Betulkah AJI Mandar Terbunuh?


Sudirman Samual

Ketua AJI Mandar Periode 2014-2017


Oleh : Sudirman Samual
Ketua AJI Mandar Periode 2014-2017

Terhenyak saya membaca sebuah tulisan pada rubrik opini di salah satu media online. Judulnya, IJS "Bunuh 2 Kakaknya" yang ditulis Sarman Shd. Namun, saya belum bisa mengunyah maksud tulisan itu lebih halus lagi. Sebab mulut masih berkonsentrasi mengunyah biji demi biji bakso di salah satu warung selepas magrib kemarin.

Tak selang lama, sejumlah grup whatsapp yang isinya sejumlah wartawan mulai memberikan notifikasi. Tulisan yang sama ternyata dimuat beberapa media online yang semuanya berbasis di daerah ini.

Selepas membayar, saya bergegas pulang ke rumah. Saya ingin membaca tulisan ini lebih khusyuk lagi. Ingin mencerna dan memahami dengan baik apa maksud tulisan yang dibuat salah satu rekan wartawan ini.

Jujur, menghindari pretensi berlebihan, saya membaca tulisan ini kata per kata lebih dari dua kali. Berulang membacanya, saya akhirnya menarik satu kesimpulan. Si penulis ingin memberikan kritik pada lembaga pers tempatnya bernaung.

Namun sangat disayangkan, pada pembuka tulisan itu Sarman pun menyebutkan lembaga lain. Lembaga tempat saya bernaung. Bernama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Mandar.

Ia memang menyeretnya sedari awal, sejak.menulis judul. 2 kakak yang disebut terbunuh salah satunya adalah AJI Mandar. Satunya lagi, tempatnya bernaung. Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulbar.

Saya tentu tidak punya wewenang apa-apa untuk menanggapi sentilan-sentilan terhadap PWI. Itu bukan ranah saya. Begitu pun dengan tulisan yang menyebut organisasi lainnya.  Saya fokus pada hujaman terhadap AJI. Judulnya saja sudah cukup menohok AJI Mandar. AJI Mandar dianggap telah terbunuh, telah mati, oleh organisasi lain.

Tapi, saya sama sekali tidak mendapat jawaban dari tulisan itu, terbunuh seperti apa yang Ia maksudkan? Tulisan itu sangat tanggung, karena menyeret AJI sejak pada judul hingga pengantar, namun membahas masalah lain pada inti tulisan.

Mungkin saja karena dua organisasi yang dianggap sebagai kakak adalah organisasi yang telah lebih dulu berdiri, dan saat ini merupakan konstituen Dewan Pers.

Jelas, pembandingnya sangat tidak apple to apple. Membandingkan organisasi yang berdiri secara nasional dan telah menjadi konstituen Dewan Pers dengan organisasi yang berbasis lokal di wilayah Sulbar.

Kemudian, jika dikatakan terbunuh maka dasar analisa apa yang menjadi ukurannya? Apa karena tidak terlihat aktif melakukan kegiatan? Tidak bergerombol dalam sebuah konferensi pers? Atau seperti apa? Bahkan dalam tulisannya ada kata "melempem".

Saya ingin menyampaikan, bahwa AJI punya "rule of the game" sendiri. Sehingga tidak bisa dibandingkan dengan organisasi-organisasi lain. 

Bukan berarti kami anti kritik, tapi kalau yang berhubungan dengan internal maka cukup kami sebagai anggota yang melakukan evaluasi. Nanti pada saat AJI atau anggota-anggotanya bekerja atau melakukan kegiatan yang berhubungan dengan publik maka publik juga ikut melakukan evaluasi.

Kasarnya, urusan internal merupakan kewenangan internal anggota. Dinamika internal AJI akan dievaluasi berdasarkan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) serta keputusan organisasi.

Sehingga, sekali lagi sangat jelas bahwa sangat subjektif tulisan itu. Sehingga wajar saja bila beberapa anggota AJI meminta penjelasan atas tulisan dimaksud.

(*)

BERITA LAINNYA

MAMUJU 3984780241359618995

Komentar Anda

emo-but-icon

VIRAL MINGGU INI

item