Tangkal Radikalisme Masuk Kampus, Begini Materi Dandim Majene



Komandan Kodim 1401 Majene - Letkol Inf Ragung Ismail Akbar tengah memberikan materi Tangkap Radikalisme Masuk Kampus. foto : Ist

Majene, FMS
-- Dialog kebangsaan bertajuk, menangkal gerakan radikalisme masuk kampus yang diselenggarakan pimpinan wilayah Gerakan Ansor Sulbar, menghadirkan Dandim Majene, Letkol Inf Ragung Ismail S Sos MI Pol sebagai pembicara.

Selain Dandim Majene, hadir Kapolres Majene, AKPB Asri Efendy SIK, Ketua PW Ansor Sulbar Sudirman Az SPdi MPdi, Ketua Jurusan Ilmu Politik Unsulbar Muhammad SIP MSI, dan dimoderatori Wahyuni S Sos.

Kegiatan dilaksanakan, Jumat 30 Agustus 2019, di salah satu cafe di Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Labuang Utara, Kecamatan Banggae Timur, Majene turut dihadiri oleh mahasiswa berbagi perguruan tinggi, kader IPNU dan Gerakan Pemuda Ansor Cabang Majene.

Menurut Ketua Ansor Provinsu Sulbar, Sudirman AZ SPdi MPdi, paham radikalisme sangat berbahaya, sehingga perlu upaya menghilangkan pengaruh-pengaruh paham radikal, termasuk di kampus. Karena paham radikal sangat membahayakan keutuhan NKRI.

“Komitmen untuk menciptakan suasana pendidikan bebas radikalisme menjadi tanggung jawab bersama, tidak hanya dunia pendidikan, tapi seluruh komponen masyarakat dan kepemudaan,” katanya.

Kesempatan sama, Dandim 1401/Majene, Letkol Inf Ragung Ismail S Sos MI Pol sebagai salah satu pembicara, meminta agar mewaspadai radikal kiri, radikal kanan dan radikal lainnya.

Mantan Danyon 721 Makkasau ini mengurai, radikalisme kanan adalah radikalisme yang berlatar belakang agama, atau dalam bahasa yang lebih spesifik biasa dijuluki terorisme.

“Militansinya cenderung dibangun berdasarkan pemahaman yang keliru terhadap ajaran agama. Radikalisme kanan ini ada dalam semua ajaran agama samawi,” ungkapnya.

Sedang radikalisme kiri, kata Dandim Majene, adalah radikalisme yang dibangun berdasar kesamaan ideologi bernegara. Ideologi yang paling kuat tertuduh disini adalah ideologi komunis atau PKI. Di Indonesia sendiri PKI tercatat tiga kali (1926,1948, dan 1965) berusaha melakukan kudeta kepada NKRI.

“Radikal lainnya, separatisme gerakan untuk mendapatkan kedaulatan dan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Gerakannya bertujuan untuk memisahkan diri atau mendirikan negara sendiri,” punkas Dandim Majene.

(***)

BERITA LAINNYA

MAJENE 4129496771508810655

Komentar Anda

emo-but-icon

VIRAL MINGGU INI

item