SISA YANG DIMAKAN ANJING

Ilustrasi.
Cerpen Oleh: A-06

Bagian dari semesta
"Logistik Darah: Nusantara Original"


Rian sudah tahu dari awal kalau dirinya bukan orang baik.
Bukan jahat juga.

Cuma… gampang lapar.

Pagi itu, notifikasi di ponselnya bunyi bertubi-tubi.

Bukan orderan.

Tagihan.

Pinjol A: jatuh tempo hari ini.
Pinjol B: denda berjalan.
Pinjol C: ancaman sebar data.

Ia mengusap wajahnya yang berminyak, lalu tertawa kecil.

“Kerja buat makan, makan buat bayar utang, bayar utang buat… ngutang lagi.”

Lingkaran yang tidak pernah benar-benar berhenti.

Di samping kasurnya, layar ponsel lain masih menyala.

Aplikasi judol belum ditutup sejak semalam.
Saldo: 12.000

Ia menatap angka itu lama.
Lalu menekan spin sekali lagi.

Kalah.

Rian mendengus pelan.

“Anjing.”

Siang itu, video itu muncul.
Buram. Goyang.
Tapi jelas.

Suara jepret itu—
JEPRET!

Jeritan.
Darah.

Dan seorang kurir yang berdiri tanpa ekspresi.

“Ma’at pecah…”

Grup chat meledak.
Status WhatsApp penuh.
Semua orang tiba-tiba punya nyali.

Rian ikut.
Bukan karena berani.
Tapi karena… semua orang ikut.

Ia menyalakan motor, bergabung dengan arus jaket kusam yang keluar dari gudang.

Suara knalpot mereka seperti lebah yang marah.
Untuk pertama kalinya, Rian merasa bagian dari sesuatu.

Bukan cuma kurir.

Bukan cuma nomor resi.

Tapi… massa.

Saat Ma’at berhenti dan berbalik, Rian ada di barisan tengah.

Ia dengar setiap kata hinaan itu.

“Sampah.”

Aneh.
Harusnya dia marah.
Tapi yang ia rasakan malah… tertusuk.

Karena di satu titik kecil di dalam dirinya,
ia tahu itu benar.
Tapi ia tetap diam.
Tetap ikut.

Karena lebih enak jadi bagian dari gerombolan
daripada berdiri sendirian dengan pikiran sendiri.

Semua berubah saat truk itu datang.
Pintu terbuka.
Bukan gas air mata.
Bukan peluru.

Nasi bungkus.

Hangat.
Uapnya naik pelan, membawa bau yang lebih kuat dari semua amarah yang tadi berkumpul.

Di belakangnya, amplop cokelat dibagikan seperti bonus akhir tahun.

“Tambahan insentif.”

“Perhatian dari pemerintah.”

“Tenang saja, semua akan diperbaiki.”
Suara-suara itu lembut.

Tidak seperti teriakan di jalan tadi.
Lebih berbahaya.

Rian turun dari motor.
Langkahnya pelan.

Di kepalanya, dua suara berantem.

“Jangan.”

“Ambil.”

Ia lihat sekeliling.
Teman-temannya yang tadi teriak paling keras…
sudah pegang nasi.

Sudah duduk.
Sudah makan.

Seolah-olah tidak ada apa-apa yang terjadi beberapa jam lalu.

Seolah-olah video itu cuma hiburan.

Rian berhenti di depan meja pembagian.

Tangannya sedikit gemetar.

Bukan karena takut.

Karena… dia tahu ini salah.

Dan dia tetap mau ambil.
Petugas itu tersenyum.
Senyum yang terlalu profesional untuk orang yang tahu apa yang sedang dia lakukan.

“Ambil, Mas. Rezeki.”

Rian menatap nasi itu.

Hangat.
Utuh.
Nyata.

Lebih nyata dari keadilan.

Lebih nyata dari Ma’at.

Lebih nyata dari semua teriakan tadi.

Tangannya bergerak.
Mengambil.

Ia duduk di pinggir trotoar.
Membuka bungkusnya.

Nasi putih.
Telur balado.
Sedikit mie.

Sederhana.
Tapi cukup.

Rian makan pelan.

Suara di kepalanya berhenti.

Tidak ada lagi Ma’at.
Tidak ada lagi sistem.
Tidak ada lagi benar atau salah.

Cuma lapar.
Dan makanan.

Di seberang jalan, layar besar gedung berita menampilkan wajah pejabat yang tersenyum.

“Situasi terkendali.”

“Tidak ada gejolak berarti.”

Rian tidak melihat ke sana.
Ia fokus ke makanannya.

Satu suap.
Dua suap.

Sampai habis.

Sore menjelang malam.
Motor-motor mulai bubar.
Orang-orang pulang dengan perut lebih tenang
dan kepala lebih kosong.

Rian juga.

Ia menyalakan motornya, kembali ke kamar kosnya yang sempit dan lembap.

Tidak ada yang berubah.

Pinjol masih ada.
Judol masih ada.
Hidup masih sama.

Malam itu, ia berbaring di kasurnya.
Lampu dimatikan.
Kipas angin berdecit pelan.

Untuk beberapa saat… semuanya terasa normal.
Seperti hari-hari sebelumnya.

Lalu, ponselnya bergetar.

Satu notifikasi masuk.
Bukan dari pinjol.
Bukan dari aplikasi judol.

Tanpa nama pengirim.
Tanpa nomor.

Hanya satu kalimat:
“Resi sedang diproses.”

Rian menatap layar itu lama.

Lalu… mengunci ponselnya.

Membalikkan badan.

Menutup mata.

Tidak ada yang terjadi.

Hanya saja, malam itu…
ia tidak bisa tidur nyenyak.


____
Baca: LOGISTIK DARAH : NUSANTARA ORIGINAL

Related

POLMAN 6435377845291109754

Post a Comment

emo-but-icon

FOKUS METRO SULBAR

BERITA Populer Minggu Ini

item