KELUAR TANPA PINTU

A-06

Bagian dari semesta
"Logistik Darah: Nusantara Original"


Ilustrasi.
P
intu penjara itu terbuka tanpa upacara.

Tidak ada musik.
Tidak ada pelukan.
Tidak ada permintaan maaf.

Hanya bunyi besi yang bergeser pelan, seperti sesuatu yang terlalu sering dipakai untuk menelan orang.

Arman melangkah keluar dengan baju yang sama saat ia masuk tiga bulan lalu—hanya lebih longgar, lebih kusam, dan lebih asing di tubuhnya sendiri.

Guru SMP.
Dulu.

Sekarang, namanya lebih sering disebut dengan suara pelan.

Predator.
Cabul.
Guru bejat.

Ia dibebaskan karena tidak cukup bukti.
Bukan karena orang percaya ia tidak bersalah.

Di dunia seperti ini, bebas dan bersih adalah dua hal yang berbeda.

Arman masuk penjara bukan karena ia menyentuh muridnya.
Tapi karena ia menyentuh ketakutan orang-orang yang salah.


Istrinya, Lestari, bekerja di bagian audit kredit sebuah bank daerah.
Bukan jabatan besar.
Bukan orang penting.

Hanya perempuan yang terlalu percaya bahwa angka masih bisa menyelamatkan manusia.

Ia menemukan sesuatu yang seharusnya tidak ia lihat.

Kredit fiktif.
Perusahaan kosong.
Rekening-rekening yang terlalu rapi untuk disebut kesalahan.

Uang negara mengalir ke lubang yang sengaja dibuat.

Ia bicara.

Bukan ke wartawan.
Bukan ke polisi.

Hanya ke orang yang salah.

Besok sore, saat pulang kerja, seseorang menyiramkan air keras ke wajahnya.

Bukan untuk membunuh.

Untuk menandai.

Pesannya sederhana:

diam.

Wajah Lestari rusak bukan karena kecelakaan.
Karena ia pernah percaya kebenaran cukup untuk melindungi orang baik.

Arman tidak diam.

Ia marah.
Ia melapor.
Ia mendatangi kantor polisi, bahkan kantor bank tempat istrinya bekerja.

Ia masih percaya sistem bisa malu.

Sistem tidak malu.

Seminggu kemudian, seorang wali murid menangis di kantor polisi.
Seorang siswi dipanggil.
Sebuah berita kecil naik di media lokal.

Guru SMP diduga melakukan pelecehan terhadap murid.

Tidak perlu bukti yang kuat.
Cukup bisik-bisik.
Cukup satu grup WhatsApp orang tua murid.
Cukup rasa takut yang diberi arah.

Dan... selesai.

Nama baiknya mati lebih dulu sebelum vonis datang.


Langit sore mendung.
Ia berdiri sebentar di depan gerbang tahanan, seperti orang yang lupa cara pulang.

Ponselnya dikembalikan.
Kosong.

Tidak ada pesan dari sekolah.
Tidak ada dari rekan kerja.
Tidak ada dari orang tua murid yang dulu setiap pagi menyapanya dengan hormat.

Hanya satu pesan dari istrinya.

“Aku tunggu di rumah.”

Arman menatap kalimat itu lama.

Rumah.

Kata yang terasa terlalu jauh.

Motor ojek yang ia tumpangi melewati jalan-jalan yang dulu akrab.

Warung kopi tempat guru-guru biasa singgah.

Toko alat tulis tempat ia membeli spidol papan tulis.

Gerbang sekolah yang kini terlihat seperti pagar rumah orang lain.

Ia melihat beberapa murid pulang.

Salah satu dari mereka mengenalinya.

Mata itu membesar.

Lalu cepat-cepat menunduk.

Tidak menyapa.

Arman mengalihkan pandangan ke jalan.

Ada rasa yang lebih menyakitkan daripada marah.

Yaitu ketika orang takut padamu untuk sesuatu yang tidak pernah kau lakukan.

Rumahnya masih berdiri.

Cat tembok mulai kusam.
Pagar sedikit berkarat.

Tidak ada yang berubah.

Lestari membuka pintu.

Wajahnya masih menyimpan bekas luka bakar yang tidak pernah benar-benar sembuh.
Kulit di sisi kiri pipinya mengeras, seperti lilin yang pernah meleleh lalu dipaksa membeku.

Ia tidak menangis.

Arman juga tidak.

Mereka hanya saling melihat seperti dua orang yang sama-sama selamat dari kapal karam, tapi tidak tahu bagaimana cara berenang kembali ke darat.

“Masuk,” katanya pelan.

Di ruang tamu, anak mereka duduk di lantai.

Nizam.
Sembilan tahun.

Masih memakai seragam sekolah.

Ia menatap ayahnya seperti menatap seseorang yang pernah sangat dikenal, lalu mendadak menjadi berita televisi.

“Ayah…”

Hanya itu.

Arman berlutut di depannya.

Tangannya ingin memeluk, tapi ragu.

Takut bahkan anaknya sendiri ikut merasa jijik.

“Ayah pulang.”

Nizam mengangguk kecil.

“Di sekolah… mereka bilang Ayah orang jahat.”

Kalimat itu tidak keras.
Tapi cukup untuk menghancurkan sesuatu yang masih tersisa di dalam dada Arman.

Ia tersenyum kecil.
Senyum yang tidak sampai ke mana-mana.

“Ayah tidak jahat.”

Anak itu menatapnya lama.

“Kalau Ayah tidak jahat… kenapa semua orang menjauh?”

Arman tidak menjawab.

Karena beberapa pertanyaan memang tidak dibuat untuk dijawab.

Malam turun pelan.

Televisi menyala tanpa benar-benar ditonton.

Berita nasional berbicara tentang stabilitas.
Tentang pertumbuhan.
Tentang negara yang baik-baik saja.

Di meja makan, hanya ada nasi, telur dadar, dan diam yang terlalu besar.

Lestari akhirnya bicara.

“Ada orang datang tadi siang.”

Arman mengangkat kepala.
Ia berhenti mengunyah.

“Siapa?”

“Tidak bilang nama.”

“Ngapain?”

Lestari menatap gelas airnya.

“Cuma bilang… beberapa orang sebaiknya belajar menerima takdir.”

Sunyi.

Arman tahu kalimat seperti itu tidak pernah datang sendirian.

Ia berdiri.
Memeriksa pintu.
Jendela.
Gembok pagar.

Semua terkunci.

Tetap tidak terasa aman.

Jam sebelas malam.

Nizam sudah tidur.

Arman duduk sendiri di ruang tamu dengan lampu redup.

Tangannya memegang secangkir teh yang sudah dingin.

Ia mendengar sesuatu.

Bukan ketukan.

Bukan langkah.

Seseorang sedang bersiul.

Pelan.

Terlalu tenang untuk jam seperti ini.

Arman berdiri.

Nada siulan itu datang dari depan rumah.

Ia membuka tirai sedikit.

Seorang pria berdiri di bawah lampu jalan.

Baju abu-abu.
Rapi.
Tangan di saku.

Wajahnya tenang.

Seperti pegawai kantor yang tersesat pulang terlalu malam.

Pria itu mendongak.

Tatapan mereka bertemu.

Lalu… ia tersenyum.

Bukan senyum ramah.

Senyum seseorang yang sedang memastikan alamat.

Arman mundur satu langkah.

Jantungnya berdetak terlalu keras.

Lestari muncul dari belakang.

“Siapa?”

Arman menjawab tanpa menoleh.

“Masuk kamar. Kunci pintu.”

“Mas—”

“Sekarang.”

Suara itu membuat Lestari diam.

Ia pergi.

Pria abu-abu di luar masih bersiul.

Pelan.

Sabar.

Seperti orang yang tahu waktu selalu berpihak padanya.

Lalu listrik padam.

Gelap.

Total.

Dan untuk beberapa detik, dunia berhenti bernapas.

Tetangga mendengar suara pecahan kaca.

Lalu teriakan.

Lalu sesuatu yang berat jatuh.

Lalu sunyi.

Hujan turun tidak lama setelah itu.

Membantu membersihkan halaman.

Pagi harinya, orang-orang berkumpul.

Polisi datang.
Garis kuning dipasang.

Wajah-wajah prihatin bermunculan seperti jadwal rutin.

“Kasihan…”

“Satu keluarga itu tidak kuat menahan malu rupanya…”

“Memang berat kalau sudah begitu…”

Di dalam rumah, televisi masih menyala.

Berita pagi berkata:

“Situasi nasional terpantau stabil."

"Indeks kebahagiaan warga meningkat tajam bulan ini.”

Dua jenazah ditemukan.

Di meja ruang tamu, ada secarik kertas tulisan tangan Arman:

Maaf.

Arman.
Lestari.
Dinyatakan bunuh diri.

Kasus ditutup cepat.
Rapi.
Bersih.

Seperti tidak pernah ada apa-apa.

Di sudut ruang tetangga, Nizam duduk diam.
Selimut menutupi bahunya.

Matanya kosong.

Ia...
tidak menangis.

Semalam, ia melihat semuanya dari celah lemari.
Ia melihat pria abu-abu itu.

Ia melihat ayahnya berusaha berdiri.

Ia melihat ibunya tidak sempat berteriak.

Ia melihat pria itu merapikan kerah bajunya…
yang sebenarnya sudah rapi.

Dan sebelum pergi—
pria itu menoleh ke arah lemari.
Ke arah tempatnya bersembunyi.

Lalu tersenyum.

Dan bersiul lagi.

Ia sengaja membiarkannya hidup.

Bukan karena belas kasihan.
Tapi karena beberapa pesan lebih kuat jika dibiarkan tumbuh sendiri.

Di luar rumah, matahari naik seperti biasa.

Orang-orang tetap berangkat kerja.

Anak-anak tetap pergi sekolah.

Negara tetap baik-baik saja.

Dan seorang anak kecil belajar,
bahwa kadang…

yang dibunuh bukan tubuh.

Tapi nama.

____
Arc Utama
LOGISTIK DARAH: NUSANTARA ORIGINAL

Spin-off






Related

POLMAN 2399847719263106265

Post a Comment

emo-but-icon

FOKUS METRO SULBAR

BERITA Populer Minggu Ini

item