ORANG YANG BERDEBAT DENGAN LANGIT

A-06

Bagian dari semesta
"Logistik Darah: Nusantara Original"


Ilustrasi.
M
alam itu belum hujan.

Tapi pria di atas panggung sudah lebih dulu menghela napas panjang sambil memegang kitab tebal berdebu.

Wajahnya tenang.
Terlalu tenang.

Jenis wajah yang biasanya muncul lima menit sebelum orang-orang mulai kehilangan akal sehat bersama-sama.

“Barusan…” katanya pelan.

Hening.

“…saya debat lagi sama penghuni atas.”

Jamaah langsung diam.

Di samping panggung, dua polisi mengangguk kecil seperti baru mendengar analisis ekonomi tingkat tinggi.

Seorang tentara bahkan terlihat mencatat sesuatu di buku kecilnya.

Lucu.

Negara ini memang ajaib.

Kadang orang paling waras justru terlihat paling sendirian.

Pria itu bernama Guru Hamdan.

Atau setidaknya… itu nama yang dipakai bulan ini.

Sebelum membuka padepokan spiritual, ia pernah menjadi:
penjual minyak herbal, motivator sukses, ahli pengganda rezeki, konsultan aura wajah, dan pernah jadi caleg sebelum kalah dengan selisih yang terasa personal.

Sekarang, pengikutnya memanggilnya:
Penjaga Gerbang Cahaya.

Namanya terdengar mahal.
Tempat tinggalnya tidak.

Panggungnya berdiri di lapangan bekas pasar seng yang separuh tiangnya miring.

Spanduk besar di belakangnya bertuliskan:

MALAM PEMBUKAAN TABIR LANGIT

Huruf emasnya mulai mengelupas kena hujan minggu lalu.

Guru Hamdan mengangkat satu kitab besar.

“Kitab ini…”

BRAK.

Kitab itu dibanting ke meja.

Jamaah langsung menunduk khidmat.

“…bahasanya berat.”

Tangis kecil mulai terdengar dari barisan depan.

Kitab kedua diangkat.

BRAK.

“Yang ini lebih berat lagi.”

Seorang ibu-ibu gemetar sambil memegangi dadanya.

Panitia mulai sibuk membagikan air minum yang katanya sudah “didoakan langsung.”

Padahal tadi sore galonnya dibeli di warung samping tambal ban.

Guru Hamdan membuka kitab ketiga.
Tidak dibaca.
Hanya dibuka pelan.
Ditatap lama.

Jamaah mulai menahan napas.

Lalu ia berdeham.

"Ahlam... burham... syaflam... kh..."

Suaranya terdengar seperti batuk yang tersedak di tengah jalan.

Tidak jelas.

Tidak juga terdengar seperti bahasa mana pun.

Tapi beberapa jamaah langsung menangis.

Guru Hamdan menutup kitab itu perlahan.

“Bahasa atas memang tidak bisa dipahami semua orang.”

BRAK.

“Semangat?”

“SEMANGAT!!” jawab ribuan jamaah.

Padahal tidak ada yang tahu semangat untuk apa.

Di belakang panggung, panitia berkeringat sambil menghitung uang donasi.

Cepat sekali bertambah.

Manusia memang lebih rela membayar harapan… daripada menerima kenyataan.

Guru Hamdan menatap langit malam.

“Malam ini hujan akan turun.”

Langit masih kosong.

Bahkan bintang masih terlihat jelas.

Seorang wartawan muda di dekat pagar mulai menahan tawa.

Ia datang untuk membuat konten lucu.
Awalnya.

Tapi semakin lama ia melihat kerumunan itu…
semakin aneh rasanya.

Karena yang datang bukan cuma orang putus asa.

Ada:
mahasiswa,
pegawai bank,
ibu rumah tangga,
pengusaha kecil,
ojek online,
bahkan beberapa wajah yang terlalu rapi untuk disebut jamaah biasa.

Di negeri yang terlalu lama rusak, orang akhirnya percaya pada siapa saja yang terdengar yakin.

Guru Hamdan menutup matanya.

“Tadi penghuni atas bilang…”

Hening total.

“…manusia di bawah sudah terlalu berisik.”

Seseorang langsung menangis.

Tidak jelas karena tersentuh…
atau memang hidupnya sudah terlalu berat.

Tiba-tiba dari barisan tengah, seorang pria jatuh pingsan.

Jamaah geger.

“SUBHAN—”

Panitia cepat mengangkat tubuh pria itu.

“Tenang!” teriak salah satu panitia.

“Itu biasa! Tubuhnya belum siap menerima getaran!”

Polisi di samping panggung ikut mengangguk serius.

Wartawan muda itu menatap kosong.

Ia mulai tidak yakin siapa yang paling aneh malam ini.

Guru Hamdan kembali bicara.

“Banyak orang tidak percaya saya.”

Ia tersenyum tipis.

“Padahal langit saja masih sering menghubungi saya.”

Tangis makin pecah.

Seseorang di belakang bahkan mulai menjual foto Guru Hamdan dalam bingkai kecil.

Lima puluh ribu satu.

Seratus ribu dapat bonus stiker.

Angin mulai turun.

Pelan.

Dingin.

Wartawan muda itu melihat ke arah barat.

Awan gelap memang sudah bergerak dari tadi.

Satu tetes air jatuh ke pipinya.

Lalu hujan benar-benar turun.

Kerumunan langsung meledak.

Tangis.
Teriakan.
Orang-orang berebut mendekati panggung.

Seorang polisi hampir jatuh karena ikut terdorong jamaah yang ingin menyentuh ujung jubah Guru Hamdan.

Guru Hamdan sendiri tetap diam.

Tenang.

Seperti semua ini memang sudah ia rencanakan.

Padahal ramalan cuaca sudah memprediksi hujan sejak sore.

Tapi manusia jarang peduli penjelasan…
saat mereka sedang membutuhkan keajaiban.

Di kejauhan, di dalam mobil hitam tanpa plat depan, seorang wanita berkacamata tipis menonton siaran itu lewat tablet.

Wajahnya tetap datar.

“Berbahaya?” tanya suara dari dalam panggilan.

Ia diam beberapa detik.

Matanya masih melihat ribuan orang yang menangis di bawah hujan.

Lalu pelan sekali:

“Belum.”

Hening.

“Tapi orang yang bisa membuat manusia berhenti berpikir…”

Ia mematikan tablet.

“…biasanya tidak lama lagi akan dekat dengan dapur.”

____
Arc Utama
LOGISTIK DARAH: NUSANTARA ORIGINAL

Spin-off


Related

POLMAN 9157749683741758665

Post a Comment

emo-but-icon

FOKUS METRO SULBAR

BERITA Populer Minggu Ini

item