LOGISTIK DARAH: NUSANTARA ORIGINAL

Ilustrasi.

(Bagian 3: Verifikasi Darah di Sektor 01)

Cerpen
Oleh: A-06

Ma’at bangun dengan rasa mual yang pekat. Badannya terasa pegal luar biasa, seolah-olah ia baru saja memikul beban berton-ton sepanjang malam. 

Sendi-sendinya kaku, dan setiap gerakan kecil memicu rasa nyeri yang menusuk di punggungnya. 

Bau amis dokumen terbakar dari mimpinya semalam masih terasa menempel di kerongkongannya, pahit dan tidak mau hilang.

Ia tidak membuang waktu untuk merenung. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan, ia menghidupkan motor matic-nya yang sudah mulai ringkih dan berangkat menuju gudang sortir.

​Kondisi gudang pagi itu lebih panas dari biasanya. Puluhan kurir berdiri mengerumuni meja administrasi dengan wajah tegang.

"Tidak bisa begitu, Pak! Kami sudah kerja sampai jam dua pagi, kenapa insentifnya dipotong lagi?" teriak salah satu kurir junior yang badannya kurus kering.

​Di belakang meja kayu besar yang mengkilap, berdiri seorang pria paruh baya dengan perut buncit yang selalu memakai parfum menyengat untuk menutupi bau keringat orang-orang yang bekerja di bawahnya. 

Namanya tidak penting, tapi wajahnya sangat mirip dengan pria yang kepalanya ia tekan ke meja dalam mimpinya semalam.

​"Itu aturan kantor. Kalian kalau tidak mau, ya silakan berhenti. Masih banyak orang di luar sana yang antre mau kerja di sini," sahut pria itu sambil asyik mengorek kuku pakai kunci mobil barunya.

​Ma'at berdiri di barisan belakang. Ia tidak ikut berteriak. Ia hanya menatap tengkuk pria buncit itu. 

Dunianya terasa sunyi, seolah suara makian kurir lain hanyalah dengung statis yang jauh.

​Tas paket Ma'at yang besar masih tersampir di bahu. Di dalamnya, ada satu paket retur yang berat: sebuah benda logam dekoratif yang gagal kirim.

​Ma'at melangkah maju. 

Ia tidak lari. 

Ia berjalan dengan ritme yang lambat dan pasti. 

Rekan-rekannya menyingkir, bukan karena hormat, tapi karena mereka melihat tatapan Ma’at kosong—kemuakan yang sudah mengeras.

​"Ma'at! Mau apa kamu? Kembali ke barisan!" bentak si pria buncit, mulai merasa ada yang tidak beres.

​Ma'at berhenti tepat di depan meja. Ia merogoh tasnya, mengeluarkan benda logam berat itu, lalu meletakkannya tanpa suara di atas meja kayu yang bersih.

​BRAK!

​Meja itu bergetar.

​"Pak," suara Ma'at sangat rendah, nyaris tidak terdengar di tengah kebisingan. "Tadi malam saya bermimpi. Saya membereskan orang yang sangat mirip Bapak. Dan di mimpi itu, saya tidak butuh alasan administrasi untuk melakukannya."

​Pria itu tertawa gugup, mencoba mencari dukungan dari kurir lain. "Kamu gila ya? Mabuk kau?"

​Ma'at tidak membalas tawa itu. Ia justru meraih sebuah stapler besar yang ada di meja. Lalu ia mencengkeram tangan pria buncit itu dan memanteknya ke atas meja kayu tersebut.

​JEPRET!

Setelah suara itu, tidak ada yang bergerak.

Seolah gudang itu lupa cara bernapas.

​"ARGHHHH!"

​Jeritan itu pecah, menggema di seluruh gudang yang mendadak sunyi senyap. Darah merembes ke atas dokumen potongan insentif yang berserakan. 

Ma'at menatap mata pria itu.

​"Pembersihan..." bisik Ma'at pelan, "dimulai dari yang paling dekat."

Seorang kurir di sisi kanan reflek melangkah maju, tangannya terangkat setengah—seolah ingin menarik Ma’at menjauh. Tapi begitu mata mereka bertemu, langkah itu mati di tempat. Tangannya turun pelan, seperti lupa apa yang tadi ingin ia lakukan.

Di dekat rak sortir, seorang kurir lain mundur tanpa sadar, tumitnya tersandung kardus paket di belakangnya. Kardus itu jatuh, isinya tumpah ke lantai dengan suara berantakan yang terlalu keras untuk ruangan yang tiba-tiba sunyi.

Tidak ada yang berani bergerak lagi.

​Ada sesuatu yang lebih mengerikan.

Ada aura dari Ma’at yang membuat mereka merasa bahwa siapapun yang bergerak, akan menjadi "paket" berikutnya.

​Ma’at menatap tangannya yang sedikit terciprat darah, lalu perlahan beralih menatap pria yang masih merintih kesakitan itu. 

Tidak ada dendam di matanya, hanya ketenangan yang gila.

​Tanpa sepatah kata pun, Ma’at memutar tubuhnya. Ia menyampirkan kembali tas paketnya yang berat ke bahu dengan gerakan yang sangat presisi. 

Ia berjalan membelah kerumunan kurir. Mereka mundur teratur, menciptakan lorong sunyi seolah-olah sedang memberi jalan bagi seorang malaikat maut yang sedang lewat.

​Langkah kaki Ma’at terdengar mantap di atas lantai gudang yang berdebu. 

Ia melewati satpam yang masih terpaku, menatap lurus ke depan tanpa sekali pun menoleh ke belakang.

​Begitu sampai di parkiran, ia menaiki motor matic-nya. Mesin menyala dengan suara kasar yang biasa, namun di telinga Ma’at, suara itu terdengar sangat sinkron dengan detak jantungnya. 

Ia menarik gas pelan, keluar dari area gudang dengan kecepatan rendah.

Baginya, tugas di sektor ini sudah selesai.

Resinya sudah terverifikasi dengan darah.

​Di belakangnya, seseorang akhirnya berani bergerak—terlambat.

Dunia baru berani panik setelah punggungnya menjauh.

Ma’at memacu motornya dengan kecepatan rendah. Ia membiarkan angin panas jalanan menerpa wajahnya yang masih kaku. Rasa pegal di pundaknya seolah menguap, digantikan oleh sensasi dingin yang menjalar ke seluruh tubuh.

​Ia terus berkendara hingga jalur jalan raya melebar, melewati sebuah kawasan dengan pengamanan berlapis. 

Di sana, bangunan "Dapur" itu berdiri dengan angkuh. Dindingnya kokoh, catnya masih segar, dan bendera di depannya berkibar seolah tanpa beban. 

Bangunan yang di dalam mimpinya semalam ia ratakan dengan tanah.

​Ma’at menepikan motornya tepat di seberang gerbang utama. Ia tidak turun. Ia hanya duduk diam di atas jok, mesin motornya yang batuk-batuk kecil seolah sedang menghina kesunyian gedung mewah itu.

​Ma’at menatap pilar-pilar besar gedung itu dengan mata menyipit.

"Kalian terlalu sibuk mempercantik piring..." Ia berhenti. Menelan sesuatu yang pahit. "...sampai lupa isinya sudah busuk."

Ia menarik napas dalam. Udara dari arah gedung itu masuk ke paru-parunya.

Aroma “kemakmuran” itu manis… lalu membusuk di ujung tenggorokan.

Seperti bangkai yang dipaksa harum oleh parfum mahal.

Ma’at meludah ke arah aspal di depan gerbang.

Cairannya jatuh pendek. Kental.

Tidak banyak. Sekering yang tersisa di dalam dirinya.

Ia menatap bekas ludah itu sesaat, lalu mengangkat kembali pandangannya.

"Silakan lanjut pesta kalian," gumamnya. "Selama masih ada yang mau pura-pura lapar... dan bangga dengan perannya."

Angin lewat pelan. Tidak membawa apa-apa.

"Akan ada waktunya..." jedanya lama, "...tidak ada lagi yang cukup bodoh untuk mencuci kotoran kalian."

Matanya naik sedikit, menatap ke bagian atas gedung yang seolah tak punya ujung.

"Terlalu tinggi," bisiknya. "Suara dari bawah... tidak pernah sampai."

Sunyi.

"...atau mungkin memang tidak mau didengar."

Ma’at menarik gas sedikit. Mesin bergetar.

"Lihat saja nanti."

Related

POLMAN 4904201099158652920

Post a Comment

emo-but-icon

FOKUS METRO SULBAR

BERITA Populer Minggu Ini

item