Pasien Meninggal Dunia, Puskesmas Sendana Nyaris Diamuk Massa

Polisi berjaga di Puskesmas Sendana

Majene, FMS - Tak terima dengan pelayanan di Puskesmas Sendana hingga membuat pasien atas nama Arham (28), warga Lingkungan Apoleang Selatan, Kelurahan Mosso Dhua, Kecamatan Sendana Kabupaten Majene, Sulbar, meninggal dunia. Warga yang berjumlah puluhan itu kemudian mendatangi Puskesmas Sendana.

Kedatangan mereka ingin menuntut pelayanan yang ada di puskesmas tersebut.

Dari keterangan Kapolsek Sendana AKP Achmad Syarif Tola, S menceritakan kronologisnya, awalnya pasien Arham mengeluh sakit pada bagian perut, nyeri ulu hati dan sesak nafas dan dibawah ke Puskesmas Sendana pada pukul 15.30 Wita.

Sesampainya di puskesmas, oleh dokter dilakukan pemeriksaan (anamnese) dengan cara melakukan pengukuran tingkat kesadaran, tensi, nadi dan pernapasan serta mengajukan beberapa pertanyaan kepada pasien tentang riwayat penyakit dan keluhan pasien.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, dokter menyimpulkan bahwa dari anamnesis dan pemfis itu pasien GCS 15, tanda tanda vital normal, nyeri tekan uluhati tidak ada kelainan pada pemeriksaan fisik lainnya.

"Hasil diagnosis, dispepsia, keluhan utama, nyeri ulu hati sejak hari ini, pasien merasa sesak, mual muntah tidak ada, rasa pahit di mulut tidak ada,  demam (-) batuk (-), nyeri dada tidak ada. BAB hitam tidak ada," ucapnya, Senin (8/4/2029).

Kemudian, lanjutnya, riwayat penyakit dan keluhan beberapa hari sebelum ke puskesmas tidak ada, BAK lancar, BAB biasa.

Setelah dokter melakukan pemeriksaan, dengan keyakinan, pasien dibolehkan pulang dan diberi obat untuk dua hari dan apabila belum ada perubahan agar kembali ke  Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan.

Sesampainya di rumah pasien, pada pukul 18.30 Wita, pasien Arham tak sadarkan diri dan oleh pihak keluarganya bernama Darman (52), kembali membawa pasien ke puskesmas.

"Menurut dokter nadi pasien lemah dan tekanan darah tidak terukur, kemudian dipasangkan oksigen via sunkup. Dilakukan Resusitasi jantung paru 5 siklus, lalu kembali dicek nadi karotis, tidak teraba, cek pupil, midriasis total, lalu dinyatakan meninggal dunia oleh Dokter," sambungnya.

Achmad Syarif menambahkan, saat pasien dibawa oleh keluarganya ke Puskesmas Sendana, dokter sementara melaksanakan sholat magrib dan salah satu dari keluarga korban menggedor-gedor rumah dinas dokter sambil berteriak-teriak dengan melontarkan kata-kata ke dokter 'Bertanggung jawabki dokter' atas meninggalnya Arham.

"Atas,kejadian itu, pihak keluarga pasien tidak menerima baik pelayanan dan penanganan medis yang dilakukan oleh dokter Puskesmas Sendana," sebutnya.

"Situasi aman dan terkendali," tutupnya.

Demi menjaga situasi tetap aman, pihak kepolisian kemudian melakuan pendekatan persuasif dan memberikan pemahaman kepada pihak keluarga almahrum serta berjaga-jaga disekitar puskesmas.

(Muh. Irham)

BERITA LAINNYA

MAJENE 6432278869108936658

Komentar Anda

  1. Sya dari keluarga pasien, meminta agar berita yg kita muat diklarifikasi ulang, karna berita yg kita muat ini, tidak sesuai dengan realiata. Jadi kami mohon, sebelum memuat berita,agar diperjelas dulu. Supaya berita yg kita muat tida terkesan hoax

    ReplyDelete
  2. Mohon maaf rekan2 pers,,saya sebagai keluarga almarhum, saya rasa info ini perlu diklarifikasi. Bahwa pernyataan yang termuat dalam berita ini, sama sekali berbanding terbalik dengan realita yang terjadi. Bahwa beberapa tindakan yg dilakukan pihak PKM Sendana menurut pernyataan diatas, sama sekali tidak dilakukan oleh pihak PKM, justru salah satu dari keluarga pasien, yang juga sebagai tenaga medis di Kec. Tapalang, yang sibuk menyiapkan dan memfasilitasi pasien karena dari pihak PKM kurang sigap dalam masalah pelayanan. Jadi kami minta pda rekan2 pers, agar betul2 menjajaki informasi sebelum dimuat. Karna sama saja ini sebagai tindakan menebar hoax. Terima kasih

    ReplyDelete
  3. sebelum membuat berita,agar diperjelas dulu,jangan asal memuat berita yang sama sekali berbeda dengan kenyataannya

    ReplyDelete

emo-but-icon

VIRAL MINGGU INI

item