TEMPEST: ETALASE KACA DAN HARAPAN YANG BUSUK
https://www.fokusmetrosulbar.com/2026/05/tempest-etalase-kaca-dan-harapan-yang.html
Bagian dari semesta
"Logistik Darah: Nusantara Original"
A-06
![]() |
| Ilustrasi. |
Konter ini kecil. Kotak kayu dengan kaca kusam, sidik jari berminyak menempel tak hilang.
Di sini, topeng tidak bertahan lama.
Janus duduk di balik kaca itu.
Yang datang bukan lagi wajah. Hanya angka.
Di bawah lampu neon yang berdesing, ia melihat Ibu Ratna. Tangannya gemetar saat mengeluarkan lembaran sepuluh ribu yang sudah lecek dan lembap karena keringat.
"Isi pulsa lima ribu saja, Nak. Mau telepon anakku di rantau."
Janus tidak bertanya.
Nomor itu dipanggil empat kali sejak pagi.
Dia butuh.
Lalu ada Si Pemuda. Matanya merah, tidak pernah menatap Janus. Dia tidak beli kuota untuk belajar atau bekerja.
"Top-up, Mas. Dua ratus ribu," ucapnya pendek.
Uang itu bukan miliknya.
Diambil dari bawah bantal ibunya.
Janus menekan tombol Enter.
"Klik".
Sesuatu dikencangkan… pelan.
Saldo di layar HP-nya kembali nol.
Dan angka itu diam.
Pemuda itu tertawa kecil. Tertawa yang tidak sampai menjadi suara penuh.
Hidup di depan etalase tidak selalu soal darah dan air mata.
Kadang ada Pak Haji yang berdiri bingung selama sepuluh menit hanya untuk menatap mesin ATM di pojok konter.
"Nak, kenapa ini mesin tidak mau keluar uangnya?"
"Pin-nya sudah benar, Pak?" tanya Janus.
"Pin apa itu? Saya cuma tekan tanggal lahir cucu saya."
Di sana, salah dan tidak tahu berdiri berdampingan.
Yang satu hancur di layar. Yang satu tersesat di depannya.
Semua lewat.
Bapak-bapak dengan rahasia murah.
Anak sekolah dengan mimpi seharga skin.
Tidak ada yang berhenti.
Orang bilang konter pulsa.
Janus melihat orang datang… lalu pelan-pelan habis.
Di balik kaca, alasan mereka berbeda.
Angkanya sama.
Tidak ada yang ikut kenyang.
Selama ada kaca, dia merasa aman.
Sampai ia ingat: kaca tidak selalu bertahan.
Ketika itu pecah, lumpur dan kemiskinan yang marah masuk—menelan siapa saja di dalamnya.
Termasuk dirinya.
FREKUENSI YANG BOCOR
Janus menyalakan sebatang rokok, asapnya tertahan di balik etalase, menciptakan kabut tipis yang membungkus wajahnya.
Matanya tetap tertuju pada jalan raya di depan konter.
Jalanan menangkap semua suara. Tidak pernah menyimpannya.
"Kak Janus! Gantengnya kalau lagi bengong begitu!"
Suara melengking itu datang dari sekumpulan anak SMA yang baru pulang sekolah.
Mereka lewat sambil tertawa-tawa, seragamnya rapi, wangi parfum supermarket tercium sampai ke meja Janus.
Janus hanya mengangguk.
Mereka memanggil. Lalu lewat.
Tak lama setelah tawa mereka menjauh, sebuah motor bebek tua dengan knalpot yang bocor melambat saat melewati polisi tidur di depan Tempest.
Di atasnya, sepasang suami istri duduk berdempetan.
"...ndak ada jalan lain, Pak. Kalau cuma berharap dari sawah, kita tidak bisa bayar itu utang bank," suara si istri terdengar di sela deru mesin.
Pas tepat di depan etalase Janus, motor itu tersentak karena lubang jalan. Suara si suami meninggi. "Tapi siapa yang jaga anak-anak kalau kau ke luar negeri? Kau pikir jadi TKW gampang?!"
Motor itu lewat.
Kalimatnya tertinggal... setengah.
Si istri terdiam, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang kaku.
Saat motor itu kembali melaju, suara mereka mengecil, sampai akhirnya hilang ditelan tikungan.
Mereka lewat tanpa berhenti.
Lalu, hening yang aneh tiba-tiba datang.
Hening itu robek oleh deru mesin yang halus namun bertenaga.
Sebuah mobil hitam mewah melintas pelan.
Kaca gelapnya memantulkan jalan.
Sekilas—warna abu-abu bergerak di dalam.
Janus tidak tahu siapa di dalamnya.
Tidak perlu.
Mobil itu lewat tanpa suara.
Hanya angin yang tertinggal.
Debu jalanan beterbangan, lalu menempel di kaca etalasenya.
Janus mengambil kain lap kusam.
Ia membersihkan kaca itu perlahan.
Menghapus jejak si mobil mewah dari kacanya sampai bersih.
Janus melihat bayangan mobil itu menjauh di ujung jalan.
Ia berdeham.
Meludah ke aspal.
Cuih!.
Janus kembali duduk.
Meraih rokok yang sudah mendingin, membiarkan dunianya kembali sunyi.
SETORAN TERAKHIR
Ma'at datang saat hujan baru saja reda, menyisakan bau aspal basah yang tajam.
Dia masuk ke Tempest dengan jaket kuning yang sudah pudar warnanya, membawa tas pinggang yang tampak berat—penuh dengan tumpukan uang kertas ribuan dan lima ribuan yang sudah kumal.
Uang COD.
Dari balik etalase, Janus hanya mengangguk tipis. Ia kenal Ma'at.
"Setor lagi, At?" tanya Janus sambil jarinya menari di atas keyboard.
Ma'at mengeluarkan tumpukan uang itu.
"Iya, Nus. Berat. Capek. Banyak yang bayar pakai uang receh, ada juga yang marah-marah karena paketnya telat."
Janus mulai menghitung. Lembar demi lembar.
Di mata Janus, uang itu bukan cuma alat tukar. Dia melihat kuman, aroma minyak goreng dari warung, dan duka dari pemilik aslinya.
Di antara tumpukan uang setoran Ma'at, ada satu lembar sepuluh ribu dengan noda darah kering di pojoknya.
Ma'at tidak sadar, tapi mata Janus yang tajam menangkapnya.
"Tadi ada Ibu-ibu nangis pas terima paketnya," Ma'at bercerita.
"Isinya sepatu sekolah. Dia bayar pakai tabungan koinnya."
Janus berhenti.
Matanya tetap di monitor.
Tapi bukan di sana.
Jari kelingkingnya mengetuk keyboard dua kali, lalu menyodorkan selembar struk kecil ke atas etalase.
Ma'at menerimanya lalu memakai helm.
"Semoga dunia masih utuh besok pagi, Nus."
Janus tidak menjawab. Matanya tidak berpindah.
Di monitor, hanya ada satu baris tulisan: TRANSAKSI BERHASIL.
API DI BALIK KACA
Hujan hari ini seperti tidak punya niat untuk berhenti.
Sejak subuh, langit hanya memberikan warna abu-abu yang mati.
Air mengalir pelan di depan Tempest, membawa plastik bekas dan daun kering.
Janus duduk diam.
Konter sepi.
Hanya suara hujan di atap seng, beradu dengan kipas angin komputernya yang berdesing pelan.
Pelanggan bisa dihitung jari, itu pun hanya mereka yang terpaksa keluar karena kuota habis di tengah bosan.
Sampai akhirnya, seorang pria masuk dengan napas memburu.
Bajunya basah kuyup, tapi matanya menyala-nyala seperti orang kesurupan.
Dia menunjukkan layar HP-nya yang masih menampilkan animasi koin emas yang berjatuhan.
"Tarik, Nus! Tarik semua! Jackpot!" teriaknya parau. tangannya gemetar hebat.
Di layar itu: Tiga puluh juta rupiah.
Uang yang baru saja dimuntahkan mesin—dari terlalu banyak orang lain.
Janus memprosesnya dengan tenang.
Tanpa selamat, tanpa senyum.
Dia mengeluarkan tumpukan uang dari brankas kecilnya. Merah. Tiga ratus lembar uang seratus ribu yang masih kaku.
Pria itu menyambar uangnya seperti hewan lapar. Dia tertawa lepas, tawa yang terdengar mengerikan di tengah sunyinya hujan.
Kemudian, dia mencabut sepuluh lembar—satu juta rupiah—dan melemparkannya ke atas etalase kaca Janus.
"Ini buat kau, Nus! Beli rokok! Beli kopi! Besok saya kasih lebih banyak kalau JP lagi!"
"Huuuh... gacor, gacor!"
Pria itu pergi, menerobos hujan tanpa peduli lagi pada dingin.
Dia merasa sudah menaklukkan dunia.
Uang merah itu tergeletak di atas kaca.
Bagi Janus, itu bukan uang.
Itu belanja dapur yang hilang, barang gadaian yang tidak kembali, dan air mata orang-orang kalah.
Janus mengambil korek api gas dari samping keyboard-nya.
Dia menjepit satu lembar uang itu, lalu menyalakan apinya. Cahaya oranye memantul di mata Janus yang dingin.
Lembar pertama jadi abu.
Lalu satu lagi.
Lalu satu lagi.
Bau kertas dan tinta terbakar memenuhi ruangan sempit itu.
Satu juta rupiah.
Habis di asbak.
Setelah lembar terakhir jadi abu, Janus meniupnya.
Abu hitam itu terbang, sebagian menempel di kaca etalase, mengotori bayangan wajahnya sendiri.
Janus tidak mengelapnya. Ia membiarkan noda abu itu ada di sana, di antara dirinya dan dunia luar yang berisik.
Di luar, hujan makin deras.
Dan di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara motor matic yang knalpotnya kasar.
SURAT BERANTAI SETAN
Malam semakin larut. Lampu neon di atas kepala Janus berkedip, mengeluarkan desis tipis.
Janus duduk bersandar, menatap pantulan wajahnya di kaca etalase.
Di laci meja, abu uang yang ia bakar tadi siang masih tertinggal—sebuah bukti pemberontakan yang sia-sia.
Janus tahu siapa dirinya.
Bukan pencipta.
Penjaga gerbang.
Orang-orang datang membawa lehernya sendiri.
Pintu itu tetap dibuka.
Itu cukup.
Untuk tidur.
Hujan reda, tapi tidak dengan konflik batinnya.
Ia bangkit dan mematikan lampu utama. Kini hanya tersisa cahaya biru pucat dari layar monitor; daftar nama dan angka transaksi yang tampak seperti daftar nama orang-orang yang telah ia bantu untuk terjun ke jurang.
Janus keluar dan menggembok gerbang besinya.
Klang.
Suaranya berat, mengunci semua itu di dalam Tempest.
Di depan gerbang yang sudah terkunci, Janus menatap tangannya sendiri di bawah lampu jalan yang remang.
Tangannya bersih, tidak ada apa pun.
Tapi ia mengusapkan tangan itu ke celananya berkali-kali, seolah ada kotoran yang tidak bisa hilang.
Air masih sedikit menggenang di aspal. Di ujung jalan, lampu konter lain masih menyala.
Janus menyalakan rokok. Menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan ke udara malam.
Ia mendongak ke langit yang masih menyimpan sisa mendung.
Ia menunduk.
TAKUT.
.
.
.
Di atas sana… tidak ada etalase.
Ia berjalan pulang. Langkahnya pelan, diseret oleh beban yang tidak terlihat.
Besok pagi, ia akan kembali, memutar kunci, dan akan dipaksa menyaksikan kehancuran yang tidak bisa ia hentikan.
Karena di dunia ini... yang tidak bisa ditukar tidak dihitung.
Di sini, topeng tidak bertahan lama.
Janus duduk di balik kaca itu.
Yang datang bukan lagi wajah. Hanya angka.
Di bawah lampu neon yang berdesing, ia melihat Ibu Ratna. Tangannya gemetar saat mengeluarkan lembaran sepuluh ribu yang sudah lecek dan lembap karena keringat.
"Isi pulsa lima ribu saja, Nak. Mau telepon anakku di rantau."
Janus tidak bertanya.
Nomor itu dipanggil empat kali sejak pagi.
Dia butuh.
Lalu ada Si Pemuda. Matanya merah, tidak pernah menatap Janus. Dia tidak beli kuota untuk belajar atau bekerja.
"Top-up, Mas. Dua ratus ribu," ucapnya pendek.
Uang itu bukan miliknya.
Diambil dari bawah bantal ibunya.
Janus menekan tombol Enter.
"Klik".
Sesuatu dikencangkan… pelan.
Saldo di layar HP-nya kembali nol.
Dan angka itu diam.
Pemuda itu tertawa kecil. Tertawa yang tidak sampai menjadi suara penuh.
Hidup di depan etalase tidak selalu soal darah dan air mata.
Kadang ada Pak Haji yang berdiri bingung selama sepuluh menit hanya untuk menatap mesin ATM di pojok konter.
"Nak, kenapa ini mesin tidak mau keluar uangnya?"
"Pin-nya sudah benar, Pak?" tanya Janus.
"Pin apa itu? Saya cuma tekan tanggal lahir cucu saya."
Di sana, salah dan tidak tahu berdiri berdampingan.
Yang satu hancur di layar. Yang satu tersesat di depannya.
Semua lewat.
Bapak-bapak dengan rahasia murah.
Anak sekolah dengan mimpi seharga skin.
Tidak ada yang berhenti.
Orang bilang konter pulsa.
Janus melihat orang datang… lalu pelan-pelan habis.
Di balik kaca, alasan mereka berbeda.
Angkanya sama.
Tidak ada yang ikut kenyang.
Selama ada kaca, dia merasa aman.
Sampai ia ingat: kaca tidak selalu bertahan.
Ketika itu pecah, lumpur dan kemiskinan yang marah masuk—menelan siapa saja di dalamnya.
Termasuk dirinya.
FREKUENSI YANG BOCOR
Janus menyalakan sebatang rokok, asapnya tertahan di balik etalase, menciptakan kabut tipis yang membungkus wajahnya.
Matanya tetap tertuju pada jalan raya di depan konter.
Jalanan menangkap semua suara. Tidak pernah menyimpannya.
"Kak Janus! Gantengnya kalau lagi bengong begitu!"
Suara melengking itu datang dari sekumpulan anak SMA yang baru pulang sekolah.
Mereka lewat sambil tertawa-tawa, seragamnya rapi, wangi parfum supermarket tercium sampai ke meja Janus.
Janus hanya mengangguk.
Mereka memanggil. Lalu lewat.
Tak lama setelah tawa mereka menjauh, sebuah motor bebek tua dengan knalpot yang bocor melambat saat melewati polisi tidur di depan Tempest.
Di atasnya, sepasang suami istri duduk berdempetan.
"...ndak ada jalan lain, Pak. Kalau cuma berharap dari sawah, kita tidak bisa bayar itu utang bank," suara si istri terdengar di sela deru mesin.
Pas tepat di depan etalase Janus, motor itu tersentak karena lubang jalan. Suara si suami meninggi. "Tapi siapa yang jaga anak-anak kalau kau ke luar negeri? Kau pikir jadi TKW gampang?!"
Motor itu lewat.
Kalimatnya tertinggal... setengah.
Si istri terdiam, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang kaku.
Saat motor itu kembali melaju, suara mereka mengecil, sampai akhirnya hilang ditelan tikungan.
Mereka lewat tanpa berhenti.
Lalu, hening yang aneh tiba-tiba datang.
Hening itu robek oleh deru mesin yang halus namun bertenaga.
Sebuah mobil hitam mewah melintas pelan.
Kaca gelapnya memantulkan jalan.
Sekilas—warna abu-abu bergerak di dalam.
Janus tidak tahu siapa di dalamnya.
Tidak perlu.
Mobil itu lewat tanpa suara.
Hanya angin yang tertinggal.
Debu jalanan beterbangan, lalu menempel di kaca etalasenya.
Janus mengambil kain lap kusam.
Ia membersihkan kaca itu perlahan.
Menghapus jejak si mobil mewah dari kacanya sampai bersih.
Janus melihat bayangan mobil itu menjauh di ujung jalan.
Ia berdeham.
Meludah ke aspal.
Cuih!.
Janus kembali duduk.
Meraih rokok yang sudah mendingin, membiarkan dunianya kembali sunyi.
SETORAN TERAKHIR
Ma'at datang saat hujan baru saja reda, menyisakan bau aspal basah yang tajam.
Dia masuk ke Tempest dengan jaket kuning yang sudah pudar warnanya, membawa tas pinggang yang tampak berat—penuh dengan tumpukan uang kertas ribuan dan lima ribuan yang sudah kumal.
Uang COD.
Dari balik etalase, Janus hanya mengangguk tipis. Ia kenal Ma'at.
"Setor lagi, At?" tanya Janus sambil jarinya menari di atas keyboard.
Ma'at mengeluarkan tumpukan uang itu.
"Iya, Nus. Berat. Capek. Banyak yang bayar pakai uang receh, ada juga yang marah-marah karena paketnya telat."
Janus mulai menghitung. Lembar demi lembar.
Di mata Janus, uang itu bukan cuma alat tukar. Dia melihat kuman, aroma minyak goreng dari warung, dan duka dari pemilik aslinya.
Di antara tumpukan uang setoran Ma'at, ada satu lembar sepuluh ribu dengan noda darah kering di pojoknya.
Ma'at tidak sadar, tapi mata Janus yang tajam menangkapnya.
"Tadi ada Ibu-ibu nangis pas terima paketnya," Ma'at bercerita.
"Isinya sepatu sekolah. Dia bayar pakai tabungan koinnya."
Janus berhenti.
Matanya tetap di monitor.
Tapi bukan di sana.
Jari kelingkingnya mengetuk keyboard dua kali, lalu menyodorkan selembar struk kecil ke atas etalase.
Ma'at menerimanya lalu memakai helm.
"Semoga dunia masih utuh besok pagi, Nus."
Janus tidak menjawab. Matanya tidak berpindah.
Di monitor, hanya ada satu baris tulisan: TRANSAKSI BERHASIL.
API DI BALIK KACA
Hujan hari ini seperti tidak punya niat untuk berhenti.
Sejak subuh, langit hanya memberikan warna abu-abu yang mati.
Air mengalir pelan di depan Tempest, membawa plastik bekas dan daun kering.
Janus duduk diam.
Konter sepi.
Hanya suara hujan di atap seng, beradu dengan kipas angin komputernya yang berdesing pelan.
Pelanggan bisa dihitung jari, itu pun hanya mereka yang terpaksa keluar karena kuota habis di tengah bosan.
Sampai akhirnya, seorang pria masuk dengan napas memburu.
Bajunya basah kuyup, tapi matanya menyala-nyala seperti orang kesurupan.
Dia menunjukkan layar HP-nya yang masih menampilkan animasi koin emas yang berjatuhan.
"Tarik, Nus! Tarik semua! Jackpot!" teriaknya parau. tangannya gemetar hebat.
Di layar itu: Tiga puluh juta rupiah.
Uang yang baru saja dimuntahkan mesin—dari terlalu banyak orang lain.
Janus memprosesnya dengan tenang.
Tanpa selamat, tanpa senyum.
Dia mengeluarkan tumpukan uang dari brankas kecilnya. Merah. Tiga ratus lembar uang seratus ribu yang masih kaku.
Pria itu menyambar uangnya seperti hewan lapar. Dia tertawa lepas, tawa yang terdengar mengerikan di tengah sunyinya hujan.
Kemudian, dia mencabut sepuluh lembar—satu juta rupiah—dan melemparkannya ke atas etalase kaca Janus.
"Ini buat kau, Nus! Beli rokok! Beli kopi! Besok saya kasih lebih banyak kalau JP lagi!"
"Huuuh... gacor, gacor!"
Pria itu pergi, menerobos hujan tanpa peduli lagi pada dingin.
Dia merasa sudah menaklukkan dunia.
Uang merah itu tergeletak di atas kaca.
Bagi Janus, itu bukan uang.
Itu belanja dapur yang hilang, barang gadaian yang tidak kembali, dan air mata orang-orang kalah.
Janus mengambil korek api gas dari samping keyboard-nya.
Dia menjepit satu lembar uang itu, lalu menyalakan apinya. Cahaya oranye memantul di mata Janus yang dingin.
Lembar pertama jadi abu.
Lalu satu lagi.
Lalu satu lagi.
Bau kertas dan tinta terbakar memenuhi ruangan sempit itu.
Satu juta rupiah.
Habis di asbak.
Setelah lembar terakhir jadi abu, Janus meniupnya.
Abu hitam itu terbang, sebagian menempel di kaca etalase, mengotori bayangan wajahnya sendiri.
Janus tidak mengelapnya. Ia membiarkan noda abu itu ada di sana, di antara dirinya dan dunia luar yang berisik.
Di luar, hujan makin deras.
Dan di kejauhan, sayup-sayup terdengar suara motor matic yang knalpotnya kasar.
SURAT BERANTAI SETAN
Malam semakin larut. Lampu neon di atas kepala Janus berkedip, mengeluarkan desis tipis.
Janus duduk bersandar, menatap pantulan wajahnya di kaca etalase.
Di laci meja, abu uang yang ia bakar tadi siang masih tertinggal—sebuah bukti pemberontakan yang sia-sia.
Janus tahu siapa dirinya.
Bukan pencipta.
Penjaga gerbang.
Orang-orang datang membawa lehernya sendiri.
Pintu itu tetap dibuka.
Itu cukup.
Untuk tidur.
Hujan reda, tapi tidak dengan konflik batinnya.
Ia bangkit dan mematikan lampu utama. Kini hanya tersisa cahaya biru pucat dari layar monitor; daftar nama dan angka transaksi yang tampak seperti daftar nama orang-orang yang telah ia bantu untuk terjun ke jurang.
Janus keluar dan menggembok gerbang besinya.
Klang.
Suaranya berat, mengunci semua itu di dalam Tempest.
Di depan gerbang yang sudah terkunci, Janus menatap tangannya sendiri di bawah lampu jalan yang remang.
Tangannya bersih, tidak ada apa pun.
Tapi ia mengusapkan tangan itu ke celananya berkali-kali, seolah ada kotoran yang tidak bisa hilang.
Air masih sedikit menggenang di aspal. Di ujung jalan, lampu konter lain masih menyala.
Janus menyalakan rokok. Menghisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan ke udara malam.
Ia mendongak ke langit yang masih menyimpan sisa mendung.
Ia menunduk.
TAKUT.
.
.
.
Di atas sana… tidak ada etalase.
Ia berjalan pulang. Langkahnya pelan, diseret oleh beban yang tidak terlihat.
Besok pagi, ia akan kembali, memutar kunci, dan akan dipaksa menyaksikan kehancuran yang tidak bisa ia hentikan.
Karena di dunia ini... yang tidak bisa ditukar tidak dihitung.
____
Arc Utama
LOGISTIK DARAH: NUSANTARA ORIGINAL
Spin-off
