanpa sisa.

“Kalau itu benar-benar ada…” bisiknya sambil menarik gas, “aku tidak akan ragu.”

Malam menelannya kembali.

Dan di antara gelap jalanan, satu keyakinan tumbuh diam-diam:
Dunia seperti itu mungkin belum ada…
tapi bukan berarti tidak seharusnya ada.

Related

POLMAN 2649496573315311853

Post a Comment

emo-but-icon

FOKUS METRO SULBAR

BERITA Populer Minggu Ini

item