SISA DI SELA GIGI

Ilustrasi.
A-06

Bagian dari semesta
Logistik Darah: Nusantara Original

Seragamnya tidak boleh lecek.

​Sepatu botnya harus mengkilap.
Hitam. Keras.

​Namanya Vadhana.
​Tugasnya sederhana.
Menjaga agar jalanan tetap "bersih".

​Bersih dari debu.
Bersih dari orang-orang yang banyak bicara.
Bersih dari kurir-kurir yang tidak tahu diri.

​Ia suka suara tongkat kayunya saat beradu dengan aspal.

Tuk.
Tuk.

​Itu suara kekuasaan.

​Hari itu, matahari terlalu terik.
Ia berdiri di barisan depan.
Menghadang arus jaket kusam yang mulai liar.

​Ia tidak takut.
Baginya, mereka bukan manusia.
Hanya inventaris yang rusak.

​Lalu, kurir itu datang.

Ma'at.

​Ia tidak membawa senjata.
Hanya langkah kaki yang berat dan mata yang… kosong.

Ia tidak berhenti.
Tidak ragu.

​Vadhana baru mau bergerak saat tekanan itu datang.

Dunia mendadak berputar.

​Lantai jalanan terasa dingin di pipinya.
Berat.

​Tangannya terkunci.
Napasnya tertahan di aspal.

​Dan bau itu datang.

​Tajam.
Amis.
Busuk.

​Sesuatu yang hangat dan kasar dipaksa masuk ke mulutnya.

​Ia mencoba memberontak.
Ia mencoba menutup rapat giginya.

​Sia-sia.

​“Makan.”

Suara itu pelan.
Tapi lebih keras dari ledakan gas air mata.

​Ia tersedak.

Lumpur cokelat itu mengisi setiap celah di mulutnya.

​Kotoran sapi.

​Di sela-sela rasa mual yang hebat, ia mendengar tawa.
Bukan dari Ma’at.
Dari teman-temannya sendiri.

​Dari atasannya yang menonton lewat layar.

​Satu menit yang menghancurkan seumur hidupnya.

​Ma’at pergi.
Kerumunan bubar.

​Ia tertinggal sendirian di aspal.
Muntah.
Menangis tanpa suara.

​Malamnya, ia berdiri di depan cermin kamar mandi.
Ia menyikat giginya berulang kali.

​Gusinya berdarah.
Mulutnya penuh busa putih bercampur merah.

​Tapi rasa itu tidak hilang.

​Bau itu seolah sudah pindah ke dalam kepalanya.

​Ia menatap seragamnya yang tergantung di pintu.

Hitam.
Gagah.

​Tapi baginya, seragam itu sekarang cuma kain pembungkus sampah.

​Ia duduk di lantai kamar mandi.
Badannya gemetar.

​Bukan karena marah.
Karena sadar.

​Bahwa selama ini, tugasnya bukan membersihkan jalanan.

Tapi menjadi tempat sampah bagi orang-orang di atasnya.

​Ia mengambil ponselnya.
Ia cari video yang sedang viral itu.

​Sepuluh detik.

​Video yang sama yang ditonton Rian.
Video yang sama yang mengganggu Aurelia.

Lalu...

Notifikasi berbunyi.
Sebuah video pendek masuk.

​Ia melihat dirinya sendiri.
Sujud.
Mengunyah kotoran.

​Ia tertawa kecil.
Tawa yang pecah jadi tangisan.

​Lampu kamar mandi mendadak mati.

​Senyap.

​Bau kotoran sapi itu hilang.
Terganti aroma alkohol yang menusuk.

​Vadhana berkedip.

​Ia tidak lagi duduk di lantai ubin yang lembap.
Ia terbaring di atas ranjang besi yang dingin.

​Ruangan itu putih.

​Putih yang mutlak.
Sangat bersih sampai-sampai matanya terasa perih.

​Di sampingnya, seseorang berdiri.
Pria berbaju abu-abu.

​Wajahnya tenang.
Sangat tenang.
​Ia tidak bicara.
Hanya menatap Vadhana dengan sebuah senyuman.

​Senyum yang aneh.

​Seperti senyum seorang bapak yang melihat mainan anaknya yang sudah patah.

​Vadhana mencoba bicara.
Tapi lidahnya kaku.

​Pria itu bergerak pelan.
Sangat sopan.
Sangat teratur.

Sambil bersiul, ia merapikan kerah bajunya.
Sudah rapi.

Tetap dirapikan.

​Lalu, tangannya yang terbungkus sarung tangan karet meraih sebuah spuit.

​Vadhana melihat cairan bening di dalamnya.

​Pria berbaju abu-abu itu menunduk.
Senyumnya makin lebar, tapi matanya tetap dingin.

​Ia menyuntikkannya ke lengan Vadhana.

​Perlahan.

​Vadhana merasa dadanya mendadak ringan.
Rasa amis di sela giginya pelan-pelan lenyap.

​Di sudut ruangan, sebuah layar TV menyala tanpa warna.

​Seorang pembawa berita bicara dengan nada profesional.

“Situasi nasional terpantau stabil.”

​“Indeks kebahagiaan warga meningkat tajam bulan ini.”

​“Pemerintah menjamin kelancaran arus logistik tanpa kendala.”

​Vadhana menatap plafon putih itu.

​Suara berita itu makin jauh.

​Pelan.

Samar.

Lalu... tidak ada apa-apa lagi.

​Pria berbaju abu-abu berbalik.
Berjalan menjauh dengan langkah tak terdengar.

Bersiul.

​Meninggalkan Vadhana dalam kesunyian steril.

​Negara sedang baik-baik saja.


*
Ada yang hancur di jalan.
Ada yang selesai di dalam kepala.

Di luar, semua berjalan seperti biasa.
Di dalam... selesai.

____
Arc Utama
LOGISTIK DARAH: NUSANTARA ORIGINAL

Spin-off

Related

POLMAN 7081283086928050323

Post a Comment

emo-but-icon

FOKUS METRO SULBAR

BERITA Populer Minggu Ini

item