SISA DI SELA GIGI
https://www.fokusmetrosulbar.com/2026/05/sisa-di-sela-gigi.html
Bagian dari semesta
Logistik Darah: Nusantara Original
Logistik Darah: Nusantara Original
Seragamnya tidak boleh lecek.
Sepatu botnya harus mengkilap.
Hitam. Keras.
Namanya Vadhana.
Tugasnya sederhana.
Menjaga agar jalanan tetap "bersih".
Bersih dari debu.
Bersih dari orang-orang yang banyak bicara.
Bersih dari kurir-kurir yang tidak tahu diri.
Ia suka suara tongkat kayunya saat beradu dengan aspal.
Tuk.
Tuk.
Itu suara kekuasaan.
Hari itu, matahari terlalu terik.
Ia berdiri di barisan depan.
Menghadang arus jaket kusam yang mulai liar.
Ia tidak takut.
Baginya, mereka bukan manusia.
Hanya inventaris yang rusak.
Lalu, kurir itu datang.
Ma'at.
Ia tidak membawa senjata.
Hanya langkah kaki yang berat dan mata yang… kosong.
Ia tidak berhenti.
Tidak ragu.
Vadhana baru mau bergerak saat tekanan itu datang.
Dunia mendadak berputar.
Lantai jalanan terasa dingin di pipinya.
Berat.
Tangannya terkunci.
Napasnya tertahan di aspal.
Dan bau itu datang.
Tajam.
Amis.
Busuk.
Sesuatu yang hangat dan kasar dipaksa masuk ke mulutnya.
Ia mencoba memberontak.
Ia mencoba menutup rapat giginya.
Sia-sia.
“Makan.”
Suara itu pelan.
Tapi lebih keras dari ledakan gas air mata.
Ia tersedak.
Lumpur cokelat itu mengisi setiap celah di mulutnya.
Kotoran sapi.
Di sela-sela rasa mual yang hebat, ia mendengar tawa.
Bukan dari Ma’at.
Dari teman-temannya sendiri.
Dari atasannya yang menonton lewat layar.
Satu menit yang menghancurkan seumur hidupnya.
Ma’at pergi.
Kerumunan bubar.
Ia tertinggal sendirian di aspal.
Muntah.
Menangis tanpa suara.
Malamnya, ia berdiri di depan cermin kamar mandi.
Ia menyikat giginya berulang kali.
Gusinya berdarah.
Mulutnya penuh busa putih bercampur merah.
Tapi rasa itu tidak hilang.
Bau itu seolah sudah pindah ke dalam kepalanya.
Ia menatap seragamnya yang tergantung di pintu.
Hitam.
Gagah.
Tapi baginya, seragam itu sekarang cuma kain pembungkus sampah.
Ia duduk di lantai kamar mandi.
Badannya gemetar.
Bukan karena marah.
Karena sadar.
Bahwa selama ini, tugasnya bukan membersihkan jalanan.
Gagah.
Tapi baginya, seragam itu sekarang cuma kain pembungkus sampah.
Ia duduk di lantai kamar mandi.
Badannya gemetar.
Bukan karena marah.
Karena sadar.
Bahwa selama ini, tugasnya bukan membersihkan jalanan.
Tapi menjadi tempat sampah bagi orang-orang di atasnya.
Ia mengambil ponselnya.
Ia cari video yang sedang viral itu.
Sepuluh detik.
Video yang sama yang ditonton Rian.
Video yang sama yang mengganggu Aurelia.
Lalu...
Notifikasi berbunyi.
Sebuah video pendek masuk.
Ia melihat dirinya sendiri.
Sujud.
Mengunyah kotoran.
Ia tertawa kecil.
Tawa yang pecah jadi tangisan.
Lampu kamar mandi mendadak mati.
Senyap.
Bau kotoran sapi itu hilang.
Terganti aroma alkohol yang menusuk.
Vadhana berkedip.
Ia tidak lagi duduk di lantai ubin yang lembap.
Ia terbaring di atas ranjang besi yang dingin.
Ruangan itu putih.
Putih yang mutlak.
Sangat bersih sampai-sampai matanya terasa perih.
Di sampingnya, seseorang berdiri.
Pria berbaju abu-abu.
Wajahnya tenang.
Sangat tenang.
Ia tidak bicara.
Hanya menatap Vadhana dengan sebuah senyuman.
Senyum yang aneh.
Seperti senyum seorang bapak yang melihat mainan anaknya yang sudah patah.
Vadhana mencoba bicara.
Tapi lidahnya kaku.
Pria itu bergerak pelan.
Sangat sopan.
Sangat teratur.
Sambil bersiul, ia merapikan kerah bajunya.
Sudah rapi.
Tetap dirapikan.
Lalu, tangannya yang terbungkus sarung tangan karet meraih sebuah spuit.
Vadhana melihat cairan bening di dalamnya.
Pria berbaju abu-abu itu menunduk.
Senyumnya makin lebar, tapi matanya tetap dingin.
Ia menyuntikkannya ke lengan Vadhana.
Perlahan.
Vadhana merasa dadanya mendadak ringan.
Rasa amis di sela giginya pelan-pelan lenyap.
Di sudut ruangan, sebuah layar TV menyala tanpa warna.
Seorang pembawa berita bicara dengan nada profesional.
“Situasi nasional terpantau stabil.”
“Indeks kebahagiaan warga meningkat tajam bulan ini.”
“Pemerintah menjamin kelancaran arus logistik tanpa kendala.”
Vadhana menatap plafon putih itu.
Suara berita itu makin jauh.
Pelan.
Samar.
Lalu... tidak ada apa-apa lagi.
Pria berbaju abu-abu berbalik.
Berjalan menjauh dengan langkah tak terdengar.
Bersiul.
Meninggalkan Vadhana dalam kesunyian steril.
Negara sedang baik-baik saja.
*
Ada yang hancur di jalan.
Ada yang selesai di dalam kepala.
Di luar, semua berjalan seperti biasa.
Di dalam... selesai.
Lalu... tidak ada apa-apa lagi.
Pria berbaju abu-abu berbalik.
Berjalan menjauh dengan langkah tak terdengar.
Bersiul.
Meninggalkan Vadhana dalam kesunyian steril.
Negara sedang baik-baik saja.
*
Ada yang hancur di jalan.
Ada yang selesai di dalam kepala.
Di luar, semua berjalan seperti biasa.
Di dalam... selesai.
____
Arc Utama
LOGISTIK DARAH: NUSANTARA ORIGINAL
Spin-off
