TRAKTOR DI JALAN RAYA

Ilustrasi

A-06

Bagian dari semesta
Logistik Darah: Nusantara Original


Namanya
Aurelia Prabasari.
Nama yang terdengar seperti penghargaan.
Seperti sesuatu yang pantas ditempatkan di podium, bukan di ruang sidang.

Kulitnya putih, terlalu bersih untuk kota yang kotor.

Rambutnya jatuh rapi, seperti tidak pernah disentuh angin jalanan.

Setiap langkahnya terukur—bukan karena disiplin, tapi karena terbiasa dilihat.

Orang-orang memanggilnya: Bu Jaksa.

Bukan karena hormat.
Karena itu prosedur.

Pagi itu, seorang kurir berdiri di depan pagar rumahnya.

Sudah tiga kali bel.

Tidak ada jawaban.

Padahal di dalam, Aurelia sedang duduk santai, menatap layar ponsel sambil tersenyum kecil.

Ia tahu ada orang di luar.
Ia hanya… menikmati jeda.

Bel keempat.
Baru ia bangkit.
Langkahnya pelan.
Seolah dunia harus menyesuaikan ritmenya.

Ia membuka pintu sedikit.
“Kenapa lama?” tanyanya datar.

Kurir itu berkedip, menahan sesuatu di tenggorokan.
“Maaf, Bu. Dari tadi—”

“Resinya mana?”
Transaksi selesai.

Selalu ada satu masalah kecil.

“Di aplikasi segini, kenapa kamu minta lebih?”

Nada yang sama.
Setiap hari.

Seolah-olah dunia selalu mencoba menipunya.
Padahal yang ia lakukan hanyalah memastikan:
semua orang di bawahnya tetap merasa kecil.

Kurir itu pergi.
Tanpa protes.
Tanpa marah.
Hanya sedikit menunduk.

Aurelia menutup pagar.
Ia tidak sadar bahwa cara pandang kurir itu tadi bukan hormat.

Itu… penilaian.

Di kantornya, ia duduk di kursi empuk.
Pendingin ruangan terlalu dingin.
Berkas-berkas menumpuk di mejanya.

Kasus korupsi.

Angka-angka besar.

Nama-nama besar.

Ia membaca sekilas.
Tidak sampai paham.

Tidak perlu.

Ada tim di bawahnya.
Ada nama ayahnya di belakangnya.

“Bu, ini ada kejanggalan di aliran dana,” kata seorang staf muda.

Aurelia tidak langsung menjawab.
Ia menatap layar laptopnya.
Lalu menutup berkas itu pelan.

“Kamu terlalu banyak mikir.”

Kasus itu ditutup.
Dengan rapi.
Seperti tidak pernah ada yang salah.

Hari itu, hujan turun.
Di jalan raya, sebuah traktor melintas pelan.

Bukan di sawah.

Di aspal.
Roda besarnya berputar berat, meninggalkan lumpur yang tebal.

Mobil-mobil di belakangnya membunyikan klakson.

Kesal.

Tertahan.
Jalan jadi kotor.

Macet.

Rusak.

Di balik kaca mobil yang dingin, Aurelia melihat sebuah traktor tua.
Catnya pudar. Hampir tidak punya warna.

Suaranya bahkan masih terdengar menembus hujan.

Kasar. Berat.

Aurelia mengernyit.
“Norak.”

Traktor itu tetap berjalan.
Berat.
Salah tempat.

Beberapa hari setelah hujan itu.
Ia menonton sebuah video yang sedang viral.

Sepuluh detik.

Buram.

Suara jepret.

Jeritan.

Ia menonton sampai habis.
Lalu mengulang.

Untuk pertama kalinya, wajahnya tidak tenang.
Bukan karena takut.

Karena… terganggu.

“Ma’at,” bisiknya pelan.

Nama itu terasa aneh di lidahnya.
Tidak seperti nama-nama pejabat yang biasa ia sebut.

Nama itu tidak minta izin untuk ada.

Keesokan harinya, sebuah berkas masuk ke mejanya.

Kasus baru.

Lebih besar.

Lebih kotor.

Lebih… dekat.

Ia membuka halaman pertama.
Tangannya berhenti.
Nama itu muncul.

Salah satu orang dalam daftar…
adalah orang yang membiayai kariernya.

Ruangan mendadak terasa sempit.

AC tetap dingin.
Tapi napasnya berat.

Di luar jendela, hujan mulai turun.
Suara mesin berat terdengar lagi.

Ia menoleh.

Traktor.
Bukan yang dulu ia lihat.
Tapi tetap sama—berat, salah tempat.

Masih di jalan raya.
Masih berjalan pelan.
Masih meninggalkan lumpur.

Ponselnya bergetar.

Notifikasi baru.
Video lain.
Bukan sepuluh detik.

Lebih lama.
Lebih jelas.

Seseorang diseret.

Tidak ada teriakan.

Tidak ada drama.

Hanya… penyelesaian.

Di bagian akhir video, ada satu frame.
Sangat singkat.
Tapi cukup.

Siluet seseorang berdiri di depan gedung putih.

Diam.

Menunggu.

Aurelia menutup layar.
Tangannya gemetar untuk pertama kalinya.

“Ini tidak benar…” bisiknya.

Tapi kalimat itu tidak punya tenaga.
Tidak punya dasar.
Karena di dalam dirinya…

ia tahu.

Selama ini, yang tidak benar…
adalah dirinya.

Ia menatap berkas di depannya.

Nama-nama itu.

Uang itu.

Jejak itu.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya,
ia tidak tahu harus menutupnya… atau menyerahkannya.

Di luar, hujan berhenti.
Jalan raya penuh lumpur.

Traktor itu akhirnya berhenti.
Bukan karena selesai.

Karena tidak seharusnya ada di sana.

Di dalam ruangan dingin itu,
Aurelia duduk diam.

Untuk pertama kalinya…

ia merasa tidak istimewa.

Tidak pintar.

Tidak aman.

Hanya satu hal yang tersisa:
Kesadaran yang datang terlalu terlambat.

Bahwa jika dunia dalam video itu benar…
maka orang seperti dia
bukan bagian dari sistem.

Tapi bagian dari sesuatu yang harus diselesaikan.


____
Arc Utama
LOGISTIK DARAH : NUSANTARA ORIGINAL

Spin-off

Related

POLMAN 3295182910577052804

Post a Comment

emo-but-icon

FOKUS METRO SULBAR

BERITA Populer Minggu Ini

item