In Memoriam HZB Palaguna: Jaga "Siri na Pace" Bugis-Makassar



Menjelang tahun 1990, ketika Zainal Basrie Palaguna  menjabat anggota DPR RI dari Fraksi ABRI, sejatinya dia dikirim menjadi salah seorang Komandan Resor Militer (Danrem) di Cirebon. Tetapi Jenderal Rudini yang menjabat Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) waktu itu memandang perlu pria kelahiran Enrekang 9 Maret 1939 ini harus pulang ke Sulawesi. Walau tidak persis di kampung halamannya di bagian selatan, tetapi di bagian tengah. 

Sebagai orang baru di Provinsi Sulawesi Tengah, pekerjaan pertama Basrie  adalah menjalin silaturahim. Ini juga merupakan cara memperbanyak teman dan sahabat. Para tokoh pun ditemuinya. Mulai dari gubernur, mantan gubernur, pemuka masyarakat, tetua adat, tokoh pemuda sampai khalayak biasa. Bahkan termasuk preman, ia akrabi semua. Tidak heran dia sangat dekat dan karib dengan masyarakat dan para tokohnya.

Sambil menyambangi para tokoh masyarakat, termasuk orang-orang Bugis yang sudah beranak pinak di lubuk Sulawesi itu, Basrie pun ingin : menertibkan orang Bugis demi menjaga harga dan harkat "siri na pace". Tempat berkumpul dan bekerja mereka pun disambangi. Yang dipenjara pun dibesuknya.

Sekali waktu, marahnya sedikit tak terkendali saat bertemu dengan orang Bugis-Makassar yang melakukan kesalahan, padahal dia sudah berbilang kali melakukan pendekatan persuasif. Begitulah ketika dia berhadapan dengan salah seorang penyelundup yang berasal dari “selatan” istilah yang merujuk pada daerah Sulawesi Selatan. Penyelundup itu tertangkap oleh petugas Polwil Sulteng. 

"Kau datang dari mana?," kata Basrie  ketika  menyambangi sel tahanan Polwil Sulteng, tempat  sang  penyelundup disekap.

"Dari selatan, Pak," sahut seorang pria di balik jeruji besi, bersamaan dengan bunyi tongkat komando melabrak kepalanya.

"Ampun, Pak!," dia mendesis.
"Ampun apa? Kau bikin malu orang selatan, ya? Kau bikin malu saya. Bikin malu saudara-saudaramu di sini," semprot Basrie dengan suara meninggi yang mengundang Kolonel Polisi Guntara yang Kapolwil segera maju melerai.

"Sudah, Pak. Ini  tanggung jawab saya, Pak," ujar Guntara yang segera memeluk Basrie.

Basrie tidak peduli. Tongkatnya berbicara seiring dengan bunyi gemeretuk giginya karena menahan marah. Wajahnya memerah. Matanya seolah menyala.  

"Sudah, Pak. Nanti kami yang urus," kata Guntara sambil memerintahkan si penyelundup tersebut dikurung secara ketat.

Begitulah cara Basrie menjaga dan menegakkan harga diri orang Bugis Makassar di tanah rantau. Jika ada pencuri yang tertangkap dan ternyata dari "selatan", dia akan memberinya pelajaran. Dia mudah marah jika mengetahui orang "selatan" terlibat dalam kasus oencurian, perampokan, dan penyelundupan. Dia akan memberi mereka hukuman dengan cara tongkatnya akan melayang ke kepala yang bersangkutan.  Setelah itu dia memberi nasihat kepadanya.
"Jangan permalukan daerahmu di daerah orang lain," bunyi nasihatnya selalu dan dia kerap memberi hadiah kepada mereka yang berbuat terpuji.

Kadar Humor

Basrie meskipun terlihat tegas dan disiplin, tetapi memiliki selera humor yang tinggi Di kantor Korem Tadulako, sedikitnya ada tujuh personel tentara pangkat kopral siap siaga. Mereka itu bukan piket, melainkan anak buahnya yang selalu "ngekor" ke mana pun Basrie pergi. Gara-gara tujuh orang ini, tak seorang pun yang berani masuk bertemu Danrem sembarangan. Pasti mereka tahan. Malah ditempeleng. 
Sekali waktu ada seorang kapten dari Kodim mau bertemu Danrem dan sangat perlu. Para penjaga itu menjelaskan, komandan sibuk. Tak boleh diganggu. 

"Kau ini apa?," hardik sang Kapten yang tak menerima begitu saja keterangan tentara kopral  itu sembari hendak melayangkan pukulan.

"Kita so bilang. Komandan sibuk, ngana masih bagini-bagini. Kapten apa ini, kapten tai," kata mereka sembari tangan salah seorang di antaranya menghantam muka sang Kapten dan membuatnya tumbang ke lantai. Suasana  riuh.

Adri, salah seorang dari ketujuh pengawal itu, masuk ke ruang kerja Danrem hendak melapor.

"Ada apa, Adri?," tanya Basrie melihat salah seorang pengawal nongol dari balik pintu.  

"Ada barang jatuh, Pak," jawab Adri – tentu saja berbohong. Basrie juga melihat tidak apa-apa, kecuali seorang kapten saja di luar dan memanggilnya.

"Alangkah bodoh kau ini melawan kopral!," semprot Basrie.
"Itu bajingan semua, Pak," sahut sang Kapten.

"Tapi omong yang biasa. Jangan kasar sama  anak-anak itu. Begini saja. Kapten kira-kira mau tempeleng orang?," ujar Basrie.

"Siap !!!!," balas sang Kapten tegas dan Basrie pun segera memerintahkan si Kapten melakukan apa yang disebutnya itu kepada tujuh tentara tersebut.  Basrie juga ingin memberi pelajaran pada anak-anak buahnya yang dianggap kurang ajar.

Kapten pun keluar dan menggilir semua yang menjaga di pintu dengan telapak tangannya satu demi satu kemudian pergi.

"Ah, bodoh. Gara-gara ngana, kini kita so kena ‘tampiling samua’," gerutu salah seorang di antara mereka dengan logat Manado-Palu kental.

Mereka tidak marah, sebab sudah tahu berikutnya akan mendapatkan uang dari sang komandan. 

Sekali waktu, Basrie memanfaatkan Adri untuk melakukan suatu ‘drama” di depan kantornya. Harapannya, mereka bisa dipanggil komandan dan membagikan uang.

"Oe.. ngana masuk!," kata Adri.

"Ada apa?," balas Lumohin salah seorang temannya. 

“Dipanggil komandan,” kata Adri yang tanpa komando dua kali Lumohin lenyap dari depan kantor masuk ke ruang kerja Basrie.

“Lumohin, siap!,” lapornya.

“Ada apa?,” kata Basrie setengah acuh sambil mengangkat wajahnya dari lembaran-lembaran kertas di atas mejanya.

“Ada perintah, supaya saya masuk!,” balas Lumohin.

“Siapa yang perintah?,” tanya Basrie.

“Adri!”

“Adri? Malah justru Adri yang saya minta datang. Bukan kamu!”.

"Baik, Komandan. Saya keluar," sahut Lumohin kemudian lenyap dari depan Basrie diikuti munculnya Adri setelah menerima pemberitahuan Lumohin. 

"Siappppp!. Apakah saya dipanggil, Pak!?," lapor Adri.

"Tak pernah saya panggil kau!," kata Basrie dan begitulah cara dia menciptakan suasana lucu di kalangan anak buahnya.

Koramil Panjat Atap Kantor 

Pada waktu yang lain, di Donggala ada Koramil yang terbilang bandel. Orang “selatan” juga.  Basrie pun melakukan inspeksi mendadak (sidak). Di kantor Koramil, seorang pun tak kelihatan batang hidungnya. Yang ada hanya topi berjejer di atas meja.

Ke rumah sang Danramil, Basrie pun menyambanginya. Yang dicari pun tidak ada. Sang istri Danramil dengan sedikit ragu mengatakan mungkin suaminya  sedang ke belakang. Setelah dicari ke tempat yang dimaksud, juga tidak ada. Dicari-cari pun tidak ada. Basrie pun memanggil sang supirnya.  

Basrie kemudian meminta  supir mengumpulkan semua helm, dan sepatu, kopel rim, dan memerintahnya melemparkan barang-barang itu ke atap. Danramil pun kemudian disuruh cari. Dari jauh sang Danramil bersama anak buahnya melihat  Danrem tegak tersenyum-senyum lalu bergeser kembali  kantor Koramil.

“Itu ngana pe topi, ngana pe sepatu sudah di atas atap. Kumpul!,” seru Basrie diikuti Danramil dan anggotanya berkumpul.

“Di mana sepatu kau,” Basrie bertanya kepada Danramil yang kebetulan orang Barru.

“Tenai, Karaeng,” jawabnya dalam bahasa Makassar yang berarti “tidak ada”.

“Komandan apa ‘anne’.’Apa nualle ri pelabuhanga’ (komandan apa ini. Apa yang kau ambil di pelabuhan),” semprot Basrie dalam bahasa Makassar.

“Tenaja, Karaeng, Kandalakka, Karaeng. Tidak ada,Komandan. Sumpah, Karaeng,” balas Danramil dengan muka permohonan agar tidak dihukum.

“Apa yang kau pakai?”.

Sandala ja. Hanya sandal, Komandan!”.

“Kau panjat itu anu......,”kata Basrie sambil menunjuk ke atap, tempat sepatu, helm, dan kopel rim bertengger. 

"Silakan kalian ambil semua barang-barangmu di atas sana tanpa pakai tangga," titah Basrie yang diikuti anak buahnya memanjati dinding kantor dan langsung memakai perlengkapannya setiba di atap.

Kisah yang dikutip dari Roman Biografi H.Z.B.Palaguna “Jangan Mati dalam Kemiskinan” dan diterbitkan Lembaga Penerbitan (Lephas) Unhas.

Diterbitkan untuk mengenang HZB Palaguna (kelahiran 9 Mei 1939) yang berpulang ke rakhmatullah pukul 16.15 Wita, 2 Oktober 2019.

Almarhum adalah mantan, Kasdam V Jaya, Danrem 142 Tadulako, Wagub Sulsel, Pangdam VII Wirabuana, Gubernur Sulsel (1993-2003), dan Ketua DPD I PDI-P Sulawesi Selatan. Dia meninggalkan istri Hj Normi Palaguna dan beberapa orang anak serta cucu. 

Disadur dari M. Dahlan Abubakar

BERITA LAINNYA

NASIONAL 8337595402670372237

Komentar Anda

emo-but-icon

VIRAL MINGGU INI

item