LOGISTIK DARAH: NUSANTARA ORIGINAL
![]() |
| Ilustrasi. |
Ma'at masih duduk di atas motor. Ia membiarkan suara mesin yang kasar menjadi musik latar yang menjemukan bagi perdebatan ini. Matanya menatap layar ponsel si ibu yang jarinya penuh cincin mencolok menunjukkan angka 27.890.
"Pembulatan, Bu. Sistem tarik dua puluh delapan ribu. Saya tidak punya recehan," jawabnya datar. Suaranya kering, seolah debu jalanan sudah permanen mengendap di tenggorokannya.
"Ah, alasan! Kamu kurir atau tukang palak? Seribu perak itu uang juga!" Si ibu mendengus, membanting pagar besi rumahnya yang tinggi sambil terus mengomel soal kejujuran.
Ma'at tidak membalas. Ia hanya menatap nanar ke arah pagar yang tertutup rapat.
Di kepalanya, sebuah perbandingan muncul tanpa diundang: Orang ini ribut sampai urat lehernya keluar demi selisih seribu perak, sementara beberapa kilometer dari sini. Di dalam gedung-gedung mewah itu, nol-nol panjang di belakang miliaran, hilang ditelan bayangan, dan tidak ada satu pun dari mereka yang berteriak "nipu".
Dunia ini memang sakit. Rakyatnya hobi baku hantam demi recehan yang jatuh di aspal, tapi buta saat lumbung mereka dikuras habis lewat pintu belakang.
Ma’at baru saja menarik gas pelan saat sebuah motor memotong jalurnya tanpa lampu sein. Ia menarik rem sedalam-dalamnya hingga bannya berdecit di atas aspal panas.
Pengendara itu berhenti, menoleh dengan wajah tanpa dosa. Di kepalanya tidak ada helm, hanya sebatang rokok yang asapnya menari mengejek Ma’at.
"Woi! Mau mati kah?!" teriak pengendara itu, lebih galak dari seekor anjing penjaga.
Ma’at membuka kaca helmnya sedikit, menatap mata orang itu dengan kekosongan yang mengerikan. "Jalanan ini tidak butuh lampu sein kalau kamu merasa duniamu sudah kiamat besok pagi," ucap Ma’at tenang.
"Tapi ingat, saat kamu mati karena kebodohanmu sendiri, jangan bawa-bawa takdir. Takdir itu untuk yang berpikir, bukan yang memindahkan otaknya ke knalpot."
Pengendara itu tertegun, kehilangan kata-kata. Ma’at kembali menutup kaca helmnya dan berlalu, meninggalkan si pengendara tolol yang masih mematung di tengah jalan.
Ma'at memacu motornya perlahan, mengantar paket demi paket, membelah jalanan aspal yang mulai retak. Ia melewati pemukiman padat di mana suara televisi tetangga saling beradu dengan tangisan bayi dan bau asap pembakaran sampah. Semuanya terdengar seperti dengung statis yang kosong.
Angin sore bertiup lebih kencang, membawa aroma tanah basah dan sisa pembakaran jerami yang menusuk. Ma’at menepikan motornya di bahu jalan yang sepi. Ia butuh jeda sebelum benar-benar pulang dan menghadapi sisa harinya yang tak kalah busuk.
Langit sore itu berwarna kelabu tua, menggantung rendah seolah ingin menjepit bumi. Matahari sudah lama menyerah, menyisakan cahaya remang yang membuat segalanya tampak seperti mayat.
Ia duduk di atas pembatas beton yang sudah berlumut, menyulut sebatang rokok, lalu menatap hamparan sawah yang baru saja usai dipanen.
Sawah itu kosong.
Yang tersisa hanya tunggul-tunggul kering yang mencuat dari tanah yang mulai retak.
Sama seperti negeri ini.
Bulirnya diperas, akarnya diisap, lalu ditinggalkan.
"Besok, mereka akan membakar semuanya," bisik Ma'at pelan. "Dan menyebut abunya sebagai berkah."
*
Ma’at kembali menghidupkan mesin motor. Namun, saat ia melintasi jalanan yang rusak, dunianya mulai bergeser. Lalu tumpang tindih.
Bau jerami busuk pelan-pelan berubah menjadi aroma tajam bahan kimia dan debu gedung tua.
Di spionnya, ia tidak lagi melihat bayangan jalanan kumuh, melainkan barisan pria berseragam taktis yang menyeret sosok-sosok berdasi.
Motornya oleng ke kiri, hampir saja mencium tepian parit—sepersekian detik terlalu lambat untuk disebut refleks. Klakson nyaring sebuah mobil menyentaknya kembali ke aspal kasar.
Ia berkeringat dingin. Namun, tarikan gasnya terasa berbeda—lebih berat, seolah ia tidak lagi membonceng tas paket, melainkan tumpukan resi nyawa yang harus segera diantar.
Ia memacu motornya. Bukan ke rumah, tapi menuju gedung besar yang di matanya kini menyala merah pekat. 0% Eliminasi.
Di depan gerbang tinggi gedung "Dapur", dua penjaga berseragam safari membentaknya. Ma'at tidak bicara. Ia memacu motornya, menabrak barisan pembatas jalan. Dua penjaga itu ambruk; lutut mereka berputar balik dengan bunyi krak kering.
Ma'at masuk ke lobi utama. Ban motornya meninggalkan jejak hitam di atas lantai marmer mahal.
Di dalam, pria berperut buncit itu sedang panik. Ia tidak cuma memegang koper, dia sedang mengunyah dokumen-dokumen penting, mencoba menghilangkan barang bukti. Wajahnya merah padam, keringatnya berbau alkohol dan ketakutan.
"Siapa kamu?!" pekik pria itu.
Ma’at turun dari motor. Ia tidak bicara. Ia berjalan. Setiap langkahnya seperti dentum martil di ruangan kedap suara.
Ma'at mencengkeram kerah kemeja pria itu, lalu menghantamkan wajah pria itu ke atas meja jati yang penuh dengan uang suap.
Brak!
Hidung pria itu hancur, darah kental merembes ke tumpukan uang kertas.
"Ini bukan perampokan," Ma'at berbisik tepat di telinga pria yang merintih itu. "Ini pengembalian aset. Dan aset pertama yang harus dikembalikan adalah nyawamu."
Ma'at mengeluarkan jarum suntik itu. Ia tidak menyuntikkannya pelan-pelan. Ia menusukkannya tepat di pangkal leher, menekan tuasnya dengan jempol yang kuat.
Cairan biru itu masuk ke dalam pembuluh darah. Seketika, pria itu kejang hebat. Matanya melotot hingga urat-urat merahnya pecah.
Sistem mulai menghitung semua uang yang pernah ia curi.
Setiap rupiah yang ia telan berubah menjadi berat nyata di dalam sel-sel tubuhnya. Pria itu merasa tubuhnya mendadak seberat berton-ton baja. Lantai marmer di bawahnya retak karena tidak sanggup menahan beban "dosa" fisik pria tersebut.
"Satu miliar pertama untuk tulang rusukmu," Ma'at menatap dengan mata dingin yang tak berkedip.
Krak! Dada pria itu amblas ke dalam, remuk oleh tekanan gravitasi buatannya sendiri.
"Sepuluh miliar sisanya untuk jantungmu."
Pria itu meledak dari dalam. Bukan ledakan api, tapi tubuhnya menciut, hancur menjadi serpihan debu hitam yang padat di atas tumpukan uang yang kini kembali bersih dari noda darah.
"Sektor 01: Tereliminasi. Massa dosa telah dimurnikan."
Ma'at tidak berhenti. Ia bergerak ke gedung Koperasi. Kali ini gerakannya lambat, namun pasti—seperti algojo yang sedang menunaikan ritual kuno.
Ia menghantam pintu kaca, membiarkan serpihan kristal itu menancap di kulit para pejabat yang sedang tertawa.
"Siapa kamu?! teriak pemimpin mereka, seorang pria tua dengan gigi emas yang berkilau.
Ma'at turun dari motor. "Saya kurir. Datang untuk menagih bunga kalian," suara Ma'at terdengar berat.
"Bunga apa?! Kami tidak punya hutang!"
"Kalian punya hutang keringat pada petani, hutang air mata pada janda yang rumahnya kalian sita, dan hutang nyawa pada mereka yang bunuh diri karena bunga mencekik kalian."
Pemimpin mereka mencoba lari, tapi kakinya dipaku ke lantai oleh jarum-jarum "resi" yang ditembakkan otomatis dari sarung tangan Ma'at.
"Tanda tangan di sini," bisik Ma'at sambil menekan kepala si gigi emas ke atas meja. Tubuh pria itu terpilin, hancur,...
SEKETIKA, GELAP.
Ma'at tersentak. Matanya terbuka lebar, menatap langit-langit kamar kosnya yang penuh noda rembesan air hujan. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi kaus oblongnya yang sudah tipis.
Ia tidak berada di gedung koperasi mewah. Ia berada di atas kasur lantai yang bau apek.
"Woi! Kamu ini kerjaannya main judi saja! Beras habis, anak belum bayar sekolah, kamu malah mabuk!"
Suara teriakan melengking dari balik dinding triplek menyentak kesadaran Ma'at. Di luar, suara piring pecah beradu dengan makian kasar.
Tetangganya sedang melakukan "ritual" harian: baku hantam soal uang seribu dua ribu yang hilang di meja judi, sementara sisa kompleks mulai ramai dengan bisik-bisik tetangga yang lebih suka menonton daripada menolong.
Ma'at duduk di pinggiran kasur, memijat pelipisnya. Ia teringat kejadian sore tadi.
Motornya yang sempat oleng di jalanan sepi, klakson mobil yang menyalak, dan bagaimana ia ambruk di atas kasur ini begitu sampai rumah karena kelelahan yang tidak manusiawi.
Ma'at menghela napas panjang, menatap tangannya yang kapalan di bawah lampu bohlam yang remang.
Tidak ada kekuatan magis.
Hanya ada sisa debu puluhan paket yang menghitam terselip di bawah kukunya—kotoran yang nyata, bukan abu dari tubuh koruptor yang ia hancurkan dalam mimpi.
Ia menyadari satu hal yang lebih menyakitkan daripada kelelahannya: dunia ini tidak akan bersih hanya dengan angan-angan.
Amarahnya, visinya tentang Nusantara Original, dan bayangannya soal keadilan mutlak, hanyalah cara otaknya bertahan agar tidak gila di tengah kenyataan yang tidak pernah memihak pada orang seperti dia.
Ia kembali merebahkan diri, menutup telinga dari suara keributan tetangganya.
Di luar, malam tetap bising, tetap busuk, dan tetap tidak peduli.
