LOGISTIK DARAH: NUSANTARA ORIGINAL

Ilustrasi.
(PART 4: Barisan Tunggul Padi yang Membara)

Cerpen
Oleh: A-06

Layar ponsel menyala hampir bersamaan, seolah kota ini punya satu saraf yang sama.

Sebuah video pendek berdurasi sepuluh detik—buram, diambil dengan tangan gemetar—tersebar di ribuan grup percakapan kurir.

Di video itu, Ma’at tidak terlihat seperti pahlawan.
Ia terlihat seperti mesin.

Suara jepret stapler besar yang menembus daging dan meja kayu terdengar jelas—disusul jeritan melengking pria buncit.

Kabar itu menjalar lebih cepat dari paket kilat.
"Ma'at pecah," bisik mereka—bukan panik, tapi seperti kabar yang sudah lama ditunggu.

"Kurir Sektor 01 sudah bergerak."

Tanpa komando. Tanpa janji pertemuan.
Urat nadi logistik kota itu mulai berdenyut aneh.

Satu demi satu motor matic keluar dari gudang sortir.
Bukan untuk mengantar barang.
Tapi untuk mencari sosok jaket pudar di video itu.

Ma’at mengendarai motornya melewati gang sempit, menjauh dari titik terakhir kejadian.

Ia terus melaju.
Tidak menoleh.

Tidak sadar… bahwa bayangannya sudah bertambah.

Ia bukan lagi sekadar kurir yang kelelahan.
Ia adalah Resi yang berjalan.

Dan di belakangnya, ratusan "tunggul padi" siap terbakar, mengikuti jejak bannya yang hitam.

Setiap kali ia melirik spion, pemandangan itu tetap sama:
barisan motor matic dengan jaket kusam terus membuntutinya.

Dengung knalpot mereka menyatu.
Panjang. Menekan.

Mereka tidak bicara.
Hanya mengikuti.

Seolah arah mereka sudah hilang…
dan menempel pada punggung Ma’at.

Ma’at mengerem mendadak di tengah jalan yang mulai retak.
Ban belakangnya berdecit, meninggalkan garis hitam.

Ia turun.
Berbalik.

Menatap ratusan kurir yang ikut berhenti seketika.

Tidak ada yang mematikan mesin.
Suara knalpot tersisa seperti napas yang ditahan terlalu lama.

"Kenapa kalian mengikuti saya?"

Suara Ma’at tajam. Membelah kesunyian.

Tidak ada jawaban.

Ma’at meludah ke aspal.

Matanya menyapu mereka satu per satu—penuh jijik.

"Kalian pengecut.
Terlalu takut untuk berdiri sendiri.
Jadi kalian sembunyi di punggung orang lain.

Pergi.
Kalian cuma hambatan di rute saya."

Hinaan itu telak.

Beberapa kurir tertunduk.
Bukan karena malu—tapi karena kena.

Namun tidak ada yang berbalik.

Mereka justru merapat.

Satu motor di barisan belakang sempat mundur setengah ban.
Lalu berhenti lagi.

Seolah hinaan itu… bahan bakar.

Ma’at mendengus.
Naik kembali ke motornya.

Ia tidak peduli lagi.

Ia melaju ke kawasan yang lebih rapi—
gerbang besi tinggi, rumah-rumah mewah yang tertutup rapat.

Di setiap gerbang yang ia lewati, Ma’at melempar paket kecil tanpa nama.

Isinya: sisa dari dunia yang tidak pernah mereka lihat.

Awalnya hanya Ma’at.
Satu paket.
Satu gerbang.

Lalu satu orang ikut.
Lalu dua.

Sampai tidak ada lagi yang tahu siapa yang mulai.

Massa di belakangnya menggila.

Tanpa perintah.
Tanpa arah.

Mereka ikut melempar.

Tidak peduli ke mana.
Tidak peduli siapa yang kena.



Ma’at berhenti di jalan protokol yang luas.

Di sana, seorang pria berdiri menyandar pada motor besar.
Mesinnya masih berdesis halus.

Pakaiannya taktis. Bersih.
Bertolak belakang dengan Ma’at yang berdebu.

"Ma'at," katanya, nada dibuat ramah, mata tetap dingin.

"Kau menciptakan kekacauan yang tidak perlu.

Kami bisa memberimu posisi yang lebih baik.
Kami butuh orang sepertimu di dalam 'Dapur'.

Bukan di jalanan kumuh seperti ini.

Pikirkan masa depanmu.
Kau mau mati sebagai kurir miskin…
atau hidup sebagai bagian dari kami?"

Ia terus bicara.
Janji. Ancaman.
Semua dicampur rapi.

Ma’at tidak menjawab.

Ia turun dari motor.
Tenang.

Seolah pria itu… hanya tiang listrik di jalannya.

Ia merogoh tas.
Mengeluarkan paket retur yang sobek di ujungnya.

Ia membuka paket itu.

Perlahan.

Bau menyengat langsung pecah di udara.

Isinya: gumpalan tahi sapi kering.

Si Pembersih tidak mundur.
Orang seperti dia terbiasa melihat kekacauan sebagai sesuatu yang bisa disusun ulang.

Ma’at melangkah maju.

Santai.
Dingin.

Tanpa ragu.

Si Pembersih mulai goyah.
Tangannya bergerak ke senjata di pinggang.

"Kau pikir aku takut dengan itu?"

Terlambat.

Ma’at sudah lebih dulu bergerak.

Kepalannya menghantam—
tahi sapi itu dipaksa masuk ke mulut si Pembersih.

Bukan sekadar pukulan.

Ia menekan.
Masuk.

Dalam.

Pria itu tersedak hebat.

Matanya berubah.

Bukan karena sakit—
tapi karena kendali itu hilang.

Ma’at mencengkeram kerah bajunya.
Menariknya mendekat.

Hidung mereka hampir bersentuhan.

"Makan itu," bisik Ma’at.

Suaranya pelan.
Lebih mengerikan dari mesin rusak.

"Itu satu-satunya hidangan yang pantas…
untuk mulut yang terlalu banyak bicara tentang kemakmuran di atas penderitaan orang lain."

Ma’at melepasnya.

Menendang motor besar itu hingga terguling.

Di belakangnya, massa terdiam.

Beberapa bersuara.
Lebih banyak yang diam.

Menunggu arah…
yang tidak pernah mereka punya.

Ma’at tidak menoleh.

Perjalanannya belum selesai.

Tangannya sedikit gemetar.
Tapi gasnya tetap ditarik.

Alamat terakhir masih ada di depan.

Dan ia tidak akan berhenti—
sampai paket terakhir benar-benar sampai ke tujuan.

Related

POLMAN 4472946664459372183

Post a Comment

emo-but-icon

FOKUS METRO SULBAR

BERITA Populer Minggu Ini

item